Pengorbanan Shinji Kagawa Untuk Manchester United

Di arsiteki oleh pelatih baru, tentu terdapat perubahan baik secara kecil atau pun besar-besaran. Jawara Liga Inggris musim lalu pun merasakan perubahan, baik di intern klub, maupun dari sisi kita sebagai penonton yang menyaksikan permainan Manchester United musim ini. Apa yang diterapkan pada zaman Sir Alex Ferguson, perlahan demi perlahan mulai hilang. Performa MU tak apik lagi, tak ada drama Fergie time, dan tentunya perubahan strategi yang sering kali kurang nikmat untuk disaksikan.

David Moyes atau yang kini akrab dengan sebutan the chosen one ini, belum bisa memberikan sebuh karakter yang kuat pada klub. Moyes memilih untuk bermain aman dan menhindari perubahan strategi. Dan Shinji Kagawa termasuk bagian yang tidak terpisahkan dari transisi kepelatihan ini.

Musim lalu, Kagawa terbilang cukup baik untuk ukuran pendatang baru. Didatangkan dari klub juara Liga Jerman, Borussia Dortmund, Kagawa menjadi salah satu pilar penting yang berhasil membawa Die Borussen menjadi dua kali juara berturut-turut. Namun kedatangan Kagawa ke klub setan merah tidak langsung disambut tempat utama di squad. Faktor cedera pulalah yang membuat penampilan Kagawa tidak maksimal.

Namun mendekati akhir musim, Kagawa mulai menemukan performa terbaiknya. Terbukti pada pekan ke-28 saat menghadapi Norwich City, ia berhasil mencetak hattrick pada laga tersebut. Kagawa mengemas total 6 gol dan juga 3 assists dari 20 penampilan di Liga Inggris. Cukup fantastis untuk ukuran pemain yang baru beradapatasi dengan liga yang baru, ditambah harus beradapatasi dengan posisinya yang baru di Manchester United.

Mantan pelatih Kagawa, Jurgen Klopp, sempat prihatin dengan perlakuan Sir Alex yang memasang Kagawa pada sayap kiri United. Padahal Kagawa adalah tipe pemain #10 yang memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi untuk bermain di belakang striker. Memiliki dribbling yang baik, operan-operan yang akurat, serta terobosan yang mematikan adalah sekian alasan Klopp memasang Kagawa sebagai pemain lubang atau pun second striker. Dengan rata-rata pass accuracy sebesar 90%, Kagawa membuktikan diri sebagai penyambung serangan dari lini kedua, hingga kedepan.

Kesadaran akan mautnya duet Van Persie dan Wayne Rooney membuat Kagawa harus rela mengorbankan posisinya demi kepentingan tim. Walau sebenarnya Kagawa bisa dimainkan sebagai gelandang serang dibelakang Van Persie dan Rooney, Sir Alex tidak mau mengambil resiko dengan hanya mengandalkan Michael Carrick sebagai benteng pertama dalam pertahanan. SAF memilih duo central midfielder yang mampu memutus serangan lawan dalam tempo yang cepat karena keroposnya lini belakang United di musim-musim lalu . Cleverley lah yang ditunjuk SAF untuk menemani Carrick ketimbang Kagawa yang memiliki naluri bertahan yang buruk.

Meski sudah bermain pada sayap kiri posisi Kagawa musim lalu tak kunjung aman. Welbeck yang ditransformasi oleh SAF, kini menjadi pemain yang bisa bermain lebih melebar di posisi sayap kiri. Walau tidak banyak mengukir gol pada musim lalu, penampilan Welbeck cukup merepotkan pertahan lawan dengan tusukan-tusukannya dan ia kerap memiliki kombinasi yang baik bersama Van Persie dan Rooney di lini depan. Lagi-lagi Kagawa harus bersabar untuk merebut tempat utama the red devil.

Musim baru, harapan baru. Tampil secara regular, banyak mencetak gol, banyak menyumbang assists dan banyak memberikan gelar bagi klub, jelas menjadi harapan Kagawa untuk memulai musim. Tapi kenyataan pahit lah yang ia terima pada musim ini.

Hanya tampil 1 kali dari 8 pertandingan yang United jalankan, jelas mengubur satu persatu harapan yang sudah Kagawa impikan. Apa dosa Kagawa? Memilki masalah dengan Moyes kah? Atau ini karma? Yang jelas saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kerap pendukung Manchester United samapaikan mengapa Kagawa masih terus menjadi benchwarmer United.

Miripnya keadaan tim dengan musim kemarin bisa menjadi jawaban mengapa Kagawa belum bisa dimainkan. Musim ini pun, duet Van Persie dan Rooney masih menjadi duet yang menakutkan. Jumlah 7 gol sudah mereka lesakkan dalam 8 pertandingan Liga Inggris. Pilihan bermain dibelakang Van Persie dan Rooney pun akhirnya hanya menjadi fantasi liar untuk Kagawa.

Menjadi penyerang lubang yang berdiri diantara dua striker pun Kagawa gagal. Duo Fellaini-Carrick, Cleverley-Carrick, Anderson-Carrick dan juga Giggs-Carrick, masih menjadi pilihan teratas Moyes pada lini tengah. Alasan yang sama ketika di zaman SAF, Moyes ingin meng-cover duet Vidic dan Ferdinand yang mulai uzur. Dan lagi-lagi Kagaw tidak masuk dalam nominasi dalam kategori tersebut.

Bagaimana dengan posisi sayap kiri? Mungkin Adnan Januzaj adalah orang yang paling Kagawa benci saat ini. Out of nowhere, Janujaz tiba-tiba menjadi the rising star United dimusim ini. Percaya diri yang tinggi, skill dribbling yang tak kalah dengan Kagawa, dan yang terpenting, dua gol Janujaz ke gawang Sunderland, mengantarkan United meraih poin maksimal pada laga itu.

Haruskah Kagawa hengkang dan mudik ke Dortmund? Setidaknya mari berharap semoga performa apik Kagawa pada saat menjadi starting XI melawan Real Sociedad tengah pekan kemarin, membuat David Moyes terus memutar otak untuk menemukan skema yang tepat, dan memaksa nama Shinji Kagawa masuk dalam jajaran pemain Manchester United.

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*