Perkasanya Madrid, Terpuruknya Milan

Setelah all-German final, antara Bayern Munchen dan Borussia Dortmund,di Liga Champions tahun lalu, kali ini giliran 2 tim Spanyol yang akan mempertunjukkan all-Spanish final, antara Real Madrid dan Atletico Madrid, di babak final Liga Champions edisi 2013-2014. Mereka bukan hanya berasal dari negara yang sama, namun juga berdomisili di kota yang sama, Madrid. Sepanjang sejarah Piala/Liga Champions, baru kali ini dua tim sekota akan saling berhadapan di partai puncak. Real Madrid sukses menembus final setelah menghempaskan juara bertahan, Bayern Munchen, dengan agregat 5 gol tanpa balas. Sedangkan saudara sekota mereka, Atletico Madrid, mampu menyingkirkan wakil Inggris pelanggan Liga Champions dalam 10 tahun terakhir, Chelsea, dengan dramatis di Stamford Bridge.

Keperkasaan duo Madrid di musim ini memang tak bisa dibantah baik di kancah domestik maupun internasional (baca : Champions League).

Atletico tampil luar biasa dan menjelma menjadi kekuatan baru semenjak ditangani Diego Simeone. Mereka mampu merusak dominasi 2 superpower, Barcelona dan Real Madrid yang silih berganti menjadi kampiun Liga Spanyol sejak 2005. Pecinta bola yang sudah bosan dengan hegemoni dua tim tersebut dibuat tersenyum dan kembali bergairah berkat penampilan cemerlang Arda Turan, dkk. yang sementara sukses membawa Los Rojiblancos duduk manis di puncak klasemen.

Real Madrid sendiri memang sudah diprediksi akan berbicara banyak di semua kompetisi yang mereka ikuti mengingat squad super yang mereka miliki. Pembelian Gareth Bale dengan harga fantastis di awal musim dibayar si pemain dengan gol spektakuler di final Copa del Rey – gol penentu yang membuat Madrid mengoleksi 19 gelar dari ajang tersebut. Namun, dibalik semua itu kredit terbesar tentu layak disematkan kepada Carlo Ancelotti. Allenatore kelahiran Italia ini sukses menemukan formula yang pas untuk menyatukan para pemain bintang milik El Real. Sudah menjadi rahasia umum bahwa memiliki terlalu banyak pemain bintang akan merusak keseimbangan sebuah tim dan Real sendiri sudah pernah mengalami itu ketika membangun Los Galacticos di awal Milenium. Kini bersama Don Carlo, Los Merengues tidak hanya menatap La Decima yang sudah diidam-idamkan lebih dari satu dekade, namun mereka juga siap mengejar Treble Winner.

Berbicara mengenai duel tim sekota, akhir pekan ini tersaji salah satu duel tim sekota terbesar di dunia, mengingat jumlah fans secara global dan jumlah trofi yang telah dimenangkan kedua tim secara kolektif, yang mempertemukan AC Milan dan Inter Milan. Namun sayang, Derby Della Madonnina kali ini bisa dibilang telah mengalami degradasi. Dalam beberapa tahun terakhir laga derby antar dua tim kota mode di Italia ini kerap kali menentukan pemenang scudetto atau setidaknya tiket ke Liga Champions di akhir musim, tapi kali ini, laga kakak-adik yang berjarak usia 9 tahun ini hanya akan menentukan siapa yang berhak lolos ke Liga Eropa. Menilik sejarah panjang kedua tim, rasanya tak pantas jika kedua raksasa Italia ini “hanya” bermain di kasta kedua kompetisi antar-klub Eropa.

Namun, itulah fakta yang harus diterima fans kedua tim, disaat tim-tim lain akan ambil bagian di Liga Champions musim depan, Milanisti dan Interisti mungkin hanya akan menyaksikan tim kesayangan mereka bermain di Liga malam Jum’at. Karena itulah derby Milan kali ini bisa dibilang hanya mengedepankan gengsi, sebab bagaimanapun kondisi dan posisi kedua tim di klasemen, kemenangan di laga derby akan menjadi obat yang cukup untuk mengobati luka para pendukung setianya. Kemenangan tentunya juga akan menaikkan moral para pemain guna mengakhiri musim sebaik mungkin.

Derby ke-209 (jika menghitung semua laga resmi) kali ini akan menempatkan  sang kakak (baca: AC Milan) sebagai tuan rumah. Ini berarti jumlah pendukung si adik (baca: Internazionale) akan dibatasi di bagian Curva Nord saja, sedangkan bagian stadion yang lain akan diisi oleh suporter si merah-hitam. Satu hal yang patut disayangkan adalah besar kemungkinan laga ini akan sepi penonton – San Siro hanya akan diisi oleh 60.000-70.000-an suporter. Para fans tampaknya sudah kecewa dengan performa tim kesayangan mereka, sehingga tiket pertandingan besok malamtidak terjual habis.

Sejauh ini, rekor pertemuan kedua tim di semua ajang resmi masih memihak Inter yang sementara unggul 3 kemenangan atas Milan – Intermemenangkan 76 pertandingan, sementara Milan hanya memenangkan 73 pertandingan, sedangkan di 62 pertandingan resmi lainnya mereka berbagi hasil imbang. Meski tidak sebergengsi tahun-tahun sebelumnya, laga antara kedua tim dijamin akan berlangsung panas seperti biasanya, mengingat rivalitas yang sudah mengakar lebih dari 1 abad lamanya.

Milan, kota yang dalam beberapa dekade terakhir menjadi salah satu kiblat sepakbola dunia kini harus terjun payung dan merelakan tempat mereka diambil oleh Madrid. Krisis finansial yang menimpa Italia, manajemen keuangan yang buruk, serta minimnya dana segar dari investor baru mungkin menjadi alasan keterpurukan dua tim kebanggan Lombardia ini. Ketika laga Milan vs Inter tidak terlalu digubris dan kurang mendapat perhatian media, laga antara duo Madrid di final Liga Champions nanti sudah dinanti-nanti oleh para maniak sepakbola. Dan ketika duo Milan sama-sama kesulitan menambah amunisi squad dengan pemain berkualitas, duo Madrid justru diyakini bakal menambah pasukan mereka dengan pemain-pemain baru level dunia dengan modal neraca surplus dari pencapaian mereka di Liga Champions. Sebuah ironi yang mungkin masih akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan.

Salam hangat dari Negeri Pizza!

About Aditya Putrawan 16 Articles
A die hard football fan who always prefer enjoying the beauty of football at the weekend instead of anything else. If you wanna talk about football for hours, then luckily you just found your man.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*