Kiprah Belanda di Khatulistiwa

Menghadapi Indonesia dalam laga uji coba Internasional adalah suatu tantangan tersendiri untuk pasukan Louis Van Gaal. Bukan karena peringkat Indonesia yang mendunia, atau pun angkernya Stadion Gelora Bung Karno, faktor cuacalah yang menjadi tantangan untuk Tim Nasional Belanda. Pertandingan persahabatan ini bisa dijadikan ajang latihan persiapan tim Belanda untuk Piala Dunia 2014 yang akan digelar di Benua Amerika. Brazil yang ditunjuk menjadi tuan rumah, memiliki kesamaan dengan Indonesia. Lagi-lagi bukan karena prestasi, namun semata karena iklim tropis yang menjadi ciri khas negara – negara di garis khatulistiwa.

Iklim tropis dan kelembaban udara yang tinggi, membuat Robin Van Persie, dkk. kesulitan melakoni laga tersebut. “Water Break” atau istilah lainnya Time-Out, menghiasi pertandingan tersebut. Beberapa kata yang terlontar dari komentar pertandingan yang mengatakan penting untuk kedua tim melakukan water break agar kedua tim terhindar dehidrasi, adalah, menurut saya, komentar terbodoh yang pernah saya dengar. Entah karena ia baru melihat pertandingan sepakbola atau sang komentator adalah seorang dokter gagal yang beralih profesi menjadi komentator. Pernahkah anda melihat pertandigan Persipura, Pesib, Persija atau tim mana pun di Liga Indonesia, entah ISL atau IPL, yang melakukan water break? Tidak pernah. Time out yang diberikan selama 2 menit di pertandingan Indonesia-Belanda, sangat janggal dilihat, karena sudah menjadi tugas Robben, dkk. untuk menyesuaikan diri pada iklim di daerah di khatulistiwa.

Terlepas dari masalah water break yang aneh itu, Indonesia bisa bersyukur hanya menelan kekalahan 0-3. Permainan Belanda di awal babak pertama memang kurang impresif. Beberapa peluang gol dari ujung tombang oranje, Van Persie, berhasil dipatahkan oleh Kurnia Meiga. Meskipun Belanda memainkan pemain – pemain bintangnya seperti Robben dan juga Sneijder, mereka masih terlihat kurang kreatif untuk menembus pertahanan Indonesia, khususnya pada area tengah pertahanan Indonesia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia bermain sangat disiplin di paruh pertama. Pertahanan pada sisi sayap dan juga lini tengah, berhasil membuat pemain Belanda kesulitan. Selain kedisiplinan lini tengah Indonesia, trackback yang dilakukan Sergio Van Dijk, membuat pemain Belanda tidak bisa berlama-lama menahan bola di lini tengah. De Guzman dan Sneijder terlihat beberapa kali melakukan tembakan jarak jauh, yang mengindikasikan rapatnya pertahanan Indonesia.

Namun demikian, kedisiplinan dalam bertahan tidak diimbangi dengan cara Indonesia membangun serangan. Indonesia hanya mengandalkan kecepatan pada lini depan, yang diisi Boaz Salossa, Greg Nwokolo dan Andik Vermasyah; sehingga serangan Indonesia mudah ditebak. Indonesia harusnya bisa keluar dari tekanan Belanda dengan melakukan link-up dari lini ke lini.

Di babak kedua, selain hilangnya konsentrasi, minimnya pengetahuan Indonesia dengan pemain-pemain diluar RvP, Robben, Sneijder, Heitinga dan De Guzman, juga membuat Indonesia merasakan kualitas menyeluruh dari Tim Nasional Belanda. Mungkin Jecksen F Thiago dan staf pelatih lupa bahwa ada pemain yang bernama Siem De Jong, pemain yang memakai nomer punggung 10 nan sakral di klub pencetak “daun muda”, Ajax Amsterdam.

Dengan perjalanan ini, setidaknya pemain Belanda memiliki sedikit gambaran bagaimana mereka harus bermain di Brazil nantinya, jika lolos ke putaran Final Piala Dunia 2014. Dan yang terpenting lagi, suatu kehormatan dan kebanggan bagi Tim Nasional Indonesia bisa menajajal kekuatan, Finalis Piala Dunia 2010. Dan berharap adanya perbaikan kedepannya untuk Tim Nasional Indonesia.

MAJU TERUS MERAH PUTIH!

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*