Ketika Nama Dewa Terlalu Suci

Sesaat setelah mendengar ramalan bahwa tahtanya akan direbut oleh anaknya sendiri kelak, Kronos bertekad untuk tidak membiarkan buah hati hasil birahi dengan istrinya hidup. Setiap ia mengetahui hasil ‘kopi darat’ sel ovumnya dan sperma istrinya lahir (saya asumsikan seperti itu karena saya tidak tahu bagaimana tepatnya Dewa membuahi), ia segera menelannya bulat-bulat.

Namun, tidak ada yang bisa melawan takdir. Zeus yang diselamatkan oleh ibunya, Rea, berhasil mengeluarkan kakak-kakaknya dari tubuh sang ayah, sebelum menyatakan perang pada sang ayah bersama koloninya dan memenangkannya.

Kisah itu mungkin terlalu menakutkan bagi pemerintah Rosario, Argentina, sehingga memunculkan trauma nyata.

Bak Kronos yang sedang kelabakan, nama Messi tiba-tiba dilarang untuk dianugerahkan pada setiap bayi yang lahir di tanah kelahiran Dewa Kemenangan Lapangan Hijau yang sedang bersemayam dengan damai di Catalan, Lionel Andrés “Leo” Messi Cuccittin (10/9).

Kejadian ini bermula dari Hector Varela yang sumringah luar biasa setelah karunia Tuhan datang lewat rahim istrinya tercinta, Lorena Sanchez. Pasalnya, setelah memiliki dua anak perempuan dan menunggu selama lebih kurang delapan tahun, lahir juga si jago. Mereka pun sepakat menyematkan nama Messi pada anak ketiga mereka.

Sayangnya, pemerintah Rosario mengganggu keintiman Varela dengan mengancam untuk tidak mengeluarkan akta kelahiran ’the new Messi’, yang belum tahu ada kebisingan di luar sana menyangkut dirinya. Alasannya sederhana, pihak berkewajiban setempat tidak ingin ada kejadian absurd terkait pamakaian nama Messi yang dipakai sebagai nama depan, apalagi sampai menyangkutkan Messi yang asli di masa yang akan datang.

Varela pun gerah. Ia yang sudah memantau dan mengidolakan Messi sejak bermain di tim U-17 pun ingin anaknya tetap memiliki nama panggilan dengan sang idola. Kengototan ini muncul gara-gara Varela sudah kepincut dengan hidup Messi di dalam dan luar lapangan, dilanjut dengan nazar untuk menamai anaknya dengan Messi.

“Banyak orang tua yang memberikan nama Lionel pada anaknya sebagai penghormatan terhadap Messi, tetapi apa yang saya lakukan ini akan membuat cinta saya padanya lebih terasa,” Varela berargumen.

Maka, terjadilah sebuah pertarungan sengit antara pihak berwajib Rosario dan Hector Varela demi sebuah perkara nama. Seperti yang bisa jadi sudah Anda duga, Kronos berseragam PNS Rosario diputuskan kalah dan Varela yang seperti sedang dirasuki Zeus melompat kegirangan karena sudah diperbolehkan memiliki Messinya sendiri secara resmi (12/9). Berkatnya, tak ada lagi aturan yang mengekang pelarangan dalam pemakaian nama tertentu, termasuk nama milik ‘Dewa’ mereka, di Rosario.

Tentu – di balik kejadian yang menggambarkan perangai orang tua yang terlalu berhasrat agar anaknya menjadi bintang lapangan hijau ini – ada pemain sepakbola Indonesia yang sepintas ingin namanya ‘dipensiunkan’ oleh yang memiliki kuasa. Meskipun itu hanya satu. Atau mungkin hanya saya sendiri (ah, siapalah saya ini). Ini bukan soal melanggar hak asasi, tetapi lebih pada kebanggan berlebih mampu dikenang lewat nama.

Pesepakbola kita tidak butuh namanya diabadikan untuk menjadi sebuah nama jalan seperti pahlawan nasional. Penghargaan itu terlalu besar. Kalau memperhatikan nasib mereka di saat usia senja juga masih terlalu sulit, minimal perkenalkan dan sakralkanlah nama-nama seperti Maulwi Saelan, Ramang, Ronny Pattinasarani, Rully Nere, Thio Him Tjiang, dan kawan-kawan.

Dan teruntuk Messi Daniel Varela, selamat bersenang-senang dengan nama depan kerenmu!

 [author image=”https://pbs.twimg.com/profile_images/425874091170471936/Ita-7wPD.jpeg”]Ulwan Fakhri N. (@ulwanfakhri)[/author]

About bolarena 12 Articles
Kirimkan tulisanmu ke admin[at]bolarena[dot]com!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*