Mie Instan ala PSSI

Jika Amerika punya burger sebagai fast-food andalan, maka Indonesia punya mie instan. Dari Sabang sampai Merauke, inilah makanan cepat saji favorit anak bangsa dikarenakan rasa yang lezat, harga yang terjangkau dan tentu saja, kepraktisannya. Dan tanpa disangka, ternyata mie instan juga menjadi makanan favorit para pengurus Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Benarkah demikian? PSSI tampaknya senang dengan sesuatu yang cepat, praktis, dan tidak membutuhkan biaya yang besar, seperti pemain naturalisasi. PSSI menaturalisasi pemain – pemain berkewarganegaraan asing untuk memperkuat tim nasional Indonesia. Praktis, seperti mie instan .

Namun sudah tepatkah kebijakan PSSI ini? Bukankah memasak bahan-bahan mentah yang dicampur dengan rempah alami akan menghasilkan makanan yang jauh lebih nikmat dari mie instan?

Sedikit menoleh kebelakang, kita melihat negara pertama yang melakukan proses naturalisasi di kawasan Asia Tenggara sukses besar. Ya, negara itu adalah Singapura. Negeri yang hanya memiliki penduduk 3 juta jiwa ini menaturalisasi beberapa pemain asing pada perhelatan piala Tiger 2002 dan langsung berhasil merengkuh trofi Piala Tiger 2 tahun setelahnya. Apakah ini yang menjadi rujukan PSSI untuk menjawab rasa haus gelar 240 juta rakyat Indonesia?

Jika melihat dari sisi prestasi, hasil dari kebijakan PSSI ini masih nol besar. Sampai sejauh ini ada total 9 pemain asing yang dinaturalisasi PSSI dan mereka belum memberikan sumbangsih gelar apapun bagi timnas Indonesia, baik itu untuk timnas U-23 ataupun untuk timnas senior. Jangankan di tingkat Asia, di tingkat Asia Tenggara saja Indonesia masih merasakan paceklik gelar, dimana terakhir kali Timnas merasakan gelar juara adalah pada Sea Games 1991.

Apa yang salah dengan naturalisasi yang dilakukan PSSI? Apakah terlalu susah untuk mencari 11 pemain berkualitas dunia di negara berpenduduk seperempat milyar? Menurut saya, sedikitnya ada 3 kesalahan fundamental yang dilakukan PSSI :

  1. Kualitas pemain naturalisasi tidak cukup memadai. Apa artinya menaturalisasi pemain asing jika kualitasnya kurang lebih sama dengan pemain lokal? PSSI kurang cermat dalam proses seleksi pemain asing untuk dinaturalisasi dan terkesan memaksa.
  2. Kualitas liga domestik yang masih jauh dibawah standar. Gencarnya arus pemain naturalisasi tidak diimbangi dengan suplai pemain lokal berbakat yang sebenarnya tersebar di berbagai daerah. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kompetisi lokal kita yang masih amburadul dan membutuhkan pembenahan di banyak sektor.
  3. Pembinaan usia dini yang jalan di tempat. Daripada mengambil jalan pintas yang sampai sekarang masih belum ada hasilnya, sudah seharusnya PSSI lebih fokus terhadap pembinaan pemain-pemain muda di Indonesia. Mulai dari pembentukan timnas junior yang berjenjang, pembangunan fasilitas pemusatan latihan yang memadai hingga memberi jam terbang yang cukup kepada pemain-pemain muda.

Masalah yang disebut terakhir rasanya sudah mulai dibenahi oleh PSSI secara perlahan dengan munculnya Timnas U-19 yang baru-baru ini sukses meraih gelar juara di ajang AFF Cup U-19 yang diselenggarakan di Jawa Timur. Tak lama berselang Evan Dimas, cs. berhasil meloloskan Indonesia ke putaran final Piala Asia U-19, setelah berhasil mengalahkan Korea Selatan di partai penentu di babak kualifikasi. Kesuksesan anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku SMA ini seakan menjadi pelepas dahaga pecinta bola di seluruh pelosok negeri yang sudah sejak lama mendambakan gelar juara.

Kembali ke masalah naturalisasi, sebetulnya saya tidak menolak mentah-mentah pembelian ‘mie instan’ ini karena jika kita melihat lebih luas, di belahan dunia lain proses naturalisasi sangat marak terjadi. Bahkan negara-negara pelanggan Piala Dunia sekalipun pernah melakukan proses naturalisasi pemain asing untuk memperkuat tim nasional negara tersebut. Ambil contoh Italia dengan Mauro Camoranesi (asli Argentina), Portugal dengan Deco (asli Brasil) ataupun Spanyol dengan Marcos Senna (asli Brasil). Terbukti ketiga pemain tersebut membawa dampak besar akan keberhasilan tim nasional masing-masing negara.

Mungkin PSSI harus menuruti nasihat para orang tua mereka, makan mie instan memang nikmat, tapi jangan sampai berlebihan karena bisa berdampak tidak baik untuk kita. Akan jauh lebih baik jika kita bisa memanfaatkan bahan – bahan dan rempah – rempah alami untuk membuat makanan.

Jadi, apakah PSSI adalah anak yang penurut?

Ditulis oleh Aditya Putrawan – @aditputrawan

About Aditya Putrawan 16 Articles
A die hard football fan who always prefer enjoying the beauty of football at the weekend instead of anything else. If you wanna talk about football for hours, then luckily you just found your man.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*