Peng-kambing-hitam-an Wasit

Hi Barbarians! Beberapa waktu yang lalu, kru Bolarena berkesempatan untuk mewawancara seorang wasit muda yang tengah meniti karirnya, Danang Aji Setyawan. Silakan disimak!

Bolarena (B): Halo Mas Danang! Apa kabar nih mas? Sedang sibuk apa saja kalau kita boleh tahu?
Danang (D): Saya baru saja menyelesaikan studi S1 di Fakultas Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Semarang dan menjadi wasit di beberapa ajang olahraga.
B: Boleh dibagi ke Barbarians mas, gimana sih awalnya bisa berkecimpung di dunia perwasitan?
D: Sebelum memilih menjadi wasit, sebenarnya saya cukup aktif bermain sepak bola dan futsal, sayangnya pada Bulan April 2010, saya cedera lutut ligamen parah, sehingga saya berhenti bermain. Nah, kebetulan pada akhir tahun 2010, teman saya memberi informasi tentang penataran wasit sepak bola dan futsal, jadilah saya pergi dan mencoba untuk menjadi seorang wasit.
B: Bagaimana dengan cedera lututnya, mas?
D: Waktu itu saya sudah operasi lutut dan sampai sekarang masih terus terapi, agar performa saat memimpin laga tidak terganggu.
B: Semoga cepat pulihnya mas Danang 🙂
D: Terima kasih.
B: Apakah semua orang bisa menjadi wasit mas?
D: Semua orang bisa kok jadi wasit, tak harus memiliki latar belakang dari dunia olahraga. Tetapi tentunya saat sudah menjadi wasit harus mengerti pertandingan dan tugasnya dengan baik
B: Langkah – langkah apa saja tuh mas yang harus dilalui untuk menjadi seorang wasit profesional?
D: Harus rajin – rajin cek informasi dari pengurus PSSI daerah (kabupaten), provinsi, maupun dari khalayak umum. Karena masih belum ada jadwal tetap untuk penyelenggaraan sertifikasi untuk mendapatkan lisensi itu sendiri.
B: Ooo. Mas Danang sendiri memiliki lisensi wasit level apa?
D: Saya memiliki lisensi wasit sepakbola dasar (C3). Selain itu saya juga memiliki lisensi wasit futsal tingkat provinsi. Sejujurnya untuk saat ini saya lebih fokus ke arah wasit futsal, ketimbang sepak bola.
B: Mas Danang, kita penasaran nih, gimana sih rasanya memimpin suatu pertandingan besar? Saat pertama kali memimpin suatu pertandingan besar, apa sih yang mas Danang rasakan?
D: Awalnya pasti nervous, tetapi saya coba tenang dan tentunya tak boleh terbawa atmosfer pertandingan.
B: Apakah kesulitan terbesar menjadi wasit menurut mas Danang?
D: Menurut saya, salah satu kesulitan terbesar menjadi wasit adalah karena perbedaan penafsiran dari Laws of The Game FIFA yang belum dipahami sepenuhnya oleh pemain dan terutama suporter. Sehingga sedikit banyak membuat wasit sering dikambinghitamkan.
B: Seperti kasus besar yang baru – baru ini terjadi ya mas?
D: Iya, seperti itu lah.
B: Kira – kira adakah perbedaan menjadi wasit di dalam negeri atau luar negeri?
D: Menurut saya, perwasitan di Indonesia sudah mulai membaik, namun atmosfer suporter yang masih belum dewasa, lagi – lagi seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, membuat wasit masih sering dikambinghitamkan. Kesadaran akan fair play dan respect belum sepenuhnya dirasakan di dunia sepak bola/futsal Indonesia.
B: Apa rencana mas Danang kedepannya untuk profesi wasit ini?
D: Saya berencana untuk mengikuti penataran tingkat nasional, untuk mendapatkan lisensi dengan level yang lebih tinggi.
B: Terakhir mas, apakah ada pesan untuk Barbarians yang ingin menjadi wasit?
D: Tolong tumbuhkan kesadaran bahwa wasit adalah pengadil lapangan. Sebagai wasit, kita harus berusaha seadil mungkin saat memimpin suatu pertandingan.
B: Oke, terima kasih banyak mas Danang. Maju terus sepak bola Indonesia!
D: Sama – sama. Semoga Bolarena juga sukses kedepannya.

Barbarians! Itu tadi liputan wawancara kru Bolarena dengan wasit Danang Aji Setyawan. Karir di sepak bola tak hanya sebatas pemain dan pelatih saja. Elemen wasit dan hakim garis pun tidak bisa dikecilkan. Another career opportunities for those who can see it 😉

About bolarena 12 Articles
Kirimkan tulisanmu ke admin[at]bolarena[dot]com!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*