Mitos Gen dan Iklim Sehat Sepak Bola

Sepak bola Eropa sedang mengakhiri musim 2012-2013. Juara-juara baru muncul dari empat liga terbesar. Spanyol dengan Barcelona, Italia dengan Juventus, Jerman dengan Bayern Munich dan Inggris dengan Manchester United. Berita pensiun juga tak lupa ikut mengiringi akhir musim sepak bola. Sir Alex Ferguson menjadi yang terhangat sepanjang minggu kedua bulan Mei. Pelatih yang sudah berumur 71 tahun itu akhirnya memutuskan untuk berhenti dari jabatan pelatih.

Di samping beberapa berita tadi, tak lupa bintang-bintang baru bermunculan. Bale, Varane dan Hazard adalah salah tiga dari mereka yang paling menonjol. Eropa seakan tidak pernah habis akan bakat bola. Seperti kata pepatah mati satu tumbuh seribu. Pensiun satu tumbuh bakat-bakat baru yang siap menghibur para pecinta sepak bola.

Barbarians mungkin sempat terpikir bahwa pemain bola berbakat sudah menjadi gen orang-orang Eropa. Tak jarang orang mengecap bahwa kita-kita yang berasal dari Asia, khususnya Indonesia ini, tidak dilahirkan dengan bakat menggiring si kulit bundar. Apakah mitos ini benar? Mari kita selidiki bersama.

Sangat sulit untuk menghubungkan gen dengan bakat sepak bola. Gen adalah materi yang membawa sifat individu. Ketika manusia punya anak ia akan mewariskan sifatnya melalui zat kimia yang bernama DNA. DNA ┬ámanusia tidaklah mengatur bakat seorang bermain sepak bola. DNA hanya membawa sifat – sifat orang tua yang nampak seperti warna kulit, tinggi badan, warna rambut, bentuk mata, dll. Sepak bola di sisi lain adalah olah raga yang bisa dimainkan oleh setiap orang. Pelakunya pun terdiri atas siapa saja dari berbagai warna kulit dan bentuk badan.

DNA bisa ikut berperan pada bakat seorang pemain bola namun pengaruhnya tidaklah begitu signifikan. Pemain yang dilahirkan dengan tinggi badan kurang dari rata-rata misalnya, bisa menjalani latihan serius yang pada akhirnya dapat meningkatkan skill. Pemain yang mempunyai kekurangan dalam hal penglihatan dapat menggunakan alat bantu berupa kaca mata, seperti yang dilakukan oleh pemain Juventus era 90 an Edgar Davids.

Jadi pada akhirnya bisa kita simpulkan bahwa mitos gen sepak bola adalah tidak benar. Bakat bermain bola tidak serta merta turun di dalam garis keturunan sebuah bangsa. Berikut adalah dua faktor yang penulis yakini lebih berpengaruh pada berkembangan bakat sepak bola sebuah bangsa.

Investasi

Seorang pecinta bola bisa saja bersikap idealis dengan menyatakan bahwa hanya dibutuhkan sebuah bola dan gang kosong untuk menghasilkan pemain hebat. Namun pada kenyataannya hal ini tidak bisa benar-benar terwujud. Sepak bola memerlukan berbagai fasilitas mulai dari sepatu hingga stadion. Sepak bola juga memerlukan perserikatan agar pertandingan-pertandingan bisa berjalan lancar dan resmi. Contoh perserikatan ini adalah klub sepak bola dan asosiasi sepak bola.

Dengan berbagai kebutuhan yang ada maka diperlukan uang untuk mewujudkan iklim sepak bola yang ideal. Orang perlu menanam modal (baca : investasi) untuk membangun berbagai fasilitas tadi. Penanaman modal tidak harus berasal dari pemerintah, masyarakat maupun swasta juga bisa ikut serta dalam proses membangun iklim sepak bola ini. Apalagi dengan kondisi PSSI yang bobrok di Indonesia, aksi nyata dari pihak swasta dan masyarakat dirasa akan lebih memberikan efek positif pada iklim sepak bola Indonesia.

Penanaman modal sepak bola di Eropa sudah berlangsung lebih kurang satu abad. Walaupun tidak semua negara berhasil menyelenggarakan kompetisi sekaliber BPL atau Bundesliga, secara keseluruhan iklim sepak bola di Eropa amatlah sehat.

Akademi

Investasi saja tidak cukup untuk mengembangkan iklim sepak bola yang sehat. Akademi sepak bola juga berpengaruh besar pada produksi pemain muda berbakat. Investasi yang tidak dibarengi dengan pembinaan yang baik hanya akan membawa dampak positif jangka pendek.

Contoh yang ingin penulis sampaikan di sini adalah Turki dan Jerman. Dalam beberapa tahun terakhir klub-klub besar di Turki menghabiskan banyak dana untuk mendatangkan bintang bintang dari liga top Eropa. Wesley Sneidjer dan Dirk Kuyt adalah rekrutan paling anyar Liga Super Turki. Meskipun secara ekonomi hasil penjualan kaos dan penjualan tiket meningkat, mereka kecolongan pada pembinaan pemain muda.

Banyak talenta Turki yang justru berkembang di Jerman. Pemain seperti Mesut Ozil dan Ilkay Gundogan malah bermain untuk tim nasional Jeman. Jika Barbarians mau menyelidiki, komposisi pemain U23 timnas Jerman berisikan tiga orang Turki di starting eleven mereka. Salah satu dari tiga pemain tersebut bahkan mengenakan ban kapten pada lengannya.

Jadi, masih percaya bakat sepak bola hanya bisa diwariskan saja?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*