Segelas Bir Penuh untuk Tuan Julio

http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-2779640/Julio-Arca-The-former-Premier-League-star-pays-3-50-subs-turn-Willow-Pond-FC-second-division-pub-side.html

“Ini birnya, Tuan Julio”, ucap pelayan seraya menyodorkan segelas bir penuh berukuran pint (473 ml) ke salah satu pelanggan kedai pub yang baru saja duduk dengan keringat bercucuran. Si pelayan mengenal pelanggan tersebut, dia, Julio Arca, adalah salah satu pemain kesayangan publik Sunderland dalam hal sepak bola.

Julio Arca baru saja menjalani debut bersama Willow Pond FC, sebuah klub yang dimiliki oleh pemilik Willow Pond pub, pub yang sering disinggahi oleh Julio Arca. Julio menjadi pemain terbaik di debutnya, saat Willow Pond menang tipis 1-0 melawan Royal Marine FC. Kedua klub ini bermain di Sunderland Sunday League atau liga super duper antah berantah di Inggris di mana seorang tukang pipa, buruh pabrik, satpam hingga mahasiswa bermain bersama dalam satu tim.

Kemunculan Julio Arca sontak membuat kaget warga North East inggris karena Julio Arca merupakan salah satu cult hero di wilayah tersebut. Selama 13 tahun ia berkarir di Inggris, dirinya hanya bermain bagi dua klub yakni Sunderland dan Middlesbrough, namun kini ia telah turun kasta menjadi pemain amatir.

Julio Arca merupakan  mantan pemain timnas U-20 Argentina yang membawa Argentina menjuarai Piala Dunia U-20 setelah mengalahkan Ghana U-20 dengan skor 3-0. Namanya tercatat dalam label generasi emas persepakbolaan Argentina awal abad 21 bersama pemain lainnya seperti  Javier Saviola, Nicolas Burdisso, Maxi Rodriguez, Fabricio Coloccini, dan Wily Caballero.

Kedatangan Julio Arca ke tanah Inggris adalah berkat andil pelatih Sunderland saat itu, Peter Reid. Julio didatangkan dengan mahar senilai 3,5 juta Poundsterling dari Argentinos Junior dengan durasi kontrak lima tahun. Pemuda asal Quilmes, Argentina yang masih terbata-bata menggunakan bahasa Inggris itu berhasil mencetak gol di pertandingan debutnya. Sepanjang sisa tahun pertamanya, ia bermain di 3o laga dan sukses membawa Sunderland lolos dari zona degradasi. Julio Arca bermain di Sunderland selama enam tahun, kesetiaan Julio Arca terhadap Sunderland dia buktikan saat Sunderland terdegradasi di tahun 2003; banyak pemain Sunderland yang hijrah namun dirinya tetap memilih bertahan.

Kesetiaannya berbuah manis ketika Sunderland kembali lagi ke Liga Premier Inggris setelah dua tahun berkubang di divisi semenjana. Dirinya juga berhasil membawa Sunderland menjuarai Divisi Championship musim 2004/2005 dan masuk sebagai 11 pemain terbaik selama dua tahun berturut-turut yakni di First Division pada tahun 2004 dan Championship pada tahun berikutnya. Bersama Sunderland dirinya bermain sebanyak 167 kali dan total mencetak 23 gol.

Bulan madu antara Julio Arca dan Sunderland berakhir saat dirinya harus menerima kenyataan bahwa untuk kedua kalinya terdegradasi bersama Sunderland. Alhasil dirinya pun pindah ke tim rival, Middlesbrough, pada musim 2005/2006. Julio Arca bermain bersama Mark Viduka, Mark Schwarzer, Gaizka Mendieta, dan Lee Cattermole. Meski pindah ke tim rival, Julio Arca tetap menjadi player darling bagi fans Sunderland, saat derby Tees-Wear di Riverside, Julio Arca mengaku merasa terluka saat mencetak gol ke gawang Sunderland, meski begitu ia tetap bermain secara profesional.

Pada tahun 2008 pelatih Middlesbrough saat itu, Gareth Southgate, menjadikan Julio Arca sebagai kapten, hal ini didasari oleh kelebihan Julio Arca yang mampu bermain dalam posisi apapun; Julio sendiri memiliki posisi asli sebagai bek kiri namun dapat bermain sebagai pemain tengah.

Julio Arca lagi-lagi harus menerima kenyataan klub yang ia bela harus terdegradasi, kali ini bersama Middlesbrough dan menjadikan musim 2008/2009 sebaga musim terakhirnya bermain di Premier Inggris, tempat yang ia cita-citakan sebagai tempat bermain saat masih kecil. Pada musim 2010/2011 bersama Middlesbrough dirinya menjadi pemain terbaik pilihan fans dan rekan timnya. namun pada musim berikutnya dirinya lebih sering duduk di bangku cadangan di Middlesbrough. Klub asal Argentina, Boca Junior, sempat berminat mendatangkan dirinya, namun ia menolak meski tawaran gaji yang lebih besar datang untuknya. “There is more than money, I like it here”, ungkapnya.

Karir profesionalnya berakhir kala ia mendapatkan cedera kambuhan di tahun 2006 untuk kedua kalinya. Julio harus menutup karirnya di usia 32 tahun. Kini, ia dan istrinya, Valeria, serta dua putranya, Mateo dan Franco, tinggal di Ashbrooke. Julio mengaku amat mencintai daerah penghasil garam dan mineral di utara Inggris ini dan sudah ia anggap sebagai rumah keduanya. Bahkan, putranya, Mateo, memiliki paspor Sunderland.

Julio Arca kini tercatat sebagai “the next big thing” (dalam ambigu) pemain besar yang kini bermain untuk liga tarkam, menyusul nama beken lainnya seperti Nathan Porrit, mantan pemain Middlesbrough yang saat muda pernah diincar Chelsea era Mourinho, Ian Gibson, Gordon Jones, Terry Cochrane, David Mills, Mick Angus, Archie Stephens, Bernie Slaven, Craig Hignett, dan Curtis Fleming.

Meski kini Julio Arca hanya di bayar £3.50 (Rp 68 ribu) per pertandingan dirinya mengaku bahagia bermain di Willow Pond FC milik temannya. Belum ada konfirmasi yang jelas apa pekerjaan dirinya saat ini. Julio mengaku akan kembali ke tanah lahirnya sebagai pelatih sepak bola atau menjadi pandit di sana, namun saat ini biarkan Tuan Julio menikmati segelas penuh bir dahulu.

Sumber bacaan

Gazette Live

Chronicle Live

Daily Mail

Wikipedia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*