Mancini dan Cinta Lama yang Bersemi Kembali

Bulan Juni adalah bulan yang ditunggu-tunggu para buruh sepakbola, khususnya bagi mereka yang bekerja di Eropa. Setelah kaki-kaki bekerja keras selama lebih kurang sembilan bulan di industri sepak bola, mereka akhirnya bisa mencicipi kenikmatan liburan musim panas. Tujuan utama para buruh berupah miliaran rupiah ini tak lain dan tak bukan adalah pantai. Ditengah teriknya sengatan matahari musim panas yang menusuk fisik dan mental yang terkuras, hamparan pasir halus dan wanita-wanita berbikini, ditambah sejuknya angin pantai dan segarnya air laut adalah kombinasi yang sempurna.

Paragraf diatas hanyalah ilusi untuk menggambarkan betapa menyenangkannya bulan Juni bagi para buruh sepakbola, termasuk bagi salah seorang kepala buruh yang namanya mulai diperhitungkan sejak satu dekade silam, Roberto Mancini. Di bulan Juni tahun ini, Mancio (sapaan akrab Mancini) tengah bersantai dengan sang istri di salah satu pantai yang biasanya ditongkrongi oleh para pria berkantong tebal setelah melewati musim perdananya mengepalai buruh-buruh Galatasaray.

Finish sebagai runner-up di liga yang otomatis membawa Galatasaray berhak tampil di Liga Champions musim ini serta satu gelar Turkish Cup membuat Mancini merasa berhak mendapatkan liburan yang tenang dan tentram. Telepon dari Ünal Aysal, presiden Galatasaray saat itu, ditanggapi dengan antusias oleh Mancini. Ia rela mengakhiri sejenak program leyeh-leyeh di pantai guna memenuhi panggilan sang presiden, ia yakin bahwa akan ada pembicaraan penting mengenai masa depan klub.

Namun malang bagi Mancini, pertemuannya dengan para petinggi klub berakhir dengan pemutusan kontrak sang pelatih yang sejatinya masih tersisa 2 tahun. Kedua belah pihak tak dapat mencapai kata sepakat perihal proyek masa depan klub. Matahari musim panas terasa makin menyengat bagi Mancini. Pelatih yang mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris bagi Manchester City dua tahun silam ini tak bisa lagi menikmati secangkir teh di restoran kelas atas di tepi Laut Bosphorus.

Namun nama besar dan curriculum vitae memukau Mancini membuat ia tak perlu menganggur lama. Setelah sempat dihubungkan dengan pos di tim nasional Portugal, Mancio resmi kembali ke pangkuan kekasih lama, Internazionale Milan. Rangkaian hasil buruk di kancah domestik membuat presiden baru Inter, Erick Thohir, terpaksa memecat Walter Mazzarri. Pemilihan Mancini sebagai suksesor tak lepas dari kisah manis yang dituangkannya dalam bentuk tiga scudetto dan dua gelar Coppa Italia selama empat tahun menukangi La Beneamata dalam kurun 2004-2008.

Bersama Inter, Mancini menjelma menjadi kepala buruh yang disegani. Inter dibuatnya menjadi hegemoni baru di kancah perindustrian sepakbola Italia, walaupun para fans Juventus dan Milan selalu dengan sinis mencibir pencapaian Inter dibawah Mancini sebagai ‘hadiah’ dari kasus calciopoli. Masa-masa indah ketika berkuasa inilah yang ingin dirasakan kembali oleh para Interista (sebutan untuk fans Inter). Mereka rindu akan masa dimana mereka dapat menginjak-nginjak suporter lain dengan nyanyian-nyanyian sarkasme yang menegaskan hegemoni Inter di tanah Italia.

Menanti Kencan Pertama

Cinta lama telah bersemi kembali. Inter dan Mancini resmi ‘balikan’. Sebagian orang menganggap balikan hanya sebuah usaha yang membuang-buang waktu, layaknya menonton film yang sama untuk kedua kali dengan ending yang sudah sama-sama tahu. Benarkah demikian? Saya sendiri kurang setuju dengan analogi tersebut.

Alasan logis dari usaha balikan adalah kedua belah pihak ingin mengulang masa-masa indah yang pernah mereka lalui, dengan diiringi harapan bahwa kali ini ending dari cerita tersebut berakhir dengan manis. Untuk memastikan akhir cerita jilid dua ini tak berakhir sesendu film AADC yang diperankan oleh Nicholas Saputra dan si cantik Dian Sastro, kedua pihak tentu harus introspeksi diri dan tak boleh melakukan kesalahan yang sama.

Kesalahan Mancini yang membuatnya harus mengakhiri kisah asmara dengan Inter adalah kegagalan membawa sang kekasih melangkah jauh di kompetisi Eropa. Sedangkan kesalahan Inter di masa lampau adalah tidak memberikan waktu yang cukup bagi Mancio untuk dapat membawa Inter berbicara lebih banyak di Eropa.

Sekarang dengan kesempatan kedua, Thohir tak ingin membebani pelatih 49 tahun ini dengan beban berat. Target dari Thohir sangat sederhana, meloloskan Inter ke kompetisi Eropa. Disini kata ‘Eropa’ sedikit memicu ambiguitas. Kompetisi Eropa bisa berarti Liga Eropa ataupun Liga Champions, namun mengingat Inter memang tengah bermain di Liga Eropa musim ini, Mancini pasti paham bahwa maksut implisit dari sang presiden adalah meloloskan Inter ke habitat asli mereka, Liga Champions.

Jalan terjal langsung menjumpai pelatih yang semasa aktif bermain dikenal sebagai penyerang dengan teknik tinggi ini. Ujian pertamanya mewajibkan ia berhadapan dengan rival abadi Internazionale, AC Milan. Rekor Mancini tak terlalu bagus, namun juga tak jelek-jelek amat saat melawan Milan dengan syal biru-hitam melingkar di lehernya. Empat kemenangan, satu hasil seri dan lima kekalahan didapat Mancini dalam empat tahun rezimnya bersama Inter.

Secara kebetulan, salah satu pencetak gol di laga derbi terakhir Mancini pada 2008 yang berkesudahan 2-1 buat sang rival adalah allenatore yang akan ditantang Mancini pada grande partita akhir pekan ini. Pelatih yang juga merupakan mantan striker dengan insting mencetak gol luar biasa, Filippo Inzaghi.

Menghadapi Inzaghi, Mancini diyakini akan menerapkan formasi favoritnya, 4-4-2 dan meninggalkan pola 3-5-2 warisan Mazzarri. Fans Inter yang antipati terhadap pola 3 bek boleh saja antusias,namun pertanyaannya adalah, mampukah para pemain Inter beradaptasi terhadap formasi dan sistem permainan yang baru guna menghadapai Milan? Itulah pekerjaan rumah pertama pelatih yang digelari Mr.Cup Specialist karena rekor menterengnya yang selalu membawa tim yang diarsitekinya melaju setidaknya hingga babak semifinal dalam ajang cup domestik.

Semua orang tahu bahwa kemenangan di laga derbi tak hanya bernilai tiga poin, namun juga dapat membangkitkan moral pemain dan meningkatkan gairah para suporter. Momentum pasca kemenangan di derbi inilah yang akan coba direalisasikan oleh Mancini guna memberikan kado spesial di kencan pertamanya setelah enam tahun berpisah.

Mampukah Mancini? Sebagai fans sang rival, saya tentu berharap Inzaghi sukses merusak kencan pertama Mancini.

Salam derbi Milan!

About Aditya Putrawan 16 Articles
A die hard football fan who always prefer enjoying the beauty of football at the weekend instead of anything else. If you wanna talk about football for hours, then luckily you just found your man.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*