Efek Samping Transfer Gila EPL

Jendela itu ditutup sudah. Dalam rentang waktu 2 bulan, ribuan pelaku sepakbola Eropa malang melintang menghiasi keramaian jendela transfer musim panas. Ada yang pergi dengan nilai transfer fantastis, ada pula yang  datang tanpa meminta mahar, alias gratis. Perhelatan Piala Dunia di sela-sela kesibukan bursa transfer dimanfaatkan oleh banyak tim, baik untuk membeli para bintang yang bersinar, maupun menjual bintang mereka sendiri dengan harga selangit.

Transfer megah bukanlah hal baru di persepakbolaan modern. Dengan sepak bola yang sudah menjadi industri, pengeluaran ratusan miliar rupiah untuk satu pemain adalah hal yang lumrah. Dengan nama besar, si pemain akan mendatangkan pemasukan dari sektor merchandise dan sponsor. Lalu dengan kemampuannya mengolah si kulit bundar, si pemain akan berkontribusi dalam membantu tim barunya guna mengejar trofi, yang juga akan berujung pada tambahan pemasukan.

Di bursa transfer, tim-tim sepak bola layaknya pasien yang tengah mencari obat (pemain) mujarab. Bagi pasien yang sehat (baca: sukses) di musim lalu, mereka hanya membutuhkan vitamin, yang akan membuat mereka tetap sehat di musim depan. Sedangkan bagi pasien yang sakit (baca: gagal), mereka akan mencari obat yang tepat guna menjadi sehat.

Setiap tim mempunyai dokter mereka sendiri. Sang dokter inilah yang bertanggung jawab memberi formula obat yang tepat sesuai kebutuhan si pasien. Bila di Inggris para dokter adalah para manajer tim, maka di negara lain seperti Italia, Jerman, dan Spanyol, para dokter adalah para petinggi klub, sedangkan manajer hanya berstatus sebagai asisten dokter. Para manajer di tiga negara ini hanya bisa memberi masukan obat, namun tak dapat menandatangani resep secara langsung.

Tugas para dokter tak hanya memberi obat dengan dosis yang tepat, namun juga harus memastikan bahwa efek samping dari obat tersebut tak akan membuat si pasien justru tambah sakit.

Dokter-Dokter Manchester

Setelah terpuruk di musim lalu, Manchester United menyewa dokter baru untuk musim ini, Louis van Gaal. Tak tanggung-tanggung, tak kurang dari 150 juta pounds dihabiskan LvG guna mendatangkan enam obat baru. Manchester merah bisa saja menakutkan di barisan penyerang dengan tambahan Di Maria dan Falcao, namun kegagalan mereka mendapatkan Hummels akan sangat terasa karena mereka kehilangan duet Ferdinand-Vidic yang telah lama menjaga benteng pertahanan.

Hadirnya Daley Blind yang bisa bermain sebagai gelandang jangkar mungkin bisa menutup kelemahan United musim lalu. Walaupun ketenarannya masih dibawah 2 pemain incaran utama United, Kevin Strootman dan Arturo Vidal, namun dokter van Gaal pasti tahu kualitas yang bisa diberikan mantan anak asuhnya di timnas Belanda itu.

Tetangga sebelah yang sehat di musim lalu justru adem ayem di bursa transfer kali ini. Hukuman dari UEFA terkait pelanggaran Financial Fair Play membuat City “hanya” mengeluarkan  54,5 juta pounds dengan Eliaquim Mangala sebagai komoditas termahal mereka (32 juta). Selain karena faktor hukuman, dokter Pellegrini tak begitu aktif di pasar karena skuat yang ia miliki memang sudah dalam.

Pemain-pemain yang direkrut bukan ditujukan sebagai obat, namun sebagai suplemen untuk menjaga agar mereka tetap sehat hingga akhir musim. Willy Caballero sebagai antisipasi atas performa Joe Hart yang fluktuatif, Bacary Sagna untuk membuat Zabaleta punya pesaing sepadan, lalu ada Fernando dan Frank Lampard yang dipersapkan untuk melapis Yaya Toure dan Fernandinho. Dengan peminjaman Lampard, Pellegrini yakin The Citizens akan tetap solid guna mempertahankan mahkota juara Liga Inggris.

Merseyside dan London

Runner-up Liga Inggris musim lalu, Liverpool, juga cukup aktif di bursa transfer kali ini. Dana segar hasil penjualan Luis Suarez benar-benar dimanfatkan untuk mengimpor obat-obatan bermutu ke Anfield. Total sembilan darah segar disuntikkan dokter Brendan Rodgers ke pasien yang telah ditanganinya selama dua tahun ini. Dengan mendatangkan enam pemain berusia 24 tahun atau dibawahnya, terlihat jelas Rodgers ingin membangun skuad muda yang pastinya memiliki energi ekstra dan haus akan gelar.

Alberto Moreno, Emre Can, Lazar Markovic, dan Divock Origi adalah sederet talenta muda yang siap meledak bersama Liverpool. Merseyside merah bisa dibilang sehat musim lalu, dan masuknya darah-darah baru memang sebuah kewajiban agar mereka tetap sehat untuk mengarungi empat kompetisi berbeda.

Beralih ke London Utara, salah satu dokter paling setia dalam sejarah sepakbola, Arsene Wenger, tak banyak merombak skuatnya. Kedatangan David Ospina, Calum Chambers, dan Mathieu Debuchy hanya menggantikan bagian tubuh yang hilang dalam wujud Fabianski, Vermaelen, dan Sagna. Bagian kepala (baca: Giroud) yang untuk sementara waktu tak dapat berfungsi akan coba difungsikan kembali dengan masuknya Danny Welbeck.

Mungkin memang hanya Alexis Sanchez yang diplot untuk menjadi obat utama The Gunners guna mencapai level kesehatan yang lebih tinggi. Sang dokter nampaknya menaruh harapan besar pada obat asli Cili ini untuk mengangkat performa Arsenal.

Klub terakhir yang akan “digunjingkan” disini adalah tim super kaya dengan dokter yang menamai dirinya The Special One. Aktifitas transfer Chelsea di musim panas kali ini patut diacungi jempol. Jose Mourinho sukses mendapatkan obat-obat kebutuhannya, setelah melihat kekurangan Chelsea di musim lalu.

Petr Cech yang mulai dimakan usia, mulai digantikan perannya oleh Courtois di bawah mistar, hengkangnya Ashley Cole tak akan begitu disesalkan karena kedatangan Filipe Luis, pos bek tengah yang rawan menjadi aman dengan Kurt Zouma yang siap melapis John Terry yang juga sudah tak muda, lini tengah yang miskin kreatifitas dijamin akan lebih hidup dan berwarna dengan hadirnya Cesc Fabregas, dan pos penggedor yang menjadi masalah utama Chelsea di musim lalu akan coba diperbaiki dengan hadirnya penyerang buas timnas Spanyol, Diego Costa.

Efek Samping

Liga Inggris mengukir rekor baru dari jumlah uang yang dihabiskan pada musim panas ini. Lebih dari 1 miliar euro dikucurkan 20 tim peserta untuk belanja pemain, wow! Jumlah yang sangat fantastis karena jika dibagi rata, maka setiap tim mengucurkan dana hingga 50 juta euro! AS Roma yang menjadi klub terboros di Serie-A saja hanya menggelontorkan uang di kisaran 40 juta euro.

Namun tak selamanya obat mahal bersinkronisasi sempurna dengan kesembuhan pasien, karena yang dibutuhkan sebenarnya adalah obat yang tepat, tak peduli akan harganya. Dan layaknya obat, transfer pemain yang dilakukan tim-tim Liga Inggris ini juga memiliki efek samping.

Pasien akan merasakan efek samping dari penggunaan obat jika obat yang dikonsumsi tak sesuai dengan sakit yang diderita, atau si pasien menggunakan obat dengan dosis yang berlebihan. Pernyataan tersebut bisa saja tak sesuai dengan teori di dunia kesehatan, tapi jika diterjemahkan ke dalam bahasa sepakbola, maka artinya: transfer yang dilakukan sebuah tim bisa berdampak negatif, tak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh pembelian pemain yang tidak sesuai dengan kebutuhan tim, atau pembelian super mahal yang tak mencerminkan kemampuan si pemain.

Dari 5 tim diatas, mana yang sekiranya memiliki efek samping tertinggi dari bursa transfer? Dengan skala 1-10, dimana 10 adalah nilai tertinggi untuk efek samping, berikut nilai untuk 5 pasien utama Liga Inggris:

  1. Manchester United (7,5): Transfer United sangat berisiko. Disamping sangat boros, pembelian mereka pun terkesan tak sesuai kebutuhan. Tanpa pembelian bek tengah yang berkelas pasca kepergian para bek senior, menarik melihat sejauh mana De Gea mampu menolong penghuni Theatre of Dreams.
  1. Manchester City (3): Tanpa melego satupun pemain penting dan pembelian yang “ala kadarnya”, City mampu meminimalisir efek samping dari bursa transfer kali ini. Namun tanpa pembelian bintang baru, pola permainan City akan mudah dibaca.
  1. Liverpool (5,5): Penjualan obat terbaik mereka di musim lalu (baca: Suarez) bisa saja mengganggu kampanye Liverpool di musim ini. Obat pengganti memang banyak, namun yang (mungkin) sepadan hanyalah Balotelli, dan performa Super Mario akan sangat menentukan kesehatan pasien Brendan Rodgers.
  1. Arsenal (5): Tak ada yang meragukan kapasitas Alexis, namun ia bukanlah goal getter sejati yang mampu menjadi momok menakutkan di kotak penalti lawan. Welbeck? Penyerang 23 tahun inilah perjudian teranyar Wenger guna menutupi kelemahan Arsenal di musim lalu, penyelesaian akhir.
  1. Chelsea (2): Pengeluaran yang terbilang kecil (bahkan untung) – karena pemasukan fantastis dari penjualan David Luiz – untuk pemain-pemain hebat yang sesuai kebutuhan membuat nilai efek samping Chelsea menjadi yang terendah. Merekalah pemenang dari permainan jual-beli pemain kali ini.

Mengapa hanya 5 tim yang dibahas? Karena menurut pandangan subjektif ke 5 tim inilah yang paling berpeluang menduduki peringkat 1-5 di klasemen akhir. Dari analisis diatas, pecinta sepak bola juga dipersilakan menginterpretasikannya sebagai prediksi siapa calon kuat juara di musim ini.

Para dokter kini harus sebijak mungkin dalam menggunakan obat-obat baru tersebut karena mereka baru bisa mengimpor lagi di bulan Januari. Obat yang tersedia sekarang sudah sepantasnya digunakan semaksimal mungkin, jangan sampai obat-obatan tersebut hanya menghiasi lemari kaca tempat penyimpanan.

Pengalaman sang dokter dan kualitas obat yang dimilikinya adalah kombinasi yang akan menentukan tingkat kesehatan pasien di akhir musim.

About Aditya Putrawan 16 Articles
A die hard football fan who always prefer enjoying the beauty of football at the weekend instead of anything else. If you wanna talk about football for hours, then luckily you just found your man.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*