Skema Tua si Nyonya Tua

Tuntas sudah pergelaran Lega Calcio Serie-A Italia musim ini. Mahkota juara lagi-lagi disabet oleh “anak kesayangan” para penduduk negeri Pizza, Juventus. Mereka berhasil menggondol gelar scudetto untuk ketiga kalinya secara berturut-turut setelah sukses mengambilnya dari AC Milan pada 2012. Tersungkurnya pesaing terdekat AS Roma di markas Catania pada pekan ke-36 memastikan gelar liga ke-30 Juventus, yang membuat mereka berhak memamerkan 3 bintang diatas logo klub di jersey mereka mulai musim depan. Sebuah pencapaian yang fenomenal mengingat pesaing terdekat mereka dalam urusan scudetto, duo Milano, masing-masing “hanya” memiliki 18 gelar juara. Alih-alih mengejar bintang kedua agar dapat menyamai Juve, 2 tim sekota ini bahkan tidak akan ambil bagian di Liga Champions musim depan. Dan tak hanya rekor 3 bintang, Juventus juga sukses mengukir 2 rekor anyar lainnya di musim ini: tim dengan jumlah poin terbanyak dalam 1 musim (102 poin) sepanjang sejarah liga, dan tim dengan rekor kandang 100% alias selalu menang di kandang!

Pencapaian tim asal Turin ini memang spesial, setelah harus turun kasta ke Serie-B akibat tersandung kasus calciopoli pada 2006, mereka bangkit dalam rentan waktu yang relatif singkat. Loyalitas pemain-pemain sekaliber Gigi Buffon dan Alessandro Del Piero yang rela bermain di kasta kedua, ditambah solidnya manajemen yang bekerja keras dibalik layar, dan dibangunnya stadion baru yang selesai dan mulai dipakai di tahun 2011 merupakan faktor-faktor penting penopang keberhasilan transisi Juventus. Stadion baru bernama Juventus Stadium ini tidak hanya modern dan elegan, tetapi juga sangat bertuah bagi I Bianconeri. Bagaimana tidak, semenjak berpindah markas Juve kembali dapat menunjukkan taringnya sebagai yang terbaik di Italia. Namun faktor stadion baru mungkin tidak akan ada artinya jika pada tahun yang sama dengan tahun pembukaan stadion, manajemen Juve tidak menunjuk Antonio Conte sebagai pelatih.

Pria kelahiran Lecce, Italia, 44 tahun silam ini bisa dikatakan sebagai dalang utama dibalik kesuksesan Juventus dalam 3 tahun terakhir. Setelah lebih dari 1 dekade mengenakan seragam hitam-putih dan meraih hampir semua gelar bergengsi, Conte tentu paham betul apa yang harus dilakukan untuk membangunkan Si Nyonya Tua dari tidurnya yang panjang. Dan secara mengejutkan Conte memilih formasi lawas 3-5-2 sebagai skema andalannya untuk membawa Juve kembali ke masa keemasan. Pilihan yang tak salah, dengan formasi “jadul” ini Juventus menjadi kekuatan baru tapi lama yang menakutkan di Italia.

Pola 3-5-2 bisa dibilang muncul ke permukaan pada tahun 1986 ketika Argentina dibawah asuhan Carlos Bilardo menggunakan formasi ini untuk mengakomodasi Maradona agar dapat bergerak lebih bebas di lapangan. Hasilnya? Argentina sukses merengkuh trofi paling bergengsi di dunia sepakbola ini. Lalu pada era 90an beberapa negara kuat seperti Jerman barat dan Brasil juga memakai acuan dasar formasi ini ketika sukses menjadi yang terbaik di dunia, Tim Panser pada 1990 dan Tim Samba pada 1994. Sekarang skema 3 bek memang sudah sangat jarang diterapkan di Eropa, walaupun masih cukup popular di Italia dimana setidaknya ada 4 tim yang masih memakai skema ini: Juventus, Inter, Fiorentina, dan Udinese.

Inti dari pola yang sekilas terlihat sangat menonjolkan kekuatan di lini pertahanan ini adalah kedisiplinan dan kreatifitas. Tiga bek tengah yang biasanya diisi 1 sweeper dan 2 center-back diharuskan untuk tak hanya mahir menghadang lawan dan menyapu bola, tetapi juga dapat diandalkan untuk menjaga penguasaan bola dan sesekali naik membantu penyerangan. Tiga gelandang tengah memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tergantung selera pelatih. Namun ketiganya diwajibkan memiliki skill passing, first touch, dan kreatifitas diatas rata-rata karena bola akan sangat banyak bergerak di kaki mereka.

Dua sayap atau wing-back mungkin bisa dibilang faktor penentu keberhasilan skema 3-5-2. Mereka dituntut untuk mempunyai stamina ekstra dan kemampuan yang sama baik antara bertahan dan menyerang. Hal ini disebabkan oleh tugas ganda yang mereka miliki, membantu penyerangan dengan memanfaatkan lebar lapangan sekaligus membantu pertahanan dengan mengawal pemain sayap lawan. Sedangkan 2 striker di depan tak hanya harus mampu menyelesaikan umpan-umpan terobosan dari para gelandang dan umpan-umpan silang dari para wing-back, mereka juga dituntut untuk turun menjemput bola guna membantu jalannya alur serangan.

Seberapa efektifkah pola ini? Jika diterapkan dengan sempurna, pola 3-5-2 akan menghasilkan daya serang yang luar biasa, bola akan menghujani kotak penalti lawan dari segala arah, dan gol dapat tercipta dari hampir semua pemain. Pola ini juga dapat memperkokoh pertahanan karena sejatinya ketika bertahan, 2 wing-back akan turun menemani 3 bek tengah untuk membentuk pola 5-3-2. Juventus benar-benar mengeksploitasi potensi 3-5-2 dalam 3 tahun terakhir. Conte sukses membuat Juve tak hanya kuat dalam bertahan, namun juga menakutkan ketika menyerang.

Implementasi skema lawas ini memang menuai sukses besar di Italia, namun ketika harus bertarung di Eropa, Si Nyonya Tua kelihatan kesusahan. Apa yang salah dengan 3-5-2? Kelemahan sistem ini adalah ketika harus dihadapkan pada tim yang menggunakan 1 striker dan mengoptimalkan serangan dari sayap. 3 bek tengah akan dibuat bingung dengan pergerakan bebas lone striker ini, sedangkan 2 wing-back yang seharusnya juga aktif membantu serangan “dipaksa” untuk tetap berada di posisinya karena tekanan dari winger pemain lawan, belum lagi jika lawan tersebut memainkan full-back yang aktif membantu kerja para winger.

Di Italia, jarang ditemukan tim yang sangat mengandalkan lebar lapangan ketika menyerang. Pada umumnya mereka lebih mengandalkan umpan-umpan terobosan dan wall-pass untuk membongkar pertahanan lawan. Inilah alasan mengapa Juventus sangat perkasa di Serie-A, namun ketika berhadapan dengan wakil-wakil Eropa lainnya yang mayoritas memainkan skema 4-3-3 atau 4-2-3-1, Juve akan mengalami kesulitan. Kekalahan dari Benfica pada semifinal Liga Eropa kemarin adalah bukti nyata ketidakefektifan 3-5-2 di Eropa.

Antonio Conte juga sudah menyadari hal ini, dan allenatore yang semasa aktif menjadi pemain berposisi sebagai gelandang ini dikabarkan ingin mencoba skema baru di musim depan. Skema 4-3-3 atau bahkan formasi ultra ofensif 3-3-4 santer diberitakan akan coba diusung Conte. Bukan rahasia lagi jika Conte menyukai permainan menyerang. Baru saja memulai karir sebagai pelatih dengan menukangi Arezzo di 2006 , Conte sudah menerapkan pola 4-2-4! Dengan pola ini jugalah Conte sukses mengantar Bari dan Siena promosi ke Serie-A berturut-turut pada 2010 dan 2011.

Sebagai informasi, alasan utama Conte menggunakan pola 3-5-2 adalah untuk memaksimalkan peran Andrea Pirlo. Dengan didampingi 2 gelandang pekerja keras, Arturo Vidal dan Claudio Marchisio, Pirlo bisa lebih fokus dalam membangun serangan dengan umpan-umpan andalannya tanpa perlu memikirkan pressing dan tackling ketika kehilangan penguasaan bola karena tugas tersebut akan dilakoni oleh Vidal dan Marchisio. Sekarang dengan semakin menuanya Pirlo, Conte membutuhkan formasi alternatif bagi Juventus jikalau harus bermain tanpanya. Di usianya yang ke 34 tahun, sulit berharap Pirlo bisa selalu bugar bermain selama 90 menit untuk 3 pertandingan setiap minggunya. Dan ketika sang “konduktor” absen, terbukti Juve selalu mengalami kesulitan dalam mengontrol permainan dan menciptakan peluang.

Jadi memang wajib bagi Conte untuk memperkenalkan sistem baru di musim depan, untuk mengantisipasi absennya Pirlo dan untuk dapat lebih kompetitif di Eropa. Italia tentu tak ingin wakil terbaik mereka gugur di babak penyisihan grup, seperti yang dialami Juve di musim ini. Dengan mercato yang tepat, Si Nyonya Tua dapat kembali eksis sebagai salah satu raksasa benua biru, dan tentunya dapat melanjutkan dominasi mereka didalam negeri.

Selamat (berjuang kembali) Juventus!

About Aditya Putrawan 16 Articles
A die hard football fan who always prefer enjoying the beauty of football at the weekend instead of anything else. If you wanna talk about football for hours, then luckily you just found your man.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*