Surplus Produksi Pemain Spanyol

Jika melihat 20 atau 10 tahun kebelakang, mungkin judul artikel ini tidak relevan. Kita harus mengganti subjek dari kalimat tersebut menjadi Brazil. Ya, Brazil di era 90 hingga 2000-an awal, banyak memproduksi pemain-pemain sepak bola berbakat. Bahkan sejak pertama kali Brazil menjuarai Piala Dunia tahun 1958, tak henti-hentinya Brazil mencetak pemain sepak bola bertalenta.

Hingga hari ini, pemain Brazil pun terus bergelimang di dunia persepakbolaan. Sebut saja David Luiz, Oscar, Lucas Moura hingga Neymar. Namun bisa dikatakan, prestasi dan permainan Brazil tidak terlalu memuaskan. Brazil terakhir kali mendapatkan gelar di tahun 2009, itupun hanya sebuah Piala Konfederasi yang menjadi ajang pemanasan negara-negara sebelum Piala Dunia digelar.

Julukan produsen pemain bola tidak pantas diberikan untuk Brazil kali ini, melihat menurunnya prestasi tim nasional Brazil. Menurut data FIFA pun, ranking Brazil saat ini merosot tajam ke urutan 22 dunia. Individu-individu yang berhasil di level klub, masih belum bisa diredam egonya dan diharmonisasikan di level negara.

Berbeda dengan Brazil, kali ini Spanyol berhak atas julukan negara produsen pemain sepak bola nomor satu. Juara Piala Eropa pada tahun 2008 dan 2012, serta menjadi kampiun di Piala Dunia 2010, mengisyaratkan kiblat sepakbola dunia kali ini adalah Spanyol. Dua ajang yang sedang berlangsung sekarang, yaitu Piala Konfederasi di Brazil dan Piala Eropa U-21 di Israel, kembali menjadi ajang unjuk gigi kehebatan negara Spanyol.

Spanyol U-21 yang lebih dulu memulai turnamen, berhasil lolos ke babak final melawan Italia. Pemain-pemain seperti David De Gea, Montoya, Bartra, Thiago, Isco, Munian, Tello dan Morata adalah sejumlah nama pemain yang memiliki level berbeda dari pemain – pemain lain di turnamen tersebut. Permainan gemilang mereka di level klub sebenarnya sudah menunujukkan kelayakan untuk bergabung dengan tim nasional Spanyol senior.

Namun tampaknya masih butuh waktu beberapa tahun kedepan untuk mengimbangi level permainan Xavi, dkk. De Gea masih belum ada apa – apanya dibandingkan Casillas di bawah mistar gawang. Thiago dan Isco, masih belum sekompak Xavi dan Iniesta di lini tengah tim matador. Dan Tello dan Morata masih belum semenakutkan David Villa dan Fernando “El Nino” Torres.

Selain produksi pemain yang begitu banyak, penerapan strategi dan kemampuan berganti posisi dari setiap pemain, membuat permainan Spanyol tidak monoton. Ditambah strategi false 9, yang tidak menempatkan penyerang murni, membuat Vicente Del Bosque tidak perlu khawatir dengan cedera atau mandulnya pemain depan mereka.

Bermain di tim utama, menjadi impian setiap pesepakbola pada umumnya. Apalagi Piala Dunia yang hanya menyisakan kurang dari 365 hari, membuat setiap pemain ingin memamerkan kehebatannya masing-masing. Bukan tidak mungkin, jika diizinkan oleh FIFA kelak, Spanyol bisa mengirimkan 3 atau bahkan 4 tim nasional Spanyol untuk berlaga di ajang Piala Dunia.

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*