Ketika Profesionalisme Ronaldo Diuji (Lagi)

http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02479/Ronaldo1_2_2479217b.jpg

Duel panas antara Real Madrid dan Manchester United adalah salah satu laga akbar babak 16 besar Liga Champions tengah pekan ini. Pertandingan leg pertama yang akan digelar di Stadion Bernabeu menjadi laga yang ditunggu-tunggu seantero dunia. Fokus utama pada pertandingan tersebut adalah Cristiano Ronaldo. Pemain asal Portugal ini akan menghadapi mantan klubnya, Manchester United, untuk pertama kalinya.

Ronaldo yang dibeli Real Madrid dari United dengan mahar 80 juta Pound, yang menjadikannya pemain termahal di dunia hingga kini, akan di uji profesionalismenya saat menghadapi United. Memang ini adalah laga pertama Ronaldo mengadapi United, yang notabene eks-klubnya tersebut, akan tetapi ini bukan kali pertama Ronaldo mengadapi situasi “galau” seperti ini.

Pada tahun 2008 saat Ronaldo masih berseragam The Red Devil, ia pernah berhadapan dengan klub senior pertamanya, Sporting Lisbon. Meskipun di laga kontra Sporting Lisbon, baik di Old Trafford ataupun Estádio José Alvalade, Ronaldo mampu mencetak gol, ia tidak melakukan selebrasi sama sekali. Mungkin itu bisa menjadi salah satu bukti konkrit profesionalisme Ronaldo saat berjumpa tim yang pernah ia bela.

Apakah itu cukup untuk dijadikan bukti profesionalisme Ronaldo?

Belum. Sikap Ronaldo saat menghadapi Sporting bisa dikatakan sebuah indikator profesionalisme Ronaldo untuk United pada saat itu. Ronaldo menghabiskan 6 tahun di kedua klub tersebut, perbedaanya hanya terletak pada lamanya Ronaldo menjadi pemain senior di masing – masing tim. Hanya 1 tahun Ronaldo bermain di tim senior Sporting, sebelum hijrah ke United. Di United, ia langsung menjadi tim senior dan bertahan hingga kemudian ia bergabung dengan Real Madrid. Fakta ini mungkin saja menjadi alasan untuk ke-tidak-profesional-an Ronaldo. Mengapa?

Saat membela Sporting, Ronaldo mendapatkan banyak skill dan pengalaman baru. Tetapi di United, Ronaldo LEBIH banyak mencicipi pengalaman-pengalaman baru dan pastinya lebih bergengsi dari pada ketika berseragam Verde-e-Brancos. Debutnya di Liga Inggris, salah satu liga terbaik di dunia, dan Liga Champions, turnamen paling bergengsi di Eropa, menambah koleksi memori Ronaldo selama berseragam United.

Torehan yang ia raih di Sporting pun tidak sebanding dengan apa yang diraihnya di United. Bersama Sporting, Ronaldo hanya mengantongi 25 caps dan melesakkan 5 gol, sedangkan di United, 292 penampilan ia lakoni dengan torehan 118 gol. Di samping itu, tak ada satu pun gelar ia persembahkan untuk Sporting, namun untuk United, Ronaldo berhasil mempersembahkan banyak trofi, dari skala lokal di Inggris seperti Liga Inggris, FA Cup, Piala Liga (yang sekarang berubah nama menjadi Capital One Cup), Community Shield hingga Liga Champions dan bahkan Piala Dunia antar klub.  Trofi sebanyak itu masih belum disandingkan dengan pencapaian individu yang berhasil diraihnya, seperti PFA untuk pemain muda terbaik dan juga pemain terbaik di Liga Inggris. Puncaknya adalah ketika ia meraih Ballon d’Or, yaitu gelar pemain terbaik dunia pada tahun 2008.

Torehan – torehan ini adalah kenangan manis bagi Ronaldo, apalagi jika dibandingkan dengan memorinya bersama Sporting. Maka, mungkin saja laga melawan United menjadi momen yang emosional  untuk Ronaldo. Hal ini akan menjadi pembuktian kembali profesionalitas Cristiano Ronaldo ketika melawan tim yang telah memberikannya banyak memori indah.

Para pendukung Real Madrid, tentunya berharap Ronaldo tidak akan menjadi “lembek” di laga krusial tersebut. Apalagi melihat kedudukan Madrid di Liga Spanyol saat ini. Harapan Madrid untuk meraih gelar di musim ini, bisa dibilang, hanya dari kompetisi Liga Champions dan Copa Del Rey. Melihat performa Ronaldo di awal 2013 ini, bukan tidak mungkin ia akan mencetak gol pada laga tengah pekan ini. Hattrick ke gawang Sevilla akhir pekan lalu pun menjadi sinyal bagi Vidic, dkk. untuk waspada atas serangan Ronaldo. Tetapi yang pasti, Ronaldo sudah menegaskan bahwa dirinya tak akan melakukan selebrasi, jika seandainya ia mampu merobek jala gawang David De Gea.

Jadi, mari kita tunggu profesionalitas Cristiano Ronaldo di panggung 16 besar Liga Champions, apakah ia akan tetap segarang seperti ketika melawan musuh bebuyutannya, Barcelona, atau justru ia akan terlarut dalam aroma nostalgia.

 

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*