Surat Terbuka untuk Menpora, KRMT Roy Suryo

Yang terhormat Menpora KRMT Roy Suryo,

di Istanbul.

Pertama – tama izinkan saya mengucapkan, Hoş Geldiniz, Selamat Datang di Istanbul, dalam rangka Simposium PPI Eropa – Amerika 2013. Tetapi, jujur saja, dengan tema “Mengoptimalkan Peran Demokrasi dan Kemajuan Ekonomi Indonesia sebagai Modal Menjadi Bangsa yang Besar”, saya tidak mengerti mengapa anda hadir di simposium ini dengan kapasitas sebagai seorang Menpora. Untunglah, salah satu rekan saya pernah menulis artikel di Bolarena, yang menyatakan bahwa iklim ekonomi dan investasi yang sehat bisa membawa kemajuan persepakbolaan Indonesia, secara tidak langsung. Ah, saya mulai melihat hubungan antara tema simposium ini dengan kehadiran anda.

Dengan hadirnya anda di simposium ini, saya rasa tak perlu lagi anda membaca artikel teman saya itu. Anda pasti sudah paham betul bahwa iklim ekonomi dan demokrasi yang baik bisa membawa persepakbolaan, dan sektor olahraga Indonesia pada umumnya ke arah yang lebih baik. Jadi pertanyaan saya adalah, sudahkah anda melangkah ke sana? Sektor tekstil, telekomunikasi, periklanan, dan transportasi bisa memainkan peran penting untuk kemajuan olahraga Indonesia. Jika anda belum melangkah ke sana, maka kami mohon kepada anda untuk mulai menggalakkan kerjasama dengan pelaku usaha di sektor – sektor tersebut.

Saya dan rekan – rekan belum menjadi apa – apa. Kami hanyalah sekumpulan anak ingusan yang mencoba menjadi bagian dari evolusi sepak bola Indonesia. Ya, saya katakan evolusi karena perubahan yang terjadi di persepakbolaan Indonesia terasa lama sekali. Kami sebagai generasi muda sejak duduk di bangku Sekolah Dasar sudah akrab dengan nasehat bapak ibu guru yang menyatakan bahwa “Pemuda adalah pemimpin masa depan suatu bangsa”. Nasehat itu memang benar adanya karena mau tidak mau, kita yang masih muda sekarang akan menempati pos-pos penting dalam menjalankan Indonesia. Demi menyongsong masa depan itu Indonesia harus mampu menyiapkan para pemimpin-pemimpin ini.

Pemuda memiliki energi yang begitu besar dan jika tidak tersalurkan maka energi ini malah akan dimanifestasikan ke dalam kegiatan-kegiatan yang justru merugikan banyak pihak. Melihat angka kenakalan remaja yang begitu tinggi di Indonesia, maka hampir bisa kita pastikan bahwa ada kelebihan energi yang tidak sempat tersalurkan. Olahraga merupakan wadah yang pas untuk menyalurkan potensi ini. Sayangnya, olahraga belum benar-benar dimaksimalkan kegunaannya sebagai alat kontrol sosial di negara kita. Padahal, selain menyehatkan, olahraga juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dapat diperoleh dalam pelajaran di kelas, seperti, kerja keras, toleransi dan budaya fair play.

Oleh karena itu, kami mohon kepada bapak untuk bisa lebih mengembangkan pembinaan bakat olah raga di usia dini dengan mengadakan interaksi – interaksi maupun kompetisi – kompetisi yang dikemas dengan lebih menarik lagi, agar terjadi pemerataan prestasi di berbagai bidang olahraga di Indonesia. Semoga Indonesia tidak menjadi seperti Turki, yang kadang “kecolongan”, sehingga bibit – bibit mudanya diambil oleh negara lain, seperti Jerman, misalnya. Di sisi lain, Turki juga sempat melakukan naturalisasi pemain, yang sayangnya masih jauh dari kata berhasil.

Dan terakhir pak, saya tahu bapak tidak memiliki kuasa apa – apa atas PSSI, karena campur tangan pemerintah memang dilarang oleh FIFA. Tapi saya yakin, ada sesuatu yang bisa bapak lakukan untuk mengakhiri konflik yang terus terjadi di badan PSSI. Konflik di badan PSSI ini bukan hal baru loh, pak. Hal ini sudah terjadi semenjak tahu 1938. Belum lagi masalah kasus suap yang dicurigai terjadi di beberapa klub dan bahkan di tim nasional kita sendiri.

Menurut Mohamad Kusnaeni,Menpora Adhyaksa Dault (2004-2009) telah membuat sejarah dengan melahirkan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional. Andi Mallarangeng (2009-2012) juga mencatat sejarah lain dengan menjadi menteri aktif pertama yang jadi tersangka”, nah, jika anda berhasil membantu menyelesaikan konflik dalam tubuh PSSI, saya yakin nama anda akan dicatat dalam sejarah, karena sudah beberapa kali silih berganti orang yang menduduki posisi Menpora semenjak Indonesia merdeka, belum pernah ada yang berhasil membantu menghentikan konflik PSSI ini.

Semoga di bawah kepemimpinan bapak, cabang – cabang olahraga Indonesia bisa membedakan mana prestasi asli, mana prestasi abal – abal. Salam olahraga!

Hormat saya,

a.n. Bolarena dan pemuda – pemuda yang resah akan dunia olahraga Indonesia di Turki

About bolarena 12 Articles
Kirimkan tulisanmu ke admin[at]bolarena[dot]com!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*