Krisis Sepak Bola Inggris

Pada artikel LordR sebelumnya, “Asal Usul Bola Sepak”, dijelaskan bahwa tentara Cina lah yang pertama kali memainkan sepak bola. Tsu Chu, yang menjadi sebutan awal olah raga tersebut, dimainkan oleh tentara Cina dengan membuat bulatan dari kulit hewan sehingga menyerupai bola dan adalah bagian dari latihan tentara Dinasi Han.

Selain Cina, Yunani juga memiliki sejarah atas permainan menggunakan bola, mereka menyebutnya Episkyros dan Romawi menyebutnya dengan Harpastum. Permainan di masa itu melibatkan 2 tim yang berhadapan di dalam lapangan berbentuk segi empat dengan garis tengah. Tujuan awal permaianan tersebut adalah menggiring bola hingga garis batas lawan.

Negara – negara asal permainan pra-sepak bola tersebut gagal menjadi basis lahirnya sepak bola moder. Inggris lah yang akhirnya berhasil menyempurnakan peraturan sepak bola. Semenjak FA didirikan pada tahun 1863, peraturan demi peraturan disempurnakan dan menjadikan sepak bola olah raga terpopuler di dunia hingga saat ini.

Namun itu hanyalah bagian dari masa lalu, sepak bola Inggris modern ini sedang mengalami krisis, atau bahkan mati. Jika memang Inggris dikatakan sebagai penemu dan penyempurna sepak bola, apakah kita bisa juga berkata bahwa Inggris merupakan tim terbaik di dunia sepak bola? Sudah tentu Barbarians tahu jawabnya. Tidak!

Keberhasilan Inggris di dunia sepak bola terbatas pada popularisasi dan komersialisasi olah raga tersebut. Konsep industri sepak bola benar – benar diperagakan oleh otoritas tertinggi sepak bola tersebut. Bahkan baru-baru ini tentang tiket pertandingan di Inggris mengalami kenaikan harga. Hal ini membuat kebuasan dan ke-esensial-an olah raga tersebut menghilang.

Keberhasilan klub – klub Inggris di dunia sepak bola berbanding terbalik dengan nilai jual Liga Inggris. Performa tim – tim Inggris di ajang Piala Champions juga menjadi bukti menurunnya kualitas sepak bola Inggris. Jika pun ada yang lebih berhasil, hampir 80% pemainnya berasal dari luar Inggris. Berbeda halnya dengan Spanyol dan Jerman yang terus menggenjot talenta – talenta muda berbakatnya, menjadikan mereka duta resmi dari klub asal Spanyol atau Jerman.

Bagaimana dengan tim nasional Inggris? Lebih memalukan! Terakhir kali Inggris merasakan Piala bergengsi adalah pada tahun 1966 pada ajang Piala Dunia. Inggris selalu gagal di ajang-ajang bergengsi seperti Piala Eropa dan Piala Dunia. Regenerasi pun gagal dilakukan Inggris. Tim Inggris gagal pada Euro U-21 di Israel, dan juga terancam gagal pada Piala Dunia U-20 di Turki.

Pada pagelaran Euro U-21 sebenarnya Inggris diperkuat bintang – bintang beken Liga Inggris semacam Steven Caulker, Andre Wisdom, Jonjo Shelvey, Jordan Henderson, Connor Wickham, dan pemain teranyar Manchester United, Wilfried Zaha. Inggris yang tergabung di grup A bersama Italia, Norwegia dan Israel, malah menjadi juru kunci grup tersebut. Hanya mencetak satu gol dari hasil 3 pertandingan, membuat Inggris makin dipertanyakan status kebintangannya.

Setali tiga uang, junior mereka juga mengalami kesialan yang sama. Inggris U-20 yang bermain pada Piala Dunia 2013 di Turki, tidak bisa meraih hasil maksimal hingga sekarang. Pada pertandigan pertama, Inggris yang bermain melawan Irak, sempat mengungguli Irak dua gol tanpa balas. Namun sayang, Irak berhasil mengejar ketertinggalan dan Inggris harus puas bermain imbang berkat gol Ali Adnan pada menit 90+3.

Krisis Inggris sudah parah. Hanya menunggu waktu kapan sepak bola Inggris akan mati. Kalau pun mati, mungkin ada beberapa sebagian orang berharap seperti mati suri. Mati dan akan hidup kembali, dan akan lebih memaknai arti hidup untuk kedua kalinya. Sebagai negara penyempurna sepak bola, seharusnya Inggris bisa lebih maju dan berprestasi dari negara-negara lain. Inggris butuh pembenahan organisasi dan bibit-bibit muda agar bisa mengembalikan posisinya sebagai kiblat sesungguhnya sepak bola, bukan Brazil, dan bukan pula tim matador, Spanyol.

Tahun 2013 mungkin bisa menjadi pembelajaran untuk tim nasional senior Inggris. Kegagalan Inggris U-21 dan mungkin U-20, bisa menjadi evaluasi dan menunjukan pada dunia bahwa sepak bola indentik dengan Inggris, dan juga sebaliknya. Tidak membutuhkan watu yang lama bagi kita untuk melihat jawab tersebut. Perhelatan Piala Dunia 2014 hanya hitungan bulan. Pembuktian Rooney dkk, di Brazil nanti, bisa menghasilkan 3 alternatif pilihan sepak bola Inggris, berjaya, kembali krisis atau bahkan mati.

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*