All Hail Joachim Löw

Pertandingan final Piala Dunia 2014 sudah memasuki babak perpanjangan waktu dan kedudukan sementara masih imbang, kedua tim, baik Jerman maupun Argentina, belum menciptakan satu gol pun. Dalam beberapa menit babak adu penalti bakal segera dilakoni jika kedua tim tetap bermain tanpa mencetak satu gol pun.

Pria berpenampilan modis dengan kemeja hitam dan lengan dilipat yang sejak awal pertandingan terlihat berdiri di pinggir lapangan dan sesekali memberikan instruksi itu menoleh ke arah bench timnya, ia tampak memanggil seseorang yang beberapa menit lalu ia suruh untuk melakukan pemanasan. Pemuda yang di panggil itu bernama Mario Götze. Asisten wasit kemudian mengangkat timekeeper dari sisi luar lapangan, sebuah pergantian pemain. Miroslav Klose yang di awal pertandingan digadang-gadang bakal kembali mencetak gol, seperti pertandingan sebelumnya, ternyata tak mampu menembus gawang Argentina yang dikawal ketat oleh Sergio Romero.

“Tunjukan kepada mereka bahwa Anda lebih baik (dari Messi) dan bisa jadi penentu di Piala Dunia”, ujar Pria berkemeja hitam yang sesekali menggarukan tangan ke arah hidung itu kepada Götze. Kalimat terakhir yang mengantarkan Götze masuk ke lapangan tersebut menjadi mantra kemenangan bagi Jerman – pada menit ke-113 atau 7 menit sebelum pertandingan perpanjangan waktu berakhir, sebuah gol tercipta dari kaki pemuda berusia 22 tahun yang baru masuk tersebut setelah terlebih dahulu menerima umpan dari Andre Schurrle. Jerman mengakhiri pertandingan dengan sebuah kemenangan sekaligus meraih titel ke-4 di Piala Dunia

Pria berkemeja hitam itu bernama Joachim Löw (yoa-kim-luv) atau yang lebih akrab disebut Jogi. Jogi yang kini berusia 54 tahun merupakan putra kelahiran Schoenau, sebuah daerah dengan penduduk 2300 jiwa di barat daya Jerman. Jogi berhasil mengakhiri perjuangan panjang tim nasional Jerman setelah terakhir menjuarai turnamen tersebut di tahun 1990 atau 10 tahun sejak Joachim Löw menjadi pelatih Jerman.

Jogi dan Inovasi

Karir kepelatihan Joachim Löw di timnas Jerman di mulai sejak tahun 2004 saat dirinya ditunjuk sebagai asisten pelatih Jürgen Klinsmann – alasan Klinsmann memilih Jogi adalah karena adanya beberapa persamaan yakni sama-sama berasal dari daerah barat daya Jerman dan sama-sama pernah sekolah kepelatihan di tempat yang sama. Terlepas dari kesamaan keduanya, nyatanya Klinsmann juga tertarik akan skema Jogi yang ingin merubah taktik bertahan Jerman, yang selama ini memberikan Jerman berbagai gelar juara (terakhir Jerman menjadi juara di tahun 1990 melawan Italia dengan gol dari titik penalti oleh Andreas Brehme di menit-menit akhir), dengan taktik baru yang lebih menyerang.

Pasangan Klinsmaan dan Jogi berhasil menunjukkan permainan tim sepak bola yang menghibur, meski tim nasional Jerman hanya berperingkat tiga di Piala Dunia 2006. Sejak tahun 2008, Jogi didaulat penuh sebagai pelatih utama setelah Klinsmann tidak memperpanjang kontraknya di timnas.

Di tangan Jogi, timnas Jerman menuai pujian karena berhasil menjadi runner up di Piala Eropa tahun 2008 dan membawa Jerman menjadi juara ke-3 di Piala Dunia 2010. Filosofi yang ia tanamkan menitikberatkan pada inovasi kehadiran banyak pemain muda yang akhirnya menjadi trademark andalan Jogi di setiap turnamen yang diikuti. Terbukti dengan sikapnya mencoret pemain berpengalaman seperti Michael Ballack dan Torsten Frings dalam squad yang ia bawa ke Afrika Selatan, meski sempat menuai kontroversi.

Dalam 10 tahun terakhir, ia konsisten memberikan kesempatan penuh kepada pemain muda untuk unjuk gigi di lapangan. Permainan menyerang yang ia terapkan terkadang menjadi bumerang bagi tim Jerman, namun di Piala Dunia kali ini ia berhasil memetik buah manis hasil usahanya. Dengan masuknya Mario Götze, untuk menggantikan Klose yang lebih senior, setiap keraguan yang timbul dari taktik racikannya terjawab sudah. Tim Jerman membawa pulang gelar Piala Dunia dan sekaligus menghapus kutukan bahwa tak akan pernah ada tim Eropa yang bisa bawa pulang piala Jules Rimet dari tanah latin.

Banyak yang bilang alasan dibalik ke-ngotot-an Jogi memakai pemain muda dalam list squad yang ia bawa di setiap turnamen adalah karena masa lalunya. Dirinya adalah mantan pemain sepak bola yang cukup cerah prospeknya, ia memulai debut di usia 17 tahun namun sayang ketika di usia 22 dia menderita cedera cukup parah, karena itu impiannya untuk menjadi pemain besar tak pernah kesampaian.

Jogi dan Gaya Hidup

Penampilannya selalu fashionable dan terkesan metroseksual, jauh sekali dengan kebanyakan penampilan rata-rata pelatih sepak bola, apalagi di Indonesia seringnya kita melihat pelatih sepak bola berperut buncit. Ditunjang berat badannya yang ideal, penampilan kasual dengan kemeja yang dilipat di kedua sisi lengan tangan terlihat sangat ideal untuknya. Jogi mengaku terinspirasi oleh gaya Klinsmaan. Terkadang ia mengenakan kemeja berwarna putih, meski kini ia lebih sering terlihat dengan kemeja hitam. Namun yang menjadi trademark Jogi adalah v-neck sweater yang membuat dirinya tampil lebih muda dari usianya yang kini sudah mencapai kepala lima.

Selain model pakaiannya yang necis, kedua tangan Jogi juga dilengkapi aksesori yang kece, arloji di tangan kanan dan gelang Shambala (dalam bahasa Sansekerta berarti kedamaian) di pergelangan kirinya, menurut Jogi, gelang tersebut dapat mengalirkan energi positif sehingga mampu membuat dirinya berpikir dengan jernih saat adanya tensi tinggi di tengah pertandingan.

Kebiasaan mengupil Jogi merupakan hal yang kontras bagi pelatih yang dikenal dengan dandanan pakaian yang necis dan rapi ini. Hobi anehnya ini sering menjadi bahan candaan yang ramai dibincangkan netter. Korban terbaru dari hobi joroknya adalah Cristiano Ronaldo yang menerima jabatan tangan dari Jogi setelah sebelumnya tangan tersebut dipakai Jogi untuk mengupil, adegan ini terekam di kamera yang jeli melihat momen tersebut.

Memang segala sesuatu di dunia itu tiada yang sempurna, pelatih yang karismatik pun nyatanya punya hobi jorok. Satu lagi kebiasaan buruk Jogi yaitu merokok, yang merupakan hal tabu bagi seorang olahragawan.

Jogi Gay?

Banyak yang menyangka Jogi adalah seorang gay, mungkin karena v-neck sweater yang sering dikenakannya. Terlepas dari itu semua, ternyata Jogi memiliki istri yang sudah lama menjadi pasangan hidupnya. Wanita beruntung itu bernama Daniela.

Daniela sudah di kenal oleh Jogi sejak tahun 1978, saat Jogi masih berusia 17 tahun dan Daniela berusia 15 tahun, saat Itu Jogi masih bermain di SC Freidburg. Meski pasangan ini tidak dikaruniai anak, namun tak pernah ada kabar tak sedap menghampiri pasangan tersebut. Ini sisi romantis dari seorang yang berpenghasilan US$3.6 million pertahun atau 82 kali lebih besar dari penghasilan rata-rata orang Jerman.

Akhir kata dengan segala kelebihan dan kekurangan seorang Joachim “Jogi” Löw, all hail Joachim Löw.

[author image=”https://pbs.twimg.com/profile_images/378800000737913217/eb1c9e50fb012af74cddb8ed152fe406_400x400.jpeg” ]Handy Fernandy (@handyfernandy) – Penghuni tetap tribun selatan Stadion Merpati Depok.[/author]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*