Di Balik Sukses Qatar Juarai AFC U-19

Qatar, Apa yang anda pikirkan tentang negara ini? Negara kaya? Tuan rumah FIFA World Cup 2022? Atau mungkin tulisan Qatar Airways yang sering kita lihat pada bagian depan jersey Barcelona? Juga mungkin nama Nasser Al-Khelaifi dengan Qatar Investment Authority-nya  yang mengakuisisi PSG dan kini disulap menjadi klub raksasa yang haus akan prestasi?

Qatar memang dikenal sebagai negara kaya; baru-baru ini CNN melangsirkan laporan negara terkaya di dunia pada tahun 2014 yang di peroleh dari PDB (Produk Domestik Bruto) per kapita. Negara Qatar dengan PDB US$ 93.352 berada di posisi ketiga sebagai negara terkaya di dunia setelah Luksemburg dan Norwegia. Ketiganya dinilai oleh bank dunia sukses mengelola kekayaan alam negaranya.

Qatar juga didapuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 setelah menang voting yang di lakukan di Zurich pada Desember 2010. Meski kini masih terjadi pro dan kontra perihal kemenangan bidding Qatar yang ditengarai penuh dengan kecurangan sampai dengan masalah cuaca yang kurang cocok bagi orang non-Asia, Qatar tetap pede untuk menjadi tuan rumah pesta akbar sepak bola yang diadakan setiap empat tahun sekali itu.

Bicara soal Piala Dunia, negara Qatar tak main-main, jika anda masih masih gagal move on melihat penampilan U-19 Indonesia yang under performance, hal sebaliknya terjadi pada timnas U-19 Qatar yang sukses lolos ke Piala Dunia U-20 dan sekaligus menjuarai turnamen AFC U-19 di Myanmar, setelah menang 1-0 melawan Korea Utara di partai final.

Kemenangan atas Korea Utara menjadikan Qatar untuk pertama kalinya menjuarai turnamen tersebut setelah 11 kali ikut; prestasi tertinggi sebelumnya hanya menjadi runner up pada tahun 1980. Hebatnya lagi, perjalanan timnas U-19 Qatar di AFC kali ini terbilang istiewa karena tak terkalahkan selama babak penyisihan dengan meraih dua kemenangan dan sekali imbang serta tak tak terkalahkan hingga mencapai final.

Apa Rahasia di Balik kesuksesan Qatar Juarai AFC?

“Di balik kesuksesan seorang pria ada seorang wanita hebat di belakangnya” meminjam pepatah tersebut sesungguhnya di balik kesuksesan Qatar menjuarai AFC dan bisa ikut dalam putaran final Piala Dunia U-20 adalah berkat ikut andilnya peran pemerintah dalam membangun budaya olah raga disana.

Lewat Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani perdana menteri Qatar sekaligus keluarga kerajaan, Qatar berinisiatif mendirikan sebuah pusat akademi olahraga bernama Aspire Academy, dengan fasilitas yang super canggih dan super mewah, Aspire Academy tak hanya menampung para putra putri terbaik Qatar namun juga dari seluruh dunia untuk bergabung dalam akademi tersebut. Aspire Academy sendiri fokus pada olahraga tim seperti sepak bola dan bola tangan.

Aspire Academy hampir setiap tahunnya mengadakan pencarian bakat ke 14 negara dan tak kurang menyeleksi hingga 600 ribu anak dari negara-negara seperti Afrika, Amerika Latin, dan kawasan Asia dan 20 pemain terbaik, yang diharapkan menjadi pemain profesional nantinya, berhak mendapat beasiswa.

Hasil dari Aspire Academy pun nyata, jikalau anda perhatikan nama pemain yang di bawa oleh Felix Sanchez Bas adalah pemain yang bermain di Eropa seperti dari penjaga gawang Youssef Hassan dan pemain tengah Nasser Ibrahim Al Nasr bermain di Virraeal B, lalu Abdulaziz Mahmoud Al-Khalosi, Ahmed Moein Doozandeh, Ahmed Al Saadi, dan Fahad Ali yang masuk dalam tim Reserve Eupen (Belgia), Jasem Omer bermain di Red Bull Salzburg U-19 , Tameem Al Muhaiza (Atlético Madrid C), Husam Kamal Hassanin dan Assim Omar (Auxerre C), Abdullah Ali (Real Madrid Juvenil B), Akram Afif (Sevilla U-19), hanya sisa 10 orang yang bermain di liga lokal Qatar.

Nama Indonesia di Aspire Academy

Seperti yang di ketahui Aspire Academy mencari bakat dari seluruh penjuru dunia, dari sekian banyak anak yang di jaring oleh pemandu bakat ada tiga nama yang berasal dari Indonesia yakni Farri Agri (Al Khor), Andri Syahputra (Al Gharafah), dan Khuwailid Mustafa (Lekhwiya SC) ketiganya pernah mencicipi Aspire Academy dan ketiganya berpotensi memperkuat timnas Qatar di masa depan. Aspire Academy juga memiliki proyek untuk menaturalisasi atlit bimbingan mereka, berbekal pada kelonggaran peraturan untuk menjadi warga negara Qatar. Biasanya butuh 25 tahun tinggal di Qatar untuk mendapatkan kewarganegaraannya, namun seorang atlet bisa menjadi warga negara Qatar meski belum tinggal di sana selama itu.

Atlet di Qatar saat ini memiliki posisi yang tinggi dalam kasta masyarakat di Qatar, khusus para pemain sepakbola mereka difasilitasi dengan latihan standar profesional, hotel mahal, supir pribadi, dan pakaian bermerk. Qatar menjamin penduduknya dengan standar hidup tertinggi. Siapa yang tidak ingin hal seperti itu?

Diluar akademi Aspire jika anda ingat-ingat dahulu mantan striker Werder Bremen yang asal Brasil, Ailton, pernah dibujuk untuk memperkuat Qatar, ada juga nama Sebastian Soria dari Uruguay yang sukses dinaturalisasi. Selain nama Soria, juga ada nama Marconi Amaral Costa dan Fabio Cesar Montezine, keduanya asal Brasil, serta gelandang berdarah Ghana, Lawrence Quaye, juga menjadi langganan timnas Qatar, belum lagi yang berasal dari kawasan Asia seperti Ibrahim Majid yang berasal dari Kuwait dan Abdulgadir Ilyas Bakur dari Arab Saudi.

Mimpi Eropa

Selain mengembangkan akademi, Aspire Foundation juga mengakuisisi sebuah klub di Belgia. Sejak Juni 2012 lalu, Aspire membeli klub K.A.S Eupen, klub ini diproyeksikan sebagai penampung pemain berbakat dari Aspire Academy. Pencetak gol terbanyak Qatar sekaligus top skor AFC U-19 dengan 5 gol Ahmed Al Saadi terdaftar sebagai pemain K.A.S Eupen.

Qatar sepertinya amat bernafsu untuk tampil hebat di Piala Dunia 2022 yang bakal digelar di negara mereka. Mereka merencanakan sedemikian matang dan hasilnya kini mulai dipetik oleh mereka dengan menjuarai AFC.

Indonesia sebenarnya melakukan cara yang nyaris serupa, mengirimkan atlit sepak bola berbakat ke S.A.D Indonesia di Uruguay lalu juga membeli klub C.S Vise dan juga Pelatihan Pusat Hambalang yang diproyeksikan untuk mengembangkan bakat atlit, namun sepertinya masih terjadi banyak kendala yang terjadi seperti S.A.D yang dibubarkan serta C.S Vise yang kini berhenti mengontrak pemain Indonesia karena jauh dari harapan, dan Pelatihan Pusat Hambalang yang lebih terkenal kasus korupsinya ketimbang pemgembangan atlitnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*