Indonesia Belum Butuh Pujian!

Pujian adalah sesuatu pengakuan dan juga penghargaan yang tulus akan keunggulan terhadap sesuatu. Namun bagi saya, suatu pujian tak akan benar-benar dapat diterima sebelum sesuatu tersebut berada pada titik akhir dan akan lebih baik jika sesuatu target tersebut benar-benar terwujud.

Pujian untuk prestasi tim sepak bola junior kita yang berlaga di Milan Junior Camp Day dan berhasil menjadi kampiun dua tahun berturut-turut yaitu 2010 dan 2011 memang adalah hal yang dibenarkan. Juga, prestasi anak-anak Indonesia lainnya yang berlaga di Danone Nations Cup, yang diwakili SSB Tugu Muda, Semarang, berhasil finish di peringkat 8 dari 32 peserta. Pujian-pujian itu berhasil mereka dapat setelah minimal menyelesaikan tugas mereka dan juga meraih target mereka.

Banyak sekali faktor yang mungkin anda sampaikan kenapa tim nasional Indonesia tidak bisa berbicara banyak pada olah raga tersebut. Dari masalah kompetisi, pembinaan usia muda, infrastruktur, management, dan banyak hal lainnya. Namun bagi saya, hal-hal tersebut sudah menjadi suatu yang lumrah bagi negara Indonesia yang hitungannya masih terbilang negara berkembang.

Salah satu faktor lainnya yang mungkin bisa menjadi penghambat keberhasilan timnas Indonesia adalah pujian. Ya pujian. Pujian yang justru membuat Indonesia harus terdiam dan kembali menjadi cacian dan sindirian dari negara lain dan yang lebih pedih, dari masayarakat Indonesia sendiri. Glory hunter, menurut saya adalah hal yang sangat lumrah bagi semua pendukung sepak bola. Kondisi negara yang belum stabil, membuat masyarakat kita membutuhkan berita bahagia, prestasi, bukan hanya sekedar janji atau puja-puji temporer.

PHP atau pemberi harapan palsu adalah sikap yang sering kita dapat dari tim nasional Indonesia, baik tim senior, tim U-23, tim U-21, dan mungkin yang terjadi sebentar lagi U-19. Sudah lama sekali sepak bola Indonesia tidak merasakan gelar juara. Jangankan level dunia ataupun Asia, di level Asia Tenggara saja kita harus mati-matian untuk menjadi yang terbaik di level tersebut.

Jejaring sosial semacam Facebook ataupun Twitter, menggembar-gemborkan nama Evan Dimas dkk. atas pencapainnya lolos ke babak semi-final. Hanya sekedar mengingatkan, sudah berapa kali anda membaca status ataupun twit yang berbunyi “ Ayo Indonesia!” atau “INDONESIA MASUK FINAL!!!” ? Entah setan apa yang merasuki orang tersebut sampai menulis masuk final saja memakai CAPSLOCK GEDE-GEDE! *emosi. Namun kelanjutan dari status dan twit tersebut malah berhujung pada sindiran, kritik, dan bahkan penghinaan.

Dari mulai timnas zamanya Uston Nawawi, Bima Sakti, Kurniawan, hingga Boaz Salossa, Andik Vermansyah dan yang terakhir adalah kapten timnas U-19, Evan Dimas, semua digadang-gadangkan akan menjadi pemain yang bisa membawa Indonesia bangkit dari puasa gelar tersebut. Hasilnya? NOL BESAR! Sudah berapa kali final kita lalui dan hasilnya selalu menjadi yang kedua. Di duakan, sakit rasanya.

Melawan bekas negara sendiri, Timor Leste nanti malam, jelas Indonesia berada diatas angin. Namun jika melihat ranking FIFA, timnas Indonesia tak berbeda jauh dengan Timor Leste yang berada di urutan 182. Sedangkan Indonesia berada di urutan 170. Itupun ukuran timnas senior. Jadi bukan mustahil, level permainan Timor Leste bisa menyulitkan Indonesia nantinya.

Lolos menjadi runner-up grup neraka, memang menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi laga selanjutnya. Mengalahkan Brunei 5-0, Myanmar 2-1, Thailand 3-1 juga menahan imbang Malaysia 1-1, membuat Indonesia bisa menyingkirkan musuh bebuyutan mereka, Thailand dan Malaysia. Hanya Vietnam lah yang berhasil mengalahkan Indonesia dengan skor 2-1, yang membuat mereka juga melaju kebabak semi-final.

Sama halnya seperti senior-senior mereka, pemain Indonesia U-19 memiliki skill yang mumpuni, namun lagi-lagi stamina menjadi kendala utama. Stabil di 60 menit awal, namun lemahnya fisik dan stamina, membuat konsentrasi mereka hilang saat memasuki menit 60. Dan yang dapat terlihat jelas pada permainan kita adalah sifat egois yang masih tinggi dari setiap pemain.

Tidak bisa dipungkiri, keegoisan sudah selalu menjadi bagian dari temperamen anak – anak muda. Lebih memilih melakukan penetrasi langsung ke depan dan melakukan step-over yang menurut saya tak penting. Hal ini semakin menguras stamina dan tenaga garuda muda tersebut. Padahal dengan bermain pintar, yaitu memainkan operan pendek dan tidak terburu-buru melakukan serangan, akan membuat permainan Indonesia lebih mulus, secara keseluruhan.

Masih mentahnya permainan timnas Indonesia, ditambah jiwa muda yang menyebabkan egoisme dalam bermain dan diperparah dengan pujian-pujian yang makin membuat terlena para pemain dan juga staf pelatih, bisa menjadi boomerang yang menyebabkan Indonesia kembali gagal menjadi kampiun di ajang tersebut.

Bukan tidak mendukung Indonesia atau nasionalisme saya yang tak ada, namun percaya lah, Indonesia saat ini belum patut menadapat pujian dari kita. Kita tunggu saja sampai titik akhir perjuangan dan mereka benar-benar dapat membuat seluruh masyarakat Indonesia tersenyum! 🙂

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*