Korban Terbaru PSSI

Malam itu langit tampak cerah di atas kota Nay Pyi Taw, Myanmar. Di salah satu sudut kota, berdiri sebuah bangunan megah berbentuk oval dengan cahaya yang memancar terang dari dalam, Wunna Theikdi Football Stadium, begitu nama resmi bangunan tersebut. Di dalamnya, 22 pemuda berlarian bercucuran keringat dalam laga pamungkas babak penyisihan grup B Piala AFC U-19.

Uni Emirat Arab yang berkostum merah mendominasi jalannya pertandingan, sedangkan sang lawan yang berkostum putih, tim yang digadang-gadang akan mampu berbicara banyak, tampil loyo mengingat kans mereka untuk lolos ke babak berikutnya telah kandas. Di depan bench tim berkostum putih, terlihat seorang pria berkulit sawo matang, berkumis hitam tebal dengan gaya sporty ala Juergen Klopp sedang mengamati jalannya pertandingan. Sesekali ia memberikan instruksi kepada para pemain yang pikirannya sudah berada di tempat lain, entah di mana.

Waktu berlalu hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, dan kembali  Indonesia harus menelan pil pahit, kali ini dari Uni Emirat Arab. Alih-alih lolos ke babak semifinal seperti yang ditargetkan, Garuda Jaya harus puas menjadi juru kunci klasemen dengan poin nihil. Dan seperti kegagalan-kegagalan sebelumnya, harus ada pihak yang dikambing-hitamkan.

Publik pada umumnya menyalahkan PSSI yang dinilai terlalu mengkomersialkan timnas U-19 dan memberikan beban yang terlalu berat pada pundak pemuda-pemuda ini. Saya sendiri tidak mau menyalahkan siapapun, biarlah semua pihak introspeksi diri dan mulai berbenah. Bangkit dari kegagalan dengan menyusun rencana yang lebih matang jauh lebih baik daripada sekedar menggerutu dan mencari kambing hitam. Dan sepertinya PSSI memulai rencana untuk bangkit dengan memberhentikan sang pelatih, pria yang setia berdiri di tepi lapangan mengawal timnas U-19 dalam 3 tahun terakhir.

Coach Indra, begitu ia kerap disapa, resmi mengakhiri masa-masa bulan madu dengan anak-anak asuhnya. Berbagai prestasi cemerlang, yang tak perlu saya sebutkan satu persatu karena saya yakin masih tersimpan dengan rapi di memori otak anda, tak cukup untuk menutupi kegagalan memenuhi target luar biasa PSSI, menembus babak semifinal Piala AFC guna lolos ke Piala Dunia U-20. Target yang didasari oleh optimisme yang menjulang tanpa didukung persiapan yang matang.

Sudah tepatkah keputusan PSSI? Sangat wajar memang jika seorang pelatih dipecat ketika gagal mencapai sebuah target. Roberto Mancini dipecat oleh Galatasaray setelah gagal membawa klub meraih gelar juara liga, Clarence Seedorf dan David Moyes di-phk setalah tak mampu membawa Milan dan United lolos ke Eropa, dan masih banyak contoh lainnya. Namun jika melihat kebelakang akan prestasi dan hal-hal positif yang telah diberikan oleh pria asal Sumatera Barat ini, saya pribadi sangat menyayangkan keputusan PSSI.

Indra Sjafri tak hanya memberikan gelar, ia juga mampu membangkitkan optimisme dan gairah masyarakat tanah air akan sepakbola. Sejak mulai mengikuti sepakbola nasional di awal tahun 2000 hingga sekarang, saya perhatikan belum ada timnas junior yang sangat dibanggakan, dielu-elukan, dan diharapkan publik selain timnas arahan Indra Sjafri. Dan tahukah anda bahwa sebelum kata “blusukan” diidentikkan dengan Jokowi, Indra Sjafri telah lebih dulu melakukan metode ini guna menjaring bibit-bibit muda potensial.

Ia terpaksa terjun langsung ke pelosok-pelosok daerah karena minimnya kompetisi usia dini yang sudah seharusnya menjadi perhatian PSSI. Bahkan ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa Coach Indra terkadang “blusukan” dengan biaya pribadi, bukti totalitasnya pada profesi dan kecintaannya pada ibu pertiwi.

Prestasi lainnya tentu saja fakta bahwa timnas U-19 yang sekarang adalah made in Indra Sjafri, dialah yang mengumpulkan pemain-pemain ini sejak 2011. Dialah yang mengasah mental, membimbing, dan membentuk gaya permainan timnas muda yang kita lihat sekarang. Para pemain berhasil didoktrin dengan filosofi sepakbola yang tak hanya mengutamakan hasil akhir, tapi juga nikmat dipandang.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa salah satu faktor kegagalan Ravi Murdianto cs. di Myanmar ada pada penerapan taktik sang pelatih. Pola 4-3-3 yang menjadi andalan Indra Sjafri terlalu mudah dibaca dan diantisipasi oleh para lawan, Garuda Jaya mati gaya. Dan celakanya Coach Indra seperti tak memiliki alternatif lain.

Lantas apakah adil untuk melempar semua tanggung jawab kepada Indra Sjafri? Tentu tidak. Untuk mengubah pola permainan atau memecah kebuntuan di suatu pertandingan, dibutuhkan pemain-pemain dengan karakter yang berbeda dan skill individu yang mumpuni. Dengan melihat kondisi terkini, pembinaan pemain usia muda yang jalan ditempat dan minimnya kompetisi, kebutuhan tersebut tentu sulit dicapai. Coach Indra sudah berusaha semaksimal mungkin mengumpulkan pemain-pemain terbaik ditengah segala keterbatasan yang ada.

Lalu apakah ada unsur lain dibalik pemecatan Indra Sjafri? Politik mungkin? Atau kepentingan mafia-mafia sepakbola kelas kakap? Saya tak ingin menambah bensin pada api kebencian pecinta sepakbola nasional pada PSSI. Bagaimanapun kita harus menghargai keputusan mereka karena sungguh tak bijak untuk menghakimi keputusan tersebut sekarang. Waktu yang akan menjawab tepat atau tidaknya keputusan ini.

Sekarang yang dapat kita harapkan adalah PSSI dapat merekrut pelatih dengan kualitas yang lebih baik dari Coach Indra. Dan kedepannya semoga otoriter tertinggi di persepakbolaan Indonesia ini bisa memperbaiki sistem pembinaan usia muda, agar kita tak perlu lagi meminjam jasa pemain naturalisasi kelak.

Laga melawan Uni Emirat Arab beberapa waktu lalu adalah kali terakhir kita melihat pria berkumis tebal, berkulit sawo matang, dan dengan gaya sporty mondar-mandir di depan bench timnas U-19 sambil sesekali meneriaki Ilham Udin untuk lebih berani menusuk ke jantung pertahanan lawan, kecuali tentunya jika PSSI memilih pengganti dengan tipikal serupa.

Terima kasih Indra Sjafri! Pecinta sepakbola nasional tak akan melupakan jasa-jasamu.

About Aditya Putrawan 16 Articles
A die hard football fan who always prefer enjoying the beauty of football at the weekend instead of anything else. If you wanna talk about football for hours, then luckily you just found your man.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*