Penunjukan Seedorf, sudah tepatkah?

Masa kepelatihan Massimiliano Allegri di AC Milan berakhir setelah pihak manajemen memutuskan untuk memecat pria kelahiran Livorno (Italia) ini akibat dari performa dan hasil buruk Milan di musim ini. Kekalahan 4-3 dari tim promosi Sassuolo menjadi akhir dari cerita cinta antara Max Allegri dan Milan. 1 titel scudetto dan 1 gelar Supercoppa Italia dalam 3,5 tahun terakhir dirasa tak cukup oleh pihak manajemen. Allegri dipecat dan pihak manajemen mendatangkan allenatore yang namanya sudah sangat familiar di telinga para fans si merah-hitam, Clarence Clyde Seedorf.

Pria berusia 37 tahun ini bukanlah sosok asing di San Siro. Seedorf merumput selama satu dekade bersama I Rossonerri dan berjasa besar akan gelar-gelar yang diraih Milan. Skill mumpuni ditambah jiwa kepemimpinan dan sikap profesionalitas baik di dalam maupun di luar lapangan membuat Seedorf menjadi salah satu contoh ideal bagi pesepakbola. Dengan kriteria tersebut, Seedorf dinilai banyak orang pantas layak untuk menangani tim besar usai gantung sepatu. Lantas faktor inikah yang menjadi alasan utama penunjukkan Seedorf sebagai pelatih anyar Milan? Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani pasti punya pertimbangan tersendiri.

Pro dan kontra menyelimuti penunjukkan allenatore anyar kelahiran Suriname ini. Sebagian pengamat menilai Seedorf sudah siap untuk menangani tim sebesar Milan lantaran kepribadian yang menonjol serta faktor kedekatannya dengan Milan. Setelah 10 tahun meniti karir bersama si setan merah, Seedorf tentu sudah paham betul seluk beluk tim pemilik 7 gelar Liga Champions ini. Hal ini juga diamini oleh mantah pelatih Milan, Carlo Ancelotti, yang menilai Seedorf akan menjadi seorang pelatih sukses yang akan mampu membawa Milan kembali ke masa kejayaannya.

Namun sebagian pengamat menganggap Seedorf masih terlalu hijau lantaran tak memiliki pengalaman sebagai pelatih. Mereka menilai Milan terlalu gegabah dan tak belajar dari pengalaman ketika menunjuk Leonardo, pada tahun 2009, sebagai pengganti Carlo Ancelotti, yang memutuskan untuk hijrah ke Chelsea. Dalam 1 tahun kepemimpinannya, Leonardo tidak sanggup membangkitkan Milan yang lagi-lagi melewati musim tanpa gelar. Perlu dicatat bahwa Leonardo juga merupakan mantan pemain Milan dan bahkan bekerja untuk Milan seusai gantung sepatu sebelum ditunjuk sebagai nahkoda anyar. Leonardo dianggap gagal lantaran terlalu berani memainkan sepakbola menyerang tanpa memikirkan kesimbangan di lini pertahanan. Hal ini dianggap para pengamat diakibatkan oleh pengalaman melatih Leonardo yang masih nol besar sebelum ditunjuk untuk melatih Milan.

Akankah Il Professore bernasib sama seperti Leonardo? Terlalu dini untuk menilai kinerja Seedorf yang harus membawa Milan mengarungi masa transisi. Banyak masalah yang harus diselesaikan oleh Seedorf, mulai dari skema permainan yang belum mapan, pertahanan yang rapuh, kurangnya kreatifitas di lini tengah, hingga ketergantungan Milan akan seorang Mario Balotelli. Butuh waktu bagi pemilik 87 caps bersama timnas Belanda ini untuk menyelesaikan berbagai masalah di Milan.

Namun, jika melihat 6 pertandingan pertamanya sebagai pelatih anyar, Milanisti boleh menaruh harapan. Skema 4-2-3-1 yang diusung Seedorf menjanjikan Milan yang bermain indah dan menyerang namun juga kuat dalam bertahan. Tapi, perlu diperhatikan bahwa para pemain butuh waktu untuk beradaptasi dengan skema baru ini, lantaran belakangan Milan selalu memainkan pola 3 gelandang, apakah itu 4-3-1-2, 4-3-2-1, atupun 4-3-3. Disamping itu, bukan perkara gampang bagi Seedorf untuk menentukan starting eleven terbaik jika melihat komposisi pemain Milan yang pas-pasan. Hasil 3 kemenangan, 1 kali imbang dan 2 kekalahan menjadi bukti sahih bahwa skema total football ala sang profesor masih jauh dari kata sempurna.

Sekarang biarkanlah Seedorf berkreasi menyusun ulang kepingan-kepingan puzzle dengan chemistry yang pas. Beri ia waktu. Akhir musim nanti barulah kita bisa menilai apakah keputusan manajemen Milan dalam menunjuk sang profesor sebagai pelatih anyar sudah tepat atau justru sebuah keputusan yang keliru.

Bentornato Seedorf!

About Aditya Putrawan 16 Articles
A die hard football fan who always prefer enjoying the beauty of football at the weekend instead of anything else. If you wanna talk about football for hours, then luckily you just found your man.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*