Tertunduk di Giuseppe Meazza, Lenyaplah Tiket Eropa

After reaching the top, there is no other way but down”

Sebenarnya ada opsi untuk bertahan di puncak, namun nampaknya Inter Milan lebih memilih untuk turun. Penurunan yang sepertinya belum juga berhenti sejak Mei 2010, saat mereka menjadi tim Italia pertama yang meraih treble winner. Kekalahan 1-3 dari Lazio di Meazza semalam menjadi bukti sahih betapa melempemnya Inter atau lebih tepatnya, semakin melempem.

Handanovic yang dulu piawai menghalau penalti, nampaknya lupa membawa skill tersebut ketika ditransfer dari Udinese. Tak hanya itu, blunder yang dibuatnya saat gol pertama jelas tak memperbaiki keadaan. Juan Jesus juga tidak pernah terlihat meyakinkan. Siapa pula dia ini? Dan Guarin hanya mampu menghajar bola dengan keras, minus akurasi. Tommaso Rocchi? Ah sudahlah…

Tertinggal 1-2 di babak pertama, Inter tampak bermain lebih baik di babak kedua. Mereka berhasil menguasai bola lebih banyak dan menciptakan beberapa peluang, yang tentunya dibuang dengan percuma. Sempat terjadi handsball di kotak penalti Lazio, namun klaim penalti tersebut ditolak wasit. Beberapa menit kemudian akhirnya penalti itu datang, Guarin dijatuhkan. Alvarez maju sebagai eksekutor dan arah angin pun berbalik. Menjadi keuntungan bagi Lazio.

Alvarez terpeleset, dan bola melayang ke arah penonton. Semangat pemain mengendur, Lazio pun tak menyiakan kesempatan dan mulai menyerang hingga datanglah tendangan geledek dari Onazi yang memupus harapan Inter untuk menang. Pupus pula harapan untuk tampil di Liga Eropa musim depan. Kemenangan tersebut juga merupakan kemenangan pertama Lazio atas Inter di Meazza dalam 15 tahun. Dan untuk pertama kali sejak musim 1999/2000, Inter tidak tampil di pentas eropa. Dengan 53 poin dan 2 pertandingan sisa, 60 poin milik Udinese di posisi 5 tidak mungkin lagi disalip. 15 kekalahan di musim ini juga adalah rekor baru, yang mungkin saja bertambah.

Lantas, apa selanjutnya? Banyak yang harus dibenahi agar Inter bisa kembali ke puncak tentu saja. Banyak sekali. Mungkin sebentar, mungkin lama. Ah, apalah artinya lama kalau sudah pernah menunggu 17 tahun untuk scudetto. Atau menunggu 45 tahun untuk gelar Liga Champions. Apakah Inter telah turun kasta hingga ke kasta terrendah? Entahlah. Saya pribadi berharap demikian, karena antitesis dari kalimat pembuka artikel ini adalah “After reaching the bottom, there is no other way but up”. Semoga.

Ditulis oleh: Junero Kennedy – @jvnero

About bolarena 12 Articles
Kirimkan tulisanmu ke admin[at]bolarena[dot]com!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*