Awan Kelabu di Langit Samba

Jam terus berdetik seakan tak sabar menuju pentas olahraga terakbar dimulai. Semua mata sudah tertuju pada Brasil, tempat dimana turnamen sepakbola 4 tahunan akan dihelat. Tiga puluh dua tim akan beradu hebat di negeri adidaya sepakbola, yang sudah mengeluarkan tak kurang dari $12 milyar untuk menyiapkan 12 kota dengan 12 stadion berikut infrastruktur penunjangnya. Dengan waktu yang tinggal sekejap mata, sudah siapkah Brasil?

Jika menyinggung kesiapan tim nasional mereka, tak ada yang meragukan kapasitas A Seleção yang digadang-gadang bakal meraih gelar ke-6 mereka di ajang Piala Dunia. Namun jika berbicara tentang kesiapan Brasil sebagai empunya gawean, banyak hal yang membuat musim panas di Brasil kali ini tidak akan seceria tahun-tahun sebelumnya.

Hal pertama yang mencuri perhatian tentu aksi protes dan unjuk rasa yang dilakukan rakyat Brasil untuk menentang Piala Dunia. Mereka menilai uang yang digelontorkan untuk membiayai acara yang “cuma” berlangsung selama 1 bulan ini terlalu besar. Pemerintah Brasil mengeluarkan biaya yang totalnya lebih besar dari total pengeluaran Jerman (2006) dan Afrika Selatan (2010) ketika menghelat Piala Dunia!

Para pengunjuk rasa menilai bahwa yang dibutuhkan rakyat adalah tempat tinggal, fasilitas kesehatan, pendidikan yang layak, dan jaminan keamanan, bukan Piala Dunia. Mereka sudah muak dengan korupsi yang dilakukan pemerintah setempat, salah satu faktor yang membuat pembiayaan membengkak, ditambah dengan pajak yang tinggi untuk pembangunan infrastruktur. Mereka menilai sudah sepantasnya uang rakyat kembali ke rakyat, bukan untuk kepentingan beberapa kelompok. Piala Dunia memang akan menghasilkan keuntungan, terutama dari uang sponsor dan turis yang akan membanjiri Brasil. Namun, jika Afrika Selatan saja merugi dengan modal yang jauh di bawah modal Brasil, bagaimana mereka bisa meraih keuntungan? Dengan melihat kondisi terkini, jangankan untung, bisa balik modal saja sudah menjadi prestasi luar biasa bagi negeri Samba.

Faktor kedua tentunya kesiapan infrastruktur di 12 kota penyelenggara. Kurang dari sepekan menuju kick-off, Arena Corinthians, stadion tempat dilangsungkannya opening ceremony sekaligus laga antara tuan rumah melawan Kroasia 12 Juni nanti, belum selesai dibangun! Begitu pula dengan stadion di kota Natal dan Porto Alegre yang masih dalam tahap penyelesaian akhir.

Selain molor dari deadline yang ditetapkan FIFA, stadion-stadion yang baru dibangun atau direnovasi ulang ini juga memakan korban jiwa. Tak kurang dari 8 pekerja tewas dalam proses pembangunan stadion. Tak ketinggalan nasib rakyat setempat yang rumahnya digusur paksa demi memuluskan upaya pembangunan stadion. Banyak dari mereka yang masih belum memiliki tempat tinggal karena pemerintah lokal belum memberikan kompensasi.

Masalah selanjutnya, akan diapakan stadion-stadion yang terletak di kota kecil seperti Manaus, Cuiaba, dan Natal setelah Piala Dunia selesai? Mereka tidak memiliki tim sepakbola yang bermain di divisi utama dan hampir mustahil untuk melihat stadion-stadion tersebut penuh dijejali suporter ketika tim lokal bertanding, mengingat kapasitasnya yang besar dan jumlah suporter lokal yang tak seberapa. Miliaran dolar akan terbuang percuma.

Tak cukup dengan masalah stadion, infrastruktur penunjang seperti bandara dan jalan raya juga masih diragukan kesiapannya. Orang Brasil memang dikenal dengan last-minute work, namun menunda pekerjaan di ajang sekelas Piala Dunia, predikat itu hanya akan merusak image Brasil.

Faktor terakhir untungnya tak memiliki kaitan langsung dengan Brasil yang sudah cukup dibuat pusing dengan berbagai masalah yang ada. Hal terakhir yang membuat Piala Dunia kali ini sedikit kurang menarik adalah badai cedera yang menghantui para pemain bintang. Kasus terakhir adalah cedera engkel yang diderita Marco Reus, bintang Jerman yang sebetulnya diyakini bakal bersinar di Brasil. Reus terpaksa harus bergabung bersama İlkay Gündoğan, Holger Badstuber, dan Mario Gomez yang juga harus absen karena cedera.

Selain Reus, para penggemar sepakbola juga tidak akan melihat aksi para pemain bintang lainnya seperti Victor Valdes dan Thiago Alcantara (Spanyol), Riccardo Montolivo dan Stephan El-Shaarawy (Italia), Christian Benteke (Belgia), Theo Walcott (Inggris), Kevin Strootman (Belanda), Franck Ribery (Perancis) dan Radamel Falcao (Kolombia). Ditambah lagi Samir Nasri yang tak dipanggil oleh Deschamps, dan Zlatan Ibrahimovic yang gagal meloloskan Swedia.

Dibalik semua kekurangan ini, para penggemar sepakbola masih melihat secercah harapan. Mereka mengharapkan Piala Dunia yang berkesan dengan laga-laga penuh intrik dan drama. Dan untuk mengusir awan kelabu dari langit Brasil, setidaknya selama sebulan kedepan, kesuksesan di opening ceremony dan laga pembuka yang atraktif antara Brasil v Kroasia akan menjadi faktor penentu.

Selamat menikmati Piala Dunia!

About Aditya Putrawan 16 Articles
A die hard football fan who always prefer enjoying the beauty of football at the weekend instead of anything else. If you wanna talk about football for hours, then luckily you just found your man.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*