Keluhan Kecerdasan Pemain

Atribut penting seorang pemain bola tidak hanya terletak pada teknik, stamina, dan power saja. Seorang pemain juga harus bisa mengoptimalkan kinerja otaknya. Salah satu hal mengapa kaum manusia dinyatakan memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya tak lain karena otak, atau dalam kata lain akal. Memang belum ada manusia yang sanggup memaksimalkan kinerja otak seratus persen. Tapi tanpa otak, manusia akan seperti robot yang bergerak monoton, tidak ada improvisasi dan adaptasi.

Otak sendiri juga memiliki peran yang vital dalam proses belajar, baik itu skill atau teknik baru maupun pemahaman akan strategi yang diterapkan oleh pelatih. Seseorang yang bisa memaksimalkan kinerja otak akan bisa meningkatkan skill secara pesat saat dibarengi dengan latihan dan bimbingan.

Menurut saya ada dua tipe pemain, pemain yang bermain dengan otak dan tanpa otak. Perbedaan dua tipe pemain ini pun terlihat jelas ketika berada pada pertandingan. Pemain tanpa otak hanya akan mengejar kemana bola berlari tanpa melakukan analisis dan mengatur startegi. Sementara itu, pemain dengan otak akan bermain tenang sembari menganalisis dan mengatur strategi, meminimalisir kelemahan dan mengoptimalkan keunggulan. Bayangkan sekarang, jika satu tim berisikan pemain tanpa otak permaianan mereka akan berantakan seperti ayam-ayam mengejar satu makanan.

Baik, kita terlahir dengan multiple intelligence, yaitu visual-spatial, bodily-kinesthetic, musical, interpersonal, intrapersonal, lingusitic, logical-mathematical. Namun sejalan dengan waktu multiple intelligence ini runtuh satu per satu karena kurangnya penggunaan di beberapa intelligence dan tersisa hanya di intelligence yang sering digunakan.

Rahasia pengembangan intelligence adalah dengan game bukan dengan instruksi latihan. Pelatih sepakbola mengembangkan intelligence para pemainnya dengan cara mengaplikasikan permainan dengan situasi yang berbeda, sehingga memaksa para pemain untuk mengambil keputusan cepat dan mengubahnya ke dalam sebuah aksi.

Pelatih sendiri bisa memberikan sebuah pertanyaan yang telah didesain untuk sebuah game dengan lapangan kecil sehingga mereka bisa menemukan jawaban atas pertanyaan pelatih didalam game kecil itu. Dengan begini lah, bukan dengan mematuhi terus menerus instruksi pelatih, para pemain bisa mengembangkan intelligence mereka dalam permaianan.

Seperti apa itu pemain ber-intelligence:

  • Memahami bagaimana membaca situasi permainan dalam waktu yang cepat, menganalisis dan memecahkan dengan cepat.
  • Mengetahui kapan dan kemana harus memberikan umpan dan kapan tidak.
  • Selalu tenang meskipun berada dalam situasi yang sulit.
  • Menggunakan pengalamannya untuk menakomodasikan ruangan yang tersedia baginya dan merubah jarak antara dirinya dengan teman sendiri maupun lawannya.
  • Berani untuk mengambil resiko, tapi mengetahui bagaimana menyeimbangkan resiko dengan keamanan.
  • Menggunakan teknik dan skillnya untuk keuntungan tim.

Sungguh, tanpa mengurangi rasa cinta dan hormat saya, sepak bola Indonesia membutuhkan pemain yang dapat menggunakan otaknya. Dan hal ini hanya bisa terwujud dengan pembenahan sistem pengembangan para pemain. Sistem ini bisa diadopsi dari negara-negara eropa maupun asia seperti Jepang atau Korea Selatan. Tapi tetap harus dibarengi dengan tenaga kerja yang competent.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*