Gagalnya “Italian Job”

Bermain dengan tiki-taka dan serangan yang terorganisir membuat Barcelona berhasil mengembalikan ketertinggalan dari 2-0 di leg I melawan AC Milan.  Tak tanggung-tanggung, tim Catalan ini berhasil meyarangkan 4 gol tanpa balas ke gawang I Rossoneri .

Memang kemenangan 2-0 Milan di San Siro membuat mereka menyambangi Camp Nou, markas Barca, dengan kepercayaan diri yang tinggi. Di tambah di 12 laga terakhir sebelum melawan Barca, Milan tak sekalipun menelan kekalahan.  Kekalahan terakhir mereka adalah ketika menghadapi Juventus di Coppa Italia.

Sebaliknya Barca, setelah kekalahan pada leg I meraka harus kembali dipencundangi oleh rival abadinya, Real Madrid dua kali berturut – turut. Ini yang menambah luka dan hilangnya kepercayaan diri Barca sebelum melawat ke kota Milan. Ketidakhadiran Vilanova pun menjadi alasan menurunnya performa Puyol dkk.

Kontradiksi kepercayaan diri inilah yang membuat pertandingan tersebut menarik. Walau bermain di hadapan publik sendiri, Barcelona harus mencetak lebih dari 2 gol ke gawang tim sekelas AC Milan untuk melaju ke babak berikutnya. Di tambah meraka harus berkonsentrasi agar tidak ada satu gol tandangpun bersarang ke gawang Valdes. Ini adalah pekerjaan rumah yang berat, walaupun untuk tim sekelas Barcelona.

Menyadari hal itu, pelatih Milan, Massimiliano Allegri, membuat beberapa “Italian Jobs” agar dapat mencuri gol tandang pada pertandingan tersebut. Namun Italian job yang Allegri peragakan gagal membuahkan hasil.

Milan yang memainkan formasi 4-3-3, terlihat sekali ingin mencuri gol dari kecepatan El Shaarawy, Niang dan Boateng. Sebenarnya bukan tanpa alasan Allegri memainkan pola tersebut, karena sudah jelas Barca akan melakukan all-attack dari menit awal untuk mengejar ketertinggalan, Milan  mengharapkan hilangnya fokus Barcelona dalam bertahan dan mengandalkan counter-attack yang cepat.

Allegri pun berhasil memainkan pola tersebut sebenarnya. Beberapa kali El Shaarawy, Boateng dan Niang  mendapatkan peluang dari serang balik cepat Milan. Namun sayang, peluang-peluang tersebut tak bisa dikonversi menjadi gol.

Kunci utama dalam pertandingan tersebut adalah gol cepat Lionel Messi pada menit ke-5. Ini menyebabkan mental pemain Milan hancur berkeping-keping dan sebaliknya Barca kian pede untuk terus menekan di 85 menit terakhir. Terbukti tiga gol tambahan tercipta setelah itu.

Dalam Teori, Barca memainkan pola yang sama dengan AC Milan yaitu 4-3-3. Namun faktanya, pada pertandingan tersebut, mereka memainkan formasi 3-4-3 dengan menjadikan Daniel Alves sebagai flank di posisi kanan, di temani tiga maestro lapangan tengah, Busquet, Xavi dan Iniesta. Dengan tipe permainan penguasaan bola yang tinggi di lini tengah, Milan butuh lebih banyak pemain untuk memutus alur bola antar lini Barca.

Karakter yang di miliki Ambrosini, Flamini dan Montolivo tidak cukup membendung “arus deras” yang di lancarakan lini kedua Barcelona. Ambrosini yang kerap terlihat frustasi menutup pergerakan Messi. Bisa dikatakan, Messi menjadi pemain ke 5 yang mengisi lini tengah Barca. Bukan hanya kalah dalam skill antar individu, akan tetapi kalah jumlah pemain di lini tengah makin membuat Milan sulit keluar dari tekanan.

Ditambah tak adanya back-up dari lini depan Milan untuk melakukan press pada Busquet, Xavi dan Iniesta, memberikan banyak waktu untuk mereka  melakukan kreasi. Dengan hanya meninggalkan El Shaarawy saja sebenarnya Milan sudah bisa mencuri gol, namun Boateng dan Niang terlihat malas membantu lini kedua Milan dan berhasrat menjebol gawang Valdes. Namun hasrat pun tak cukup untuk mencetak gol dan memenangkan pertandingan. Kesabaran dalam bermain, instruksi yang tepat dari pelatih dan kepintaran membaca pertandingan adalah kunci dalam pertandingan besar.

Pertahanan Milan yang digawangi Zapata, Mexes, Abate dan Constant pun menjadi bulan-bulanan tim Blaugrana. Kecepatan dari dua sayap Barca, Pedro di sisi kiri dan Villa di sisi kanan tak bisa di tutup oleh Abate di kanan dan Constant di kiri. Walau Villa yang pada babak pertama tidak memainkan perannya dengan baik, namun dapat di tutup oleh majunya Alves sebagai sayap kanan tim. Pun demikian, Pendro yang kurang impresif, dapat ditopang oleh Iniesta pada sisi kiri.

Terlepas dari kesalahan-kesalahan yang di lakukan AC Milan, Barcelona pun layak diberi sanjungan atas penampilan gemilangnya. Penampilan gemilang Barca yang membuahkan kemenangan dan meloloskan mereka ke babak berikutnya, menjadikan kemenangan atas tim raksasa AC Milan sebagai kepuasaan yang tiada tara untuk pendukung Barcelona.

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*