My Journey : Nista Tim Spanyol

Sebelum mengawali perjalanan ini, teman saya sempat berbagi pengalamannya bagaimana menonton Spanyol di EURO 2012 kemarin langsung di stadion. Pemain-pemain beken semacam Xavi, Iniesta, Fabregas, Silva dan Juan Mata justru mendapat sorakan setiap kali mereka memegang bola.

Rasa penasaran saya pun bergejolak. Boleh jujur, saya adalah orang yang menentang keras jika ada orang yang mengatakan bahwa tiki-taka yang diadopsi dari Barcelona, membuat permainan Spanyol menjemukan. Memenangkan kejuaraan Piala Dunia 2010, Euro 2008 & 2012, dan yang terakhir menjadi kampiun di Euro U-21, membuat Spanyol terus menjadi patokan sepak bola modern saat ini, walau kiprah mereka di Piala Konfederasi gagal saat dibekuk sang tuan rumah, Brazil.

Perhelatan Piala Dunia U-20 yang di helat di Turki, memberikan saya kesempatan untuk menyaksikan dan mengenal lebih jauh sepak bola Spanyol. Walau bukan Fabregas, Xavi atau Iniesta, namun mereka adalah bakal calon pemain bintang yang akan meneruskan prestasi senior mereka.

Suatu negara tidak akan memiliki perbedaan yang signifikan dari cara bermain baik itu dari tim junior, hingga senior. Jadi tiki-taka Spanyol, menjadi atraksi yang akan saya sangat tunggu-tunggu di pertandingan ini.

Bursa yang menjadi tuan rumah pertandigan Spanyol dan Uruguay ini adalah kota yang terletak di bagian barat Turki. Kota yang berpenduduk nyaris 2 juta jiwa ini biasanya dijadikan tempat wisata pada musim dingin untuk berseluncur (ski) di Uludag. Mungkin anda juga sudah pernah mendengar sebuah tim Turki yang bernama Bursaspor yang pernah meramaikan Liga Champions musim 2010.

Pertandingan Spanyol melawan Uruguay yang direncanakan mulai pada pukul 21.00 waktu Turki, membuat saya tidak terburu-buru datang ke Stadion. Tiba siang hari di kota Bursa, saya menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di sebuah mall Anatolium yang terletak tak jauh dari terminal bis tempat kedatangan saya.

Setelah makan dan beristirahat sejenak, akhirnya saya mulai menuju Ataturk Stadium, kandang dari Bursaspor dengan menggunakan tranportasi umum. Jarak yang tidak terbilang jauh, membuat saya tiba sangat cepat di depan stadion. Cukup lama saya menunggu untuk pintu stadion dibuka.

Akhirnya sekitar pukul 19.00 pun saya bisa memasuki stadion. Rumput lapangan yang sangat hijau, tribun yang cukup dekat dengan lapangan permainan, membuat saya makin tak sabar untuk melihat pertandingan tersebut.

Memang tak banyak pemain bintang yang menghiasi pertandingan ini. Mungkin untuk Spanyol anda cuma mengenal pemain Liverpool, Suso, dan pemain muda Manchester City, Denis Suarez. Atau mungkin anda juga baru mengenal bintang muda Real Madrid yang bersinar di turnamen ini, Jese. Untuk Uruguay hanya Guillermo Varela yang saya tahu karena menjadi salah satu rekrutan Mancester United musim ini.

Oleh karena itu, atmosfer penonton untuk datang dan menyaksikan pertandingan ini pun sangat minim. Padahal jika melihat sejarah turnamen ini, nama-nama seperti Maradona, Henry, Ronaldinho, Kaka, Forlan, Iniesta hingga Messi pernah menjadikan turnamaen ini sebagai batu loncatan mereka. Kedua tim mungkin hanya memiliki puluhan supporter, sedangkan penonton paling banyak berasal dari penduduk lokal dan penonton nomaden seperti saya.

Pertandigan pun dimulai. Kedua tim cukup banyak membuat kesempatan untuk mencetak gol. namun gagal pada babak pertama dan kedua hingga wasit harus melakukan perpanjangan waktu. Selama babak pertama dan kedua, Spanyol jauh unggul untuk pengusaan bola dengan 65 % berbanding 35 %.

Ya, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, tingginya penguasaan bola yang tinggi, operan-operan pendek antar pemain, membuat Spanyol U-20 ini tak berbedah jauh dengan permainan Xavi dkk. Namun lagi-lagi, sorakan dan cemoohan dari penonton dialami juga oleh junior mereka. Penonton lokal pun justru mendukung Uruguay yang kerap melakukan serangan secara frontal dan cara permainan itu lah yang digemari kebanyakan penonton.

Pemain muda Barcelona, Deulofeu, pemain muda Athletico Madrid, Oliver dan juga Jese dan Suso, hanya mampu memainkan bola di lini kedua Uruguay. Selain masih minimnya kreatifitas pemain Spanyol, disiplinnya pertahanan Uruguay membuat Spanyol kian frustasi dari menit ke menit. Hinaan, cercaan, dan sorakan pun makin keras terdengar. Hingga akhirnya pada menit 103, pemain pengganti Felipe Avenatti yang memiliki tinggi 196 cm ini, berhasil menjebol gawang Spanyol dan mengakhiri perjalanan manis sepak bola Spanyol.

Dengan perjalanan ini saya belajar bagaimana kemenangan tak harus di tempuh dengan permainan menawan, atau permainan menawan menurut kita, tak selamanya menarik bagi orang lain ini. Kaca mata berbeda yang menjadikan sepak bola modern terus berkembang secara stategi filosofi dan sosiologi, membuat olah raga tersebut semakin menarik.

Yang jelas bagi sebagian orang, sepak bola Spanyol mereka anggap sebagai sebuah kenistaan.

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*