The Magic of Kadikoy

“Iste Boyle, Her Sene Boyle!” That was written on the banner shown by the fanatic fans of Fenerbahce just after Cuneyt Cakir blew his final whistle last Sunday. With a giant picture of a muscular Canary, which you will never see in real life, and a Lion which half of its body buried in the grave, Fenerbahce fans wanted to deliver a message and confirmation that it is the same every single year, well at least for the last 16 years, that Galatasaray were never able to grab 3 points from Kadikoy.

In this point, I know that some Galatasaray fans would argue that they do not really care about that fact since they have lifted the League’s trophy in Kadikoy 3 years ago, something that generally used by them to counter the (now) 16 years mockery of winless Galata in Kadikoy. For your information, Kadikoy itself is not the name of Fenerbahce’s stadium, it is the name of the district where the stadium (Sukru Saracoglu) is. Additionally, it is well-known among Turkish football fans that it would take more than just fighting spirit and brilliant tactics to defeat Fenerbahce in Kadikoy, you will also need a great amount of luck.

The atmosphere before the match was thrilling though. Before the players came out from the tunnel, a super big banner hanged behind one of the goals with the classic yet legendary words, “This is Kadikoy!” written on it. That was a “warm” greeting from Fenerbahce fans to their fiercest rival. Both teams started the match with a high tempo, as expected in the derby, but it was the visitor who took the initiative by creating some good chances in the first 20 minutes. It only took 4 minutes for Cim Bom (Galatasaray’s nickname) to make Fenerbahce fans hold their breath for a while. Started with a crossing by Alex Telles, the ball which cleared by Egemen Korkmaz unintentionally reached Selcuk Inan who was unmarked. The Galatasaray captain who saw an empty goal then fired a shot which forced Volkan Demirel to do a super flying save.

A high defensive line plus stretching the field tactics applied by Ismail Kartal in the first minutes was exploited by Galatasaray who were actually without Felipe Melo and Semih Kaya due to injury. In the 11’ minute, the offside trap by Fener’s back four was broken by Burak Yilmaz who only had Volkan to beat in a one-on-one situation. But unfortunately that beautiful through pass by Umut Bulut was wasted by Burak who could not lob the ball into the net.

After a bad 20 minutes, Fenerbahce slow but sure were able to control the match. Led by Diego Ribas in the middle and supported by Turkey’s best Right Back (Gokhan Gonul) and Left Back (Caner Erkin) from the flanks, the Canary started to dominate the match and look for the opening goal. Started by a shot on goal by Dirk Kuyt in 22’, they repeatedly tested Fernando Muslera who played quite well that night. Despite having some good chances, both sides failed to change the score until the break.

By the start of the second half, Galatasaray newly appointed manager, Hamza Hamzaoglu, forced to sub out Hakan Balta who got an injury and put a newbie in the derby, Koray Gunter on the pitch. This substitution made Fenerbahce became more aggressive and intense in the attack as they wanted to exploit the inexperience Center Back. The tempo itself was not declining in the second half, both sides were keeping the high pace which made the match simply too good to be missed.

Fenerbahce got at least three golden chances to open the score which two of it was wasted by Kuyt. The first one was in 51’ when he was not able to tap in a good pass by Emmanuel Emenike, whilst the second was his failure to blast the ball into the net in a free position after Emre Belozoglu’s free kick hit the bar. Another great chance for Fener was the strike from Moussa Sow which brilliantly tipped off by Muslera in 54’. Galata who was under pressure also had some chances, but they all long-range shots from outside the box which could easily smothered by Volkan, except for that one fired by Hamit Altintop.

More than 50.000 crowds finally went crazy when Kuyt paid his debt by scoring the winning goal in 81’. Started by a long pass by Mehmet Topal, Kuyt who were in the left-wing controlled the ball and moved to the right before hitting a powerful shoot just outside the penalty area to the bottom corner of the goal, 1-0. Galatasaray reacted instantly and almost got the equalizer 2 minutes later by the chance created by Yasin Oztekin, but unfortunately his effort and the hopes of Galatasaray fans was crushed by another sensational save by Volkan.

The strike from the Holland forward was the only goal until Cuneyt Cakir, who displayed a good job as a referee that night blew his final whistle. The attacking mentality carried by Fenerbahce players since the very beginning, effective substitutions in the second half made by Ismail Kartal and the support fom the 12th man helped Fenerbahce to continue their tradition against Galatasaray in Kadikoy. Special credit should be given to Volkan Demirel who kept a clean-sheet with some super saves and Mehmet Topal who was successfully minimize the space for Wesley Sneijder to organize every attacking play of Galatasaray.

For Fenerbahce, they are not only decrease the gap to 1 point with Galatasaray, but they also got their confidence back after losing 5 points in the last 2 matches. Furthermore, they succeed to take the heart of their fans with that performance. Now we might (again) see a Fenerbahce home match with tens of thousands fans cheering for them.

With this result, Galatasaray who suffered their first defeat under the guidance of Hamza Hamzaoglu, still seat at the top of the table by having the same points with Besiktas (52 points) but are better in goal differences, while Fenerbahce fill the top three with a single point difference.

A neutral football fans should be happy with this result because it provided a more competitive race between Galatasaray, Besiktas and Fenerbahce in Turkish Super League, something that we have never seen in the past years.

Keluhan Kecerdasan Pemain

Atribut penting seorang pemain bola tidak hanya terletak pada teknik, stamina, dan power saja. Seorang pemain juga harus bisa mengoptimalkan kinerja otaknya. Salah satu hal mengapa kaum manusia dinyatakan memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya tak lain karena otak, atau dalam kata lain akal. Memang belum ada manusia yang sanggup memaksimalkan kinerja otak seratus persen. Tapi tanpa otak, manusia akan seperti robot yang bergerak monoton, tidak ada improvisasi dan adaptasi.

Otak sendiri juga memiliki peran yang vital dalam proses belajar, baik itu skill atau teknik baru maupun pemahaman akan strategi yang diterapkan oleh pelatih. Seseorang yang bisa memaksimalkan kinerja otak akan bisa meningkatkan skill secara pesat saat dibarengi dengan latihan dan bimbingan.

Menurut saya ada dua tipe pemain, pemain yang bermain dengan otak dan tanpa otak. Perbedaan dua tipe pemain ini pun terlihat jelas ketika berada pada pertandingan. Pemain tanpa otak hanya akan mengejar kemana bola berlari tanpa melakukan analisis dan mengatur startegi. Sementara itu, pemain dengan otak akan bermain tenang sembari menganalisis dan mengatur strategi, meminimalisir kelemahan dan mengoptimalkan keunggulan. Bayangkan sekarang, jika satu tim berisikan pemain tanpa otak permaianan mereka akan berantakan seperti ayam-ayam mengejar satu makanan.

Baik, kita terlahir dengan multiple intelligence, yaitu visual-spatial, bodily-kinesthetic, musical, interpersonal, intrapersonal, lingusitic, logical-mathematical. Namun sejalan dengan waktu multiple intelligence ini runtuh satu per satu karena kurangnya penggunaan di beberapa intelligence dan tersisa hanya di intelligence yang sering digunakan.

Rahasia pengembangan intelligence adalah dengan game bukan dengan instruksi latihan. Pelatih sepakbola mengembangkan intelligence para pemainnya dengan cara mengaplikasikan permainan dengan situasi yang berbeda, sehingga memaksa para pemain untuk mengambil keputusan cepat dan mengubahnya ke dalam sebuah aksi.

Pelatih sendiri bisa memberikan sebuah pertanyaan yang telah didesain untuk sebuah game dengan lapangan kecil sehingga mereka bisa menemukan jawaban atas pertanyaan pelatih didalam game kecil itu. Dengan begini lah, bukan dengan mematuhi terus menerus instruksi pelatih, para pemain bisa mengembangkan intelligence mereka dalam permaianan.

Seperti apa itu pemain ber-intelligence:

  • Memahami bagaimana membaca situasi permainan dalam waktu yang cepat, menganalisis dan memecahkan dengan cepat.
  • Mengetahui kapan dan kemana harus memberikan umpan dan kapan tidak.
  • Selalu tenang meskipun berada dalam situasi yang sulit.
  • Menggunakan pengalamannya untuk menakomodasikan ruangan yang tersedia baginya dan merubah jarak antara dirinya dengan teman sendiri maupun lawannya.
  • Berani untuk mengambil resiko, tapi mengetahui bagaimana menyeimbangkan resiko dengan keamanan.
  • Menggunakan teknik dan skillnya untuk keuntungan tim.

Sungguh, tanpa mengurangi rasa cinta dan hormat saya, sepak bola Indonesia membutuhkan pemain yang dapat menggunakan otaknya. Dan hal ini hanya bisa terwujud dengan pembenahan sistem pengembangan para pemain. Sistem ini bisa diadopsi dari negara-negara eropa maupun asia seperti Jepang atau Korea Selatan. Tapi tetap harus dibarengi dengan tenaga kerja yang competent.

Sepak Bola Palestina – Sepak Bola Menolak Menyerah

Akhir pekan ini akan menggembirakan sepak bola Asia karena tim-tim terbaik di negara Asia akan berlaga dalam kejuaraan Piala Asia. Ajang empat tahunan yang diikuti oleh 16 negara ini akan diselenggarakan di negara Australia dan akan dimulai pada tanggal 9 Januari dan berakhir di tanggal 31 Januari. Pemberitaan tentang ajang terbesar sepakbola Asia di portal web sepak bola sepi di negara Indonesia karena timnas kita konsisten tidak ikut serta sejak tahun 2011.

Situasi amat berbeda dengan negara Palestina yang untuk pertama kalinya sukses lolos masuk ke Piala Asia karena menjuarai ajang AFC Challenge, sebuah ajang semacam kulifikasi yang memerebutkan satu tiket piala Asia lewat turnament yang diikuti oleh negara-negara yang sepak bolanya dianggap tertinggal di Asia. Palestina secara gagah mengalahkan tim “bertabur naturalisasi”, Filipina, di final lewat gol semata wayang Ashraf Nu’man di menit 59 dan sekaligus membuat pemain yang bermain di klub Al-Faisaly FC (Harmah) Arab Saudi menjadi pencetak gol terbanyak di turnament tersebut. Berkat kemenangan tersebut Palestina mendapatkan jatah tampil di putaran final Piala Asia; sebuah hal mewah yang tidak terjangkau oleh sebuah timnas yang belum lama ini kalah 4-0 dari Filipina, tim nasional Indonesia.

Setelah berhasil memastikan diri lolos sebagai salah satu peserta putaran final Piala Asia timnas Palestina justru menghadapi banyak cobaan, diantaranya kehilangan pelatih yang membawa Palestina memenangkan turnament Jamal Mahmoud. Pada September lalu, setelah tiga tahun menangani tim tersebut pelatih tersebut mengundurkan diri dengan alasan yang tidak diketahui. Selain mundurnya pelatih, laga persahabatan untuk menyambut Piala Asia juga dibatalkan, terakhir, timnas Palestina gagal berujicoba dengan Iran.

Yang membuat situasi semakin tidak kondusif adalah beberapa pemain timnas Palestina dilarang untuk bepergian demi membela timnas, pengalaman pahit Palestina di AFC Challenge yang dilarang membawa enam pemain kembali berulang. Belum lagi suasana negara Palestina yang situasi keamanannya kurang kondusif. Hal itu diperparah dengan pembekuan dana pajak oleh Israel yang membuat timnas Palestina terkesan tidak memiliki persiapan yang cukup untuk berlaga di ajang terbesar Asia tersebut.

Tetapi justu keadaan ini membuat sepakbola Palestina menolak untuk menyerah, ditengah krisis yang terjadi, Palestina tetap berjuang dan menunjukan kepada dunia bahwa sepak bola mereka mampu bersaing dengan negara-negara lain meski keadaan ekonomi dan situasi keamanan di negaranya buruk.

Bergabung di grup D bersama Jepang (juara musim lalu) dan Irak (juara tahun 2007) serta negara kuat di Asia Timur, Jordania, tak membuat Palestina menyerah. “(Pertandingan) pembukaan melawan Jepang (pada 12 Januari) akan menjadi pertandingan berat bagi kami di mana mereka diyakini merupakan salah satu tim terbaik di Asia. Para pemain Jepang lebih baik daripada kami,” ungkap Ashraf Nu’man, penyerang Palestina di situs FIFA.

Kalimat wawancara terakhir Ashraf di situs FIFA yakni “kami akan mengirimkan pesan bahwa kami ingin perdamaian” membuat saya merinding bagaimana kuatnya sebuah ikatan antara sepakbola dengan perdamaian. Rakyat Palestina seharusnya menikmati perdamaian yang sulit mereka dapatkan sejak lama. Melalui sepakbola para punggawa timnas Palestina ingin mengajarkan apa arti fair play secara nyata.

Semoga Palestina menghadirkan kejutan di ajang empat tahunan ini seperti yang di lakukan Irak di tahun 2007 lalu, dimana Irak tampil mengejutkan hingga masuk final dan mengalahkan tim kuat Arab Saudi di final yang disaksikan langsung oleh Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ah, jadi teringat dengan perkataan wakil ketua PSSI yang beberapa waktu lalu berkicau “sepak bola sudah bagus. Harusnya dia urusi cabang lain seperti bulu tangkis, berkuda, dan yang sedang down-down itu.” Apa bagusnya gagal tampil di Piala Asia dua kali berturut-turut? Dengar-dengar bapak nyalon jadi ketua PSSI yah? Mending bapak gak usah nyalon lagi yah, sudah terbukti gagal, malu dong sama Palestina, pak!

Post-match Analysis: Besiktas v Trabzonspor (07/12/2014)

If you are a football fan domiciled in Turkey, you can’t miss the clash between the ‘Big Four’ for any reasons. And because I fulfill the criteria, I didn’t miss the big match between Besiktas and Trabzonspor. Forget about the fierce rivalry between Fenerbahce and Galatasaray for a while, they might sitting comfortably at the top side of the table, but neither of them play a good, attractive football so far this season, Besiktas, Bursaspor, and Trabzonspor are.

The latter started to play an attacking football since Ersun Yanal, the man who brought the 19th league’s trophy for Fenerbahce last season, took in charge. A morale-boost victory against Galatasaray (0-3) in Istanbul and a big win at home against Gaziantepspor (4-1) were a good start for Ersun Hoca, that’s how they call the manager in Turkey. But Trabzonspor couldn’t keep the same form when they played Besiktas in week 12 of Turkish Super League.

Played in Konya, Slaven Bilic’s army took the initiative since the very beginning by pushing forward and put intense pressure on Trabzonspor defenders. The result was seen in less than 5 minutes when Veli Kavlak scored a beautiful goal with his weaker foot from just outside the penalty box. The process was started by the pressure put by Besiktas players on the other half of the pitch that forced Trabzonspor goalkeeper to ‘clear’ the ball to Veli, 1-0.

Down by an early goal didn’t break Trabzonspor spirit, instead the players were having more courage to keep the ball. The problem was that they couldn’t break a solid defensive wall led by Ersan Gulum. Besiktas’ back-four were so brilliant in this match that they even didn’t let Oscar Cardozo to fire a single shot, let alone scoring a goal.

The pressure from Besiktas players once again paid off. Their marquee signing this summer from Chelsea, Demba Ba, scored with his back-heel in 25 minutes with a nice assist from Olcay Sahan. The latter was stealing the ball from Avraam Papadopoulos, who was ‘waiting’ for Olcay to take the ball away, before delivering the perfect pass to Demba Ba who was unmarked. Not long after that, Ersun Yanal ‘punished’ Avraam by subbing him out and put Kevin Constant to the game. Besiktas was leading 2-0 until the half time whistle.

In the second half, Mustafa Pektemek was subbed in by Bilic to replace Demba Ba who got a slight injury. But unfortunately the 26 years old striker was subbed out and replaced by Cenk Tosun in 71 minutes before he could contribute more due to a broken nose after a collision with Belkalem. Besiktas had at least two wasted chance in the second half, both from a counter-attack. The first was Gokhan Tore whose shot was blocked by Carl Medjani right in front of the goal line, and the second was Jose Sosa whose movement was well read by Trabzonspor goalkeeper, Fatih Ozturk, in a one-on-one situation outside the penalty box.

Trabzonspor were dominating the match and still trying to find a way to breakthrough until another blatant mistake made by Musa Nizam in 84 minutes. He made a bad clearance which captured by Serdar Kurtulus who then give the ball to Sosa. With one look, the Argentinean midfielder gave a one-touch pass to Cenk Tosun who was free in the penalty area and fired a shot to write his name in the score sheet and put Besiktas to a 3-0 lead. The score board didn’t change until the referee blew his full-time whistle.

Objectively, Besiktas were the better side tonight. They were more discipline when defending and more effective in converting the chances into goal. The high-pressure tactics by Slaven Bilic was playing a big role in this victory. On the other hand, Trabzonspor were lacking of creativity in midfield. Ozer Hurmaci who was supposed to be the creator was effectively closed down by 2 defensive midfielders, Veli Kavlak and Atiba Hutchinson. Trabzonspor might have a higher possession ball, but they weren’t able to penetrate into the penalty box. It is like taking a tour outside an iconic stadium but not permitted to go inside, how pity. But on top of that, the poor decisions by the defenders were the ones that cost Trabzonspor tonight.

With this result, The Storm Trabzonspor stay in the 7th place with 8 point difference with The Eagle Besiktas who reclaim the top seat of the table with 26 point.

Di balik Kegagalan Timnas Senior di AFF 2014

Ajang dua tahunan AFF tahun 2014 ini menyisahkan duka mendalam bagi tim Garuda Senior, pasalnya tim asuhan Alfred Riedl yang dipimpin oleh Firman Utina gagal lolos dari fase grup A yang dihuni oleh Vietnam, Philipina, dan Laos. Indonesia hanya menempati posisi ke 3 setelah hanya memperoleh empat poin dari tiga laga.

Hasil ini membuat Indonesia, untuk ketiga kalinya, gagal melaju dari babak grup Piala AFF setelah pertama kali mengalaminya di tahun 2007 saat satu grup bersama Singapura, Vietnam, dan Laos. Indonesia mampu menang 3-1 melawan Laos setelah selanjutnya bermain imbang 1-1 saat berjumpa Vietnam dan 2-2 dengan Singapura.

Hasil minor dalam ajang AFF ini melahirkan tanda tanya besar terkait dengan apa yang terjadi dalam dunia persepakbolaan kita saat ini karena isu dualisme di PSSI seharusnya sudah berakhir, kompetisi pun sudah bergulir dengan baik dan diakhiri dengan klub Persib Bandung yang menjadi juara musim ini namun dengan semua yang sudah serba rapi dan beres itu seharusnya sudah barang tentu melahirkan timnas yang kuat karena diisi oleh pemain berkualitas yang lahir dari gabungan dua kompetisi yang menjadi satu.

Apa permasalahan sesungguhnya yang terjadi sehingga timnas yang bertanding di ajang tersebut justru gagal bersinar di tahun ini, berikut analisa kompasianer terhadap kegagal timnas senior di AFF tahun ini.

Persiapan Minim, Timnas pun Gagal di Piala AFF 2014

Timnas yang di boyong oleh Riedl kali ini memang di persiapkan secara terburu-buru pasalnya saat pemusatan latihan nasional para pemain yang dipanggil untuk seleksi masih memperkuat klubnya masing-masing saat berlaga di delapan besar Indonesia Super League  musim ini. “Itu masalah saya sejak awal pelatnas,” kata Riedl saat ditemui di Lapangan Sepak Bola Sekolah Pelita Harapan, Tangerang, Senin, 27 Oktober 2014.

Adanya pemilu yang terselenggara sebanyak dua kali (Legislatif dan Presiden) dan ibadah puasa membuat jadwal ISL molor selama berbulan-bulan. Final ISL sendiri diselenggarakan tanggal 7 November sedangkan pemusatan latihan nasional berakhir 19 November alias dua hari sebelum kompetisi.

Pemilihan Pemain yang Membingungkan

Setelah mengumpulkan 30 pemain saat seleksi di pemusatan nasional terpilihlah 22 nama pemain yang di panggil memperkuat Indonesia untuk AFF 2014. Nama Kurnia Meiga tetap dipercaya menjadi penjaga gawang utama sedangkan di belakangnya ada Made Wiryawan dan muka baru tapi lama, Dian Agus, menjadi kiper timnas.

Di posisi bek ada nama Zulkifli Syukur, Supardi, M Roby, Achmad Jufriyanto, Victor Igbonefo, Rizki Pora, dan Fachruddin. Di posisi pemain tengah ada Manahati Lestusen, Hariono, Raphael Maitimo, M Ridwan, Ramdani Lestaluhu, Firman Utina, Evan Dimas, Zulham Zamrun, dan Imanuel Wanggai. Dan terakhir di posisi penggedor ada duo naturalisasi Sergio van Dijk dan Cristian Gonzales didampingi oleh striker lokal Boaz Solossa dan Syamsul Arif.

Jika di perhatikan baik-baik pelatih timnas senior Alfrerd Riedl membuat keputusan aneh dengan tidak memanggil pemain terbaik ISL musim 2014 Ferdinand Sinaga dan beberapa pemain yang menjadi langganan timnas senior seperti Andik Vermansyah, Bayu Gatra, Juan Revi, Ian Kabes, dan Toni Sucipto. Kejutan terjadi yakni nama Evan Dimas sebagai alumni U-19 masuk sebagai daftar skuad di AFF 2014.

Kekalahan Telak dari Filipina

Langit seakan runtuh ketika mengetahui bahwa timnas senior di lumat oleh tim yang pernah dikalahkan 13-1 yakni Filipina. Secara mengejutkan timnas senior dibungkam 4-0 tanpa balas oleh tim yang berjuluk The Azkals. Berkat kekalahan ini Indonesia kini sudah bisa dikatakan sebagai tim medioker di asia tenggara. Pelatih timnas Filipina Thomas Dooley sendiri menyamakan Indonesia dengan Laos dalam bermain sepakbola.

Entah apalagi alasanya selain faktor kebugaran serta jadwal kompetisi yang padat yang berkali-kali dijadikan alasan Opa Riedl mengapa Indonesia bisa kalah untuk pertama kalinya dari Filipina setelah 21 tak pernah kalah. Kekalahan 4-0 atas Filipina juga banyak disadari oleh pemain yang tidak memahami peraturan pertandingan, blunder Kurnia Meiga adalah salah satunya.

Kekalahan timnas Senior juga mendapat perhatian oleh Menpora Indonesia yang baru Imam Nahrawi yang berkicau di twitter tentang keprihatinan yang terjadi dengan persepakbolaan Indonesia.”PSSI harus evaluasi diri” katanya.  Tagar #BekukanPSSI juga muncul dan menjadi trending topic di Indonesia yang menuntut menpora yang baru segera bekukan PSSI karena timnas Indonesia yang kini tengah mengalami stagnansi dan agar segera kembali ke marwah dan penuntut pengurus PSSI untuk mundur.

Buruknya Penampilan Timnas Salah Siapa?

Buruknya penampilan timnas di ajang AFF tahun ini memberikan sebuah tanda tanya besar siapa yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas kegagalan timnas Indonesia di turnamen dua tahunan ini.

Setiap ada tim yang berpenampilan buruk orang pertama yang disalahkan pastilah sang pelatih. Alfred Riedl adalah nama pertama yang muncul di permukaan sebagai biang keladi atas semua kegagalan timnas kali ini. Meski di pertandingan terakhir dirinya memimpin timnas dengan kemenangan besar 5-1 atas laos nyatanya Alfred Riedl tetap dipecat.

Meski begitu sesungguhnya Alfred Riedl telah melahirkan sebuah harapan baru bernama Evan Dimas yang tampil ciamik kala timnas melumat timnas Laos, penampilan Evan Dimas secara tak langsung membentak PSSI yang telinganya sudah tuli itu untuk segera benahi regenerasi untuk melahirkan Evan Dimas yang lain untuk menggantikan pemain seperti Christian Gonzales, Firman Utina, dan M Ridwan yang secara usia sudah kedaluarsa untuk bermain di kancah Internasional.

Sadarlah PSSI proyek timnas untuk juara di pelbagai kompetisi tidak akan pernah terjadi dengan cara-cara instan dan praktis. Rekontruksi kompetisi menjadi hal mutlak yang wajib jalankan sehingga melahirkan pemain yang berkualitas serta klub-klub dengan keuangan yang sehat dan wajar. Dan yang paling penting dari itu semua adalah program regenerasi pemain mutlak menjadi kunci untuk masa depan keberlangsungan timnas.
Lekaslah sembuh PSSI!

Rangkuman Match Day 5 UCL 14/15

Liga Champions musim 2014/2015 telah menyelesaikan pertandingan pekan kelima pada Kamis dini hari. Sebelas dari 16 tiket fase gugur sudah bertuan; Arsenal, Atletico Madrid, Barcelona, Bayer Leverkusen, Bayern Munchen, Borussia Dortmund, Chelsea, PSG, FC Porto, Real Madrid dan Shaktar Donetsk tertulis di lembar-lembar tiket itu. Lima lagi masih diperebutkan pada pekan terakhir fase grup yang akan digelar tanggal 9 dan 10 Desember mendatang. Ada beberapa hal menarik yang tersaji setelah pekan kelima ini berakhir.

Di grup H, memang tak ada lagi tiket yang diperebutkan. Dua tiket 16 besar sudah menjadi milik Porto dan Shakhtar Donetsk. Athletic Bilbao yang diharapkan bisa menjadi tim yang diperhitungkan di grup ini nyatanya kalah saing dari wakil Portugal dan Ukraina tersebut. Yang menarik justru datang dari tim juru kunci, BATE Borisov, yang memiliki selisih gol terburuk dari 32 kontestan Liga Champions musim ini, yaitu minus 21. Klub dengan selisih gol terburuk kedua ditempati wakil Turki, Galatasaray, dengan torehan minus 12.

Beralih ke grup G yang masih menyisakan satu tiket fase knock out, Chelsea secara luar biasa menghancurkan Schalke 04 lima gol tanpa balas di kandang mereka, Veltins Arena. Gol-gol dicetak oleh John Terry di menit ke-2, Willian, gol bunuh diri Jan Kirchhoff, Didier Drogba, dan ditutup oleh gol Ramires. Sebuah hasil yang diluar dugaan mengingat pada pertemuan pertama mereka berhasil menahan imbang The Blues 1-1 di Stamford Bridge. Setelah pertandingan tersebut beredar guyonan yang menyebut klub Jerman tersebut dengan Schalke 05. Kini tim yang diasuh Roberto Di Matteo tersebut harus saling bunuh dengan Sporting Lisbon di pekan terakhir untuk satu tiket 16 besar.

Sama seperti grup H, di grup F dua tiket fase gugur sudah didapat Barcelona dan tim kaya dari Perancis, PSG. Bahkan jarak poin di grup ini lebih jomplang. Poin 2 yang dimiliki Ajax yang menghuni peringkat 3, terpaut sangat jauh dari dua tim teratas, yakni PSG dengan 13 poin dan Barcelona dengan 12 poin.

Sementara di grup E, Manchester City akhirnya meraih kemenangan perdana setelah mengatasi 10 pemain Bayern dengan skor 3-2. Sergio Aguero menjadi bintang dengan hattricknya sekaligus membuka peluang City melaju ke babak selanjutnya. Di pertandingan lain, AS Roma yang unggul sejak akhir babak pertama lewat Francesco Totti harus rela hanya mendapatkan satu poin setelah tuan rumah CSKA Moscow menyamakan kedudukan melalui Vasili Berezutski di akhir laga. Di papan klasemen, Bayern digdaya dengan perolehan 12 poin meninggalkan tiga tim dibawahnya yang sama-sama meraih lima poin. Jarak tujuh poin ini sama dengan yang terjadi di Bundesliga, dimana Die Roten diikuti Wolfsburg di posisi dua dengan raihan 23 poin.

Di grup D, dua tiket 16 besar sudah diamankan oleh Borussia Dortmund dan Arsenal, pekan terakhir hanya akan menentukan siapa yang akan menjadi juara grup karena tiket Europa League pun sudah didapat Anderlecht. Galatasaray seperti yang telah disinggung di atas, menjadi tim terburuk kedua dalam perolehan selisih gol. Tim asuhan Cesare Prandelli ini pun terdampar di posisi juru kunci karena hanya mampu meraih satu poin dari lima pertandingan yang telah dijalani.

Grup C boleh dibilang menjadi grup yang paling sengit. Pada pekan kelima, Zenit mampu mengalahkan Benfica sementara Bayer Leverkusen kalah dari Monaco di kandang sendiri. Walaupun kalah, Leverkusen tetap memastikan lolos ke 16 besar. Klub Jerman tersebut memastikan tiket 16 besar dengan hanya mengoleksi sembilan poin. Terminim dari 8 juara grup lain. Dibawahnya berdiri Monaco dan Zenit St. Petersburg dengan masing-masing delapan dan tujuh poin. Meskipun hanya berselisih dua poin dengan peringkat tiga, poin Leverkusen tidak akan terkejar karena pada pertandingan terakhir penyisihan grup, Zenit akan bertemu Monaco yang menghuni peringkat dua.

Real Madrid menjadi satu-satunya tim yang meraih poin sempurna. Mereka memiliki poin 15 dari lima laga yang telah dijalani. Posisi runner up di grup B masih menjadi rebutan tiga tim, yaitu Basel, Ludogorets, dan pemegang lima gelar juara UCL, Liverpool. Bagi Liverpool, hasil imbang melawan Ludogorets melanjutkan tren negatif mereka di liga lokal yang tak pernah menang dalam empat laga terakhirnya. Sementara bagi Ludogorets, masih terbukanya kesempatan melaju ke fase gugur merupakan sebuah kejutan besar mengingat status mereka sebagai debutan dan berada satu grup dengan tim kuat macam Real Madrid dan Liverpool.

Di grup A, Atletico Madrid memastikan posisinya di 16 besar setelah menggulung wakil Yunani, Olympiakos 4-0 dimana tiga dari empat gol yang tercipta diciptakan oleh stiker mereka Mario Mandzukic. Sementara tim raksasa Italia, Juventus masih harus menunggu pertandingan terakhir untuk menentukan apakah mereka atau Olympiakos yang akan maju mendampingi Atletico.

Menarik dinanti apakah tim-tim besar seperti Manchester City, Juventus, dan Liverpool akan lolos dari fase grup? Atau justru Ludogorets yang mencetak sejarah dengan maju ke fase gugur untuk pertama kalinya.

[author image=””]Gangan Januar (@gangan_januar) – Bapak (baru) satu anak. Penggemar Chelsea regional layar kaca.[/author]

Ketika Sang Ayah Inginkan Si Anak Ada di Dalam Game Football Manager

Martin Ødegaard asal Norwegia menjadi buah bibir kala menjadi pemain paling muda sepanjang sejarah kualifikasi Euro kala dirinya tampil saat laga Norwegia melawan Bulgaria dengan skor akhir 2-1, Ødegaard  menjalani debut dengan timnas senior di usia 15 tahun 300 hari. Memecahkan rekor Sigurdur Jonsson dari Islandia yang debut di usia 16 tahun 251 hari.

Dirinya menjalani debut pertamanya di menit 63 menggantikan Mats Moller dan berhasil membawa tim nasionalnya menang sekaligus sebagai debut manis pemain yang kini masih bermain di Stromsgodset, klub profesional Norwegia sekaligus menjadi pemain penting bagi klub tersebut.

Dengan segala keajaiban dan kemampuannya yang diatas rata-rata anak seusianya, Ødegaard pun diincar banyak klub papan atas eropa seperti Barcelona, Real Madrid, Arsenal, Chelsea, Manchester United, Juventus, Ajax, hingga Bayern Munich.

Game Football Manager 2015 sebagai game simulasi terbaik baru-baru ini telah rilis, hal ini amat dinanti-nantikan oleh para penggemarnya, banyak dari para pemain game tersebut pun mengincar Martin Ødegaard untuk dapat direkrut sebagai salah satu anggota skuat mereka, namun sayangnya di FM 2015 yang terbaru ini Martin Ødegaard tidak muncul.

Sontak hal ini membuat kecewa beberapa pecinta game buatan developer Sport Interactive, banyak yang kecewa dengan keputusan developer tak memasukan wonderkid asal Norwegia tersebut.

Alhasil untuk memenuhi hasratnya salah satu fans sampai meminta ayah sang pemain untuk melakukan sebuah petisi dengan memberikan izin untuk memasukan anaknya didalam game Football Manager yang terbaru.

‘I hereby grant you permission to add Martin Odegaard to Football Manager 15. Best wishes, Hans Erik Odegaard, father.’

Itulah tulisan yang disampaikan ke Miles Jacobson selaku studio director of Sports Interactive yang akhirnya akan memasukan anaknya dalam game tersebut di dalam patch yang akan datang, sementara untuk memasukan Martin Ødegaard di dalam game bisa mengunduh file fans editor yang sudah tersedia di steam.


Salah satu keasyikan bermain Football Manager adalah saat anda bisa membeli pemain muda berbakat dengan harga murah dan menjadikan pemain bintang dan pasti dengan harga jual yang murah, Game Football Manager sendiri sudah lama meramalkan Ronaldo dan Messi menjadi pemain besar dimasa lalu.

Ada-ada saja ulah fans Football Manager yah.

Mancini dan Cinta Lama yang Bersemi Kembali

Bulan Juni adalah bulan yang ditunggu-tunggu para buruh sepakbola, khususnya bagi mereka yang bekerja di Eropa. Setelah kaki-kaki bekerja keras selama lebih kurang sembilan bulan di industri sepak bola, mereka akhirnya bisa mencicipi kenikmatan liburan musim panas. Tujuan utama para buruh berupah miliaran rupiah ini tak lain dan tak bukan adalah pantai. Ditengah teriknya sengatan matahari musim panas yang menusuk fisik dan mental yang terkuras, hamparan pasir halus dan wanita-wanita berbikini, ditambah sejuknya angin pantai dan segarnya air laut adalah kombinasi yang sempurna.

Paragraf diatas hanyalah ilusi untuk menggambarkan betapa menyenangkannya bulan Juni bagi para buruh sepakbola, termasuk bagi salah seorang kepala buruh yang namanya mulai diperhitungkan sejak satu dekade silam, Roberto Mancini. Di bulan Juni tahun ini, Mancio (sapaan akrab Mancini) tengah bersantai dengan sang istri di salah satu pantai yang biasanya ditongkrongi oleh para pria berkantong tebal setelah melewati musim perdananya mengepalai buruh-buruh Galatasaray.

Finish sebagai runner-up di liga yang otomatis membawa Galatasaray berhak tampil di Liga Champions musim ini serta satu gelar Turkish Cup membuat Mancini merasa berhak mendapatkan liburan yang tenang dan tentram. Telepon dari Ünal Aysal, presiden Galatasaray saat itu, ditanggapi dengan antusias oleh Mancini. Ia rela mengakhiri sejenak program leyeh-leyeh di pantai guna memenuhi panggilan sang presiden, ia yakin bahwa akan ada pembicaraan penting mengenai masa depan klub.

Namun malang bagi Mancini, pertemuannya dengan para petinggi klub berakhir dengan pemutusan kontrak sang pelatih yang sejatinya masih tersisa 2 tahun. Kedua belah pihak tak dapat mencapai kata sepakat perihal proyek masa depan klub. Matahari musim panas terasa makin menyengat bagi Mancini. Pelatih yang mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris bagi Manchester City dua tahun silam ini tak bisa lagi menikmati secangkir teh di restoran kelas atas di tepi Laut Bosphorus.

Namun nama besar dan curriculum vitae memukau Mancini membuat ia tak perlu menganggur lama. Setelah sempat dihubungkan dengan pos di tim nasional Portugal, Mancio resmi kembali ke pangkuan kekasih lama, Internazionale Milan. Rangkaian hasil buruk di kancah domestik membuat presiden baru Inter, Erick Thohir, terpaksa memecat Walter Mazzarri. Pemilihan Mancini sebagai suksesor tak lepas dari kisah manis yang dituangkannya dalam bentuk tiga scudetto dan dua gelar Coppa Italia selama empat tahun menukangi La Beneamata dalam kurun 2004-2008.

Bersama Inter, Mancini menjelma menjadi kepala buruh yang disegani. Inter dibuatnya menjadi hegemoni baru di kancah perindustrian sepakbola Italia, walaupun para fans Juventus dan Milan selalu dengan sinis mencibir pencapaian Inter dibawah Mancini sebagai ‘hadiah’ dari kasus calciopoli. Masa-masa indah ketika berkuasa inilah yang ingin dirasakan kembali oleh para Interista (sebutan untuk fans Inter). Mereka rindu akan masa dimana mereka dapat menginjak-nginjak suporter lain dengan nyanyian-nyanyian sarkasme yang menegaskan hegemoni Inter di tanah Italia.

Menanti Kencan Pertama

Cinta lama telah bersemi kembali. Inter dan Mancini resmi ‘balikan’. Sebagian orang menganggap balikan hanya sebuah usaha yang membuang-buang waktu, layaknya menonton film yang sama untuk kedua kali dengan ending yang sudah sama-sama tahu. Benarkah demikian? Saya sendiri kurang setuju dengan analogi tersebut.

Alasan logis dari usaha balikan adalah kedua belah pihak ingin mengulang masa-masa indah yang pernah mereka lalui, dengan diiringi harapan bahwa kali ini ending dari cerita tersebut berakhir dengan manis. Untuk memastikan akhir cerita jilid dua ini tak berakhir sesendu film AADC yang diperankan oleh Nicholas Saputra dan si cantik Dian Sastro, kedua pihak tentu harus introspeksi diri dan tak boleh melakukan kesalahan yang sama.

Kesalahan Mancini yang membuatnya harus mengakhiri kisah asmara dengan Inter adalah kegagalan membawa sang kekasih melangkah jauh di kompetisi Eropa. Sedangkan kesalahan Inter di masa lampau adalah tidak memberikan waktu yang cukup bagi Mancio untuk dapat membawa Inter berbicara lebih banyak di Eropa.

Sekarang dengan kesempatan kedua, Thohir tak ingin membebani pelatih 49 tahun ini dengan beban berat. Target dari Thohir sangat sederhana, meloloskan Inter ke kompetisi Eropa. Disini kata ‘Eropa’ sedikit memicu ambiguitas. Kompetisi Eropa bisa berarti Liga Eropa ataupun Liga Champions, namun mengingat Inter memang tengah bermain di Liga Eropa musim ini, Mancini pasti paham bahwa maksut implisit dari sang presiden adalah meloloskan Inter ke habitat asli mereka, Liga Champions.

Jalan terjal langsung menjumpai pelatih yang semasa aktif bermain dikenal sebagai penyerang dengan teknik tinggi ini. Ujian pertamanya mewajibkan ia berhadapan dengan rival abadi Internazionale, AC Milan. Rekor Mancini tak terlalu bagus, namun juga tak jelek-jelek amat saat melawan Milan dengan syal biru-hitam melingkar di lehernya. Empat kemenangan, satu hasil seri dan lima kekalahan didapat Mancini dalam empat tahun rezimnya bersama Inter.

Secara kebetulan, salah satu pencetak gol di laga derbi terakhir Mancini pada 2008 yang berkesudahan 2-1 buat sang rival adalah allenatore yang akan ditantang Mancini pada grande partita akhir pekan ini. Pelatih yang juga merupakan mantan striker dengan insting mencetak gol luar biasa, Filippo Inzaghi.

Menghadapi Inzaghi, Mancini diyakini akan menerapkan formasi favoritnya, 4-4-2 dan meninggalkan pola 3-5-2 warisan Mazzarri. Fans Inter yang antipati terhadap pola 3 bek boleh saja antusias,namun pertanyaannya adalah, mampukah para pemain Inter beradaptasi terhadap formasi dan sistem permainan yang baru guna menghadapai Milan? Itulah pekerjaan rumah pertama pelatih yang digelari Mr.Cup Specialist karena rekor menterengnya yang selalu membawa tim yang diarsitekinya melaju setidaknya hingga babak semifinal dalam ajang cup domestik.

Semua orang tahu bahwa kemenangan di laga derbi tak hanya bernilai tiga poin, namun juga dapat membangkitkan moral pemain dan meningkatkan gairah para suporter. Momentum pasca kemenangan di derbi inilah yang akan coba direalisasikan oleh Mancini guna memberikan kado spesial di kencan pertamanya setelah enam tahun berpisah.

Mampukah Mancini? Sebagai fans sang rival, saya tentu berharap Inzaghi sukses merusak kencan pertama Mancini.

Salam derbi Milan!

Di Balik Sukses Qatar Juarai AFC U-19

Qatar, Apa yang anda pikirkan tentang negara ini? Negara kaya? Tuan rumah FIFA World Cup 2022? Atau mungkin tulisan Qatar Airways yang sering kita lihat pada bagian depan jersey Barcelona? Juga mungkin nama Nasser Al-Khelaifi dengan Qatar Investment Authority-nya  yang mengakuisisi PSG dan kini disulap menjadi klub raksasa yang haus akan prestasi?

Qatar memang dikenal sebagai negara kaya; baru-baru ini CNN melangsirkan laporan negara terkaya di dunia pada tahun 2014 yang di peroleh dari PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita. Negara Qatar dengan PDB US$ 93.352 berada di posisi ketiga sebagai negara terkaya di dunia setelah Luksemburg dan Norwegia. Ketiganya dinilai oleh bank dunia sukses mengelola kekayaan alam negaranya.

Qatar juga didapuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 setelah menang voting yang di lakukan di Zurich pada Desember 2010. Meski kini masih terjadi pro dan kontra perihal kemenangan bidding Qatar yang ditengarai penuh dengan kecurangan sampai dengan masalah cuaca yang kurang cocok bagi orang non-Asia, Qatar tetap pede untuk menjadi tuan rumah pesta akbar sepak bola yang diadakan setiap empat tahun sekali itu.

Bicara soal Piala Dunia, negara Qatar tak main-main, jika anda masih masih gagal move on melihat penampilan U-19 Indonesia yang under performance, hal sebaliknya terjadi pada timnas U-19 Qatar yang sukses lolos ke Piala Dunia U-20 dan sekaligus menjuarai turnamen AFC U-19 di Myanmar, setelah menang 1-0 melawan Korea Utara di partai final.

Kemenangan atas Korea Utara menjadikan Qatar untuk pertama kalinya menjuarai turnamen tersebut setelah 11 kali ikut; prestasi tertinggi sebelumnya hanya menjadi runner up pada tahun 1980. Hebatnya lagi, perjalanan timnas U-19 Qatar di AFC kali ini terbilang istiewa karena tak terkalahkan selama babak penyisihan dengan meraih dua kemenangan dan sekali imbang serta tak tak terkalahkan hingga mencapai final.

Apa Rahasia di Balik kesuksesan Qatar Juarai AFC?

“Di balik kesuksesan seorang pria ada seorang wanita hebat di belakangnya” meminjam pepatah tersebut sesungguhnya di balik kesuksesan Qatar menjuarai AFC dan bisa ikut dalam putaran final Piala Dunia U-20 adalah berkat ikut andilnya peran pemerintah dalam membangun budaya olah raga disana.

Lewat Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani perdana menteri Qatar sekaligus keluarga kerajaan, Qatar berinisiatif mendirikan sebuah pusat akademi olahraga bernama Aspire Academy, dengan fasilitas yang super canggih dan super mewah, Aspire Academy tak hanya menampung para putra putri terbaik Qatar namun juga dari seluruh dunia untuk bergabung dalam akademi tersebut. Aspire Academy sendiri fokus pada olahraga tim seperti sepak bola dan bola tangan.

Aspire Academy hampir setiap tahunnya mengadakan pencarian bakat ke 14 negara dan tak kurang menyeleksi hingga 600 ribu anak dari negara-negara seperti Afrika, Amerika Latin, dan kawasan Asia dan 20 pemain terbaik, yang diharapkan menjadi pemain profesional nantinya, berhak mendapat beasiswa.

Hasil dari Aspire Academy pun nyata, jikalau anda perhatikan nama pemain yang di bawa oleh Felix Sanchez Bas adalah pemain yang bermain di Eropa seperti dari penjaga gawang Youssef Hassan dan pemain tengah Nasser Ibrahim Al Nasr bermain di Virraeal B, lalu Abdulaziz Mahmoud Al-Khalosi, Ahmed Moein Doozandeh, Ahmed Al Saadi, dan Fahad Ali yang masuk dalam tim Reserve Eupen (Belgia), Jasem Omer bermain di Red Bull Salzburg U-19 , Tameem Al Muhaiza (Atlético Madrid C), Husam Kamal Hassanin dan Assim Omar (Auxerre C), Abdullah Ali (Real Madrid Juvenil B), Akram Afif (Sevilla U-19), hanya sisa 10 orang yang bermain di liga lokal Qatar.

Nama Indonesia di Aspire Academy

Seperti yang di ketahui Aspire Academy mencari bakat dari seluruh penjuru dunia, dari sekian banyak anak yang di jaring oleh pemandu bakat ada tiga nama yang berasal dari Indonesia yakni Farri Agri (Al Khor), Andri Syahputra (Al Gharafah), dan Khuwailid Mustafa (Lekhwiya SC) ketiganya pernah mencicipi Aspire Academy dan ketiganya berpotensi memperkuat timnas Qatar di masa depan. Aspire Academy juga memiliki proyek untuk menaturalisasi atlit bimbingan mereka, berbekal pada kelonggaran peraturan untuk menjadi warga negara Qatar. Biasanya butuh 25 tahun tinggal di Qatar untuk mendapatkan kewarganegaraannya, namun seorang atlet bisa menjadi warga negara Qatar meski belum tinggal di sana selama itu.

Atlet di Qatar saat ini memiliki posisi yang tinggi dalam kasta masyarakat di Qatar, khusus para pemain sepakbola mereka difasilitasi dengan latihan standar profesional, hotel mahal, supir pribadi, dan pakaian bermerk. Qatar menjamin penduduknya dengan standar hidup tertinggi. Siapa yang tidak ingin hal seperti itu?

Diluar akademi Aspire jika anda ingat-ingat dahulu mantan striker Werder Bremen yang asal Brasil, Ailton, pernah dibujuk untuk memperkuat Qatar, ada juga nama Sebastian Soria dari Uruguay yang sukses dinaturalisasi. Selain nama Soria, juga ada nama Marconi Amaral Costa dan Fabio Cesar Montezine, keduanya asal Brasil, serta gelandang berdarah Ghana, Lawrence Quaye, juga menjadi langganan timnas Qatar, belum lagi yang berasal dari kawasan Asia seperti Ibrahim Majid yang berasal dari Kuwait dan Abdulgadir Ilyas Bakur dari Arab Saudi.

Mimpi Eropa

Selain mengembangkan akademi, Aspire Foundation juga mengakuisisi sebuah klub di Belgia. Sejak Juni 2012 lalu, Aspire membeli klub K.A.S Eupen, klub ini diproyeksikan sebagai penampung pemain berbakat dari Aspire Academy. Pencetak gol terbanyak Qatar sekaligus top skor AFC U-19 dengan 5 gol Ahmed Al Saadi terdaftar sebagai pemain K.A.S Eupen.

Qatar sepertinya amat bernafsu untuk tampil hebat di Piala Dunia 2022 yang bakal digelar di negara mereka. Mereka merencanakan sedemikian matang dan hasilnya kini mulai dipetik oleh mereka dengan menjuarai AFC.

Indonesia sebenarnya melakukan cara yang nyaris serupa, mengirimkan atlit sepak bola berbakat ke S.A.D Indonesia di Uruguay lalu juga membeli klub C.S Vise dan juga Pelatihan Pusat Hambalang yang diproyeksikan untuk mengembangkan bakat atlit, namun sepertinya masih terjadi banyak kendala yang terjadi seperti S.A.D yang dibubarkan serta C.S Vise yang kini berhenti mengontrak pemain Indonesia karena jauh dari harapan, dan Pelatihan Pusat Hambalang yang lebih terkenal kasus korupsinya ketimbang pemgembangan atlitnya.

Korban Terbaru PSSI

Malam itu langit tampak cerah di atas kota Nay Pyi Taw, Myanmar. Di salah satu sudut kota, berdiri sebuah bangunan megah berbentuk oval dengan cahaya yang memancar terang dari dalam, Wunna Theikdi Football Stadium, begitu nama resmi bangunan tersebut. Di dalamnya, 22 pemuda berlarian bercucuran keringat dalam laga pamungkas babak penyisihan grup B Piala AFC U-19.

Uni Emirat Arab yang berkostum merah mendominasi jalannya pertandingan, sedangkan sang lawan yang berkostum putih, tim yang digadang-gadang akan mampu berbicara banyak, tampil loyo mengingat kans mereka untuk lolos ke babak berikutnya telah kandas. Di depan bench tim berkostum putih, terlihat seorang pria berkulit sawo matang, berkumis hitam tebal dengan gaya sporty ala Juergen Klopp sedang mengamati jalannya pertandingan. Sesekali ia memberikan instruksi kepada para pemain yang pikirannya sudah berada di tempat lain, entah di mana.

Waktu berlalu hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, dan kembali  Indonesia harus menelan pil pahit, kali ini dari Uni Emirat Arab. Alih-alih lolos ke babak semifinal seperti yang ditargetkan, Garuda Jaya harus puas menjadi juru kunci klasemen dengan poin nihil. Dan seperti kegagalan-kegagalan sebelumnya, harus ada pihak yang dikambing-hitamkan.

Publik pada umumnya menyalahkan PSSI yang dinilai terlalu mengkomersialkan timnas U-19 dan memberikan beban yang terlalu berat pada pundak pemuda-pemuda ini. Saya sendiri tidak mau menyalahkan siapapun, biarlah semua pihak introspeksi diri dan mulai berbenah. Bangkit dari kegagalan dengan menyusun rencana yang lebih matang jauh lebih baik daripada sekedar menggerutu dan mencari kambing hitam. Dan sepertinya PSSI memulai rencana untuk bangkit dengan memberhentikan sang pelatih, pria yang setia berdiri di tepi lapangan mengawal timnas U-19 dalam 3 tahun terakhir.

Coach Indra, begitu ia kerap disapa, resmi mengakhiri masa-masa bulan madu dengan anak-anak asuhnya. Berbagai prestasi cemerlang, yang tak perlu saya sebutkan satu persatu karena saya yakin masih tersimpan dengan rapi di memori otak anda, tak cukup untuk menutupi kegagalan memenuhi target luar biasa PSSI, menembus babak semifinal Piala AFC guna lolos ke Piala Dunia U-20. Target yang didasari oleh optimisme yang menjulang tanpa didukung persiapan yang matang.

Sudah tepatkah keputusan PSSI? Sangat wajar memang jika seorang pelatih dipecat ketika gagal mencapai sebuah target. Roberto Mancini dipecat oleh Galatasaray setelah gagal membawa klub meraih gelar juara liga, Clarence Seedorf dan David Moyes di-phk setalah tak mampu membawa Milan dan United lolos ke Eropa, dan masih banyak contoh lainnya. Namun jika melihat kebelakang akan prestasi dan hal-hal positif yang telah diberikan oleh pria asal Sumatera Barat ini, saya pribadi sangat menyayangkan keputusan PSSI.

Indra Sjafri tak hanya memberikan gelar, ia juga mampu membangkitkan optimisme dan gairah masyarakat tanah air akan sepakbola. Sejak mulai mengikuti sepakbola nasional di awal tahun 2000 hingga sekarang, saya perhatikan belum ada timnas junior yang sangat dibanggakan, dielu-elukan, dan diharapkan publik selain timnas arahan Indra Sjafri. Dan tahukah anda bahwa sebelum kata “blusukan” diidentikkan dengan Jokowi, Indra Sjafri telah lebih dulu melakukan metode ini guna menjaring bibit-bibit muda potensial.

Ia terpaksa terjun langsung ke pelosok-pelosok daerah karena minimnya kompetisi usia dini yang sudah seharusnya menjadi perhatian PSSI. Bahkan ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa Coach Indra terkadang “blusukan” dengan biaya pribadi, bukti totalitasnya pada profesi dan kecintaannya pada ibu pertiwi.

Prestasi lainnya tentu saja fakta bahwa timnas U-19 yang sekarang adalah made in Indra Sjafri, dialah yang mengumpulkan pemain-pemain ini sejak 2011. Dialah yang mengasah mental, membimbing, dan membentuk gaya permainan timnas muda yang kita lihat sekarang. Para pemain berhasil didoktrin dengan filosofi sepakbola yang tak hanya mengutamakan hasil akhir, tapi juga nikmat dipandang.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa salah satu faktor kegagalan Ravi Murdianto cs. di Myanmar ada pada penerapan taktik sang pelatih. Pola 4-3-3 yang menjadi andalan Indra Sjafri terlalu mudah dibaca dan diantisipasi oleh para lawan, Garuda Jaya mati gaya. Dan celakanya Coach Indra seperti tak memiliki alternatif lain.

Lantas apakah adil untuk melempar semua tanggung jawab kepada Indra Sjafri? Tentu tidak. Untuk mengubah pola permainan atau memecah kebuntuan di suatu pertandingan, dibutuhkan pemain-pemain dengan karakter yang berbeda dan skill individu yang mumpuni. Dengan melihat kondisi terkini, pembinaan pemain usia muda yang jalan ditempat dan minimnya kompetisi, kebutuhan tersebut tentu sulit dicapai. Coach Indra sudah berusaha semaksimal mungkin mengumpulkan pemain-pemain terbaik ditengah segala keterbatasan yang ada.

Lalu apakah ada unsur lain dibalik pemecatan Indra Sjafri? Politik mungkin? Atau kepentingan mafia-mafia sepakbola kelas kakap? Saya tak ingin menambah bensin pada api kebencian pecinta sepakbola nasional pada PSSI. Bagaimanapun kita harus menghargai keputusan mereka karena sungguh tak bijak untuk menghakimi keputusan tersebut sekarang. Waktu yang akan menjawab tepat atau tidaknya keputusan ini.

Sekarang yang dapat kita harapkan adalah PSSI dapat merekrut pelatih dengan kualitas yang lebih baik dari Coach Indra. Dan kedepannya semoga otoriter tertinggi di persepakbolaan Indonesia ini bisa memperbaiki sistem pembinaan usia muda, agar kita tak perlu lagi meminjam jasa pemain naturalisasi kelak.

Laga melawan Uni Emirat Arab beberapa waktu lalu adalah kali terakhir kita melihat pria berkumis tebal, berkulit sawo matang, dan dengan gaya sporty mondar-mandir di depan bench timnas U-19 sambil sesekali meneriaki Ilham Udin untuk lebih berani menusuk ke jantung pertahanan lawan, kecuali tentunya jika PSSI memilih pengganti dengan tipikal serupa.

Terima kasih Indra Sjafri! Pecinta sepakbola nasional tak akan melupakan jasa-jasamu.