Terlambatnya “Gigitan” Liverpool

 Hasil imbang 2-2 melawan Liverpool, membuat Chelsea semakin terancam posisinya di big four Liga Inggris setelah pada pertandingan sebelumnya, Arsenal dan Tottenham memetik kemenangan atas lawan-lawannya. Pertandingan yang dimainkan di stadion kebanggaan Liverpool, Anfield, berjalan cukup menarik dan seru.

Banyak sorotan-sorotan sebelum pertandingan ini dimulai. Selain kembalinya (lagi) Torres ke mantan klubnya tersebut, juga banner yang bertuliskan “success has many fathers” dengan wajah Bill Shankly, Bob Paisley, Joe Fagan, Kenny Dalglish dan Rafa Benitez. Nama terakhir, yang kini menjadi manager interim Chelsea, juga melakukan comeback ke ex-klubnya tersebut.

Terlepas dari itu semua, banyak kejadian yang benar-benar mempengaruhi hasil akhir dalam laga tersebut.

Sturridge sang super-sub

Sebutan itu pantas disandang Sturridge dalam pertandingan ini. Keputusan manajer Liverpool Brendan Rodgers memasukkan Sturridge untuk mengganti Coutinho yang bermain kurang impresif pada babak pertama adalah sebuah keputusan brilian. Di samping keberhasilannya mencetak satu gol dan satu assist, masuknya Sturridge mengubah alur permainan Liverpool, khususnya pada menit 60 ke atas.

Masuk pada babak kedua, Sturridge langsung melakukan ancaman ke gawang Peter Chech pada menit ke 46 setelah melakukan tembakan dari luar kotak penalti, sayangnya tendangan tersebut membentur tiang gawang. Dalam keadaan tertinggal 1-2, Liverpool berganti taktik dengan menukar posisi Sturridge dengan Downing yang menempati sayap kanan. Sisi kiri pertahanan Chelsea yang dikawal oleh Ryan Bertrand adalah titik lemah pertahanan Chelsea pada pertandingan semalam. Selain tidak adanya trackback dari lini kedua di sisi tersebut, faktor minimnya pengalaman Bertrand juga turut berperan. Hal ini tidak disia-siakan Rodgers. Ia menukar posisi Sturridge dengan Downing, agar serangan dari sisi kanan Liverpool menjadi lebih eksplosif. Tipikal ultra-attack pada diri Sturridge dan Glen Johnson, membuat Bertrand kalang kabut membendung serangan mereka.

Gigitan” Suarez

Yang paling menjadi buah bibir di media-media sekarang adalah gigitan yang dilakukan striker Liverpool, Luis Suarez, terhadap Branislav Ivanovic. Insiden yang terjadi pada menit 73 ini, bisa dikatakan sebagai reaksi frustasi Suarez yang gagal menang duel dengan Ivanovic.

Bisa jadi rasa frustasi Suarez adalah akumulasi dari insiden penalti untuk Chelsea yang disebabkan oleh dirinya. Suarez melakukan handball di dalam kotak penalti 5 menit setelah Liverpool berhasil menyamakan kedudukan 1-1, yang berawal dari umpan cantiknya.

Namun dari berbagai Suarez incidents tersebut, gol pada menit ke-96 adalah hal yang menjadikan Suarez dijuluki from zero to hero. Gol tersebut menjadi “gigitan” bukan hanya untuk Ivanovic, tapi juga untuk Chelsea.

Dengan atau tanpa gigitan, peran Suarez dalam pertandingan semalam jelas tidak bisa diabaikan. Dan mungkin saja, gol Suarez pada menit 96, adalah bentuk penghormatannya pada korban JFT 96, selain denda dari klub atas gigitannya yang disumbangkan kepada Hillsborough Family Support Group.

About Ibnu Sina Meliala 27 Articles
A man, who has spent his entire life, so far, wasted with mostly watching and playing football. Not until recently he realized that he should try writing and make a living out of football. You will definitely love him.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*