Mental Tempe

Kronologi

1984    Metz menelan kekalahan 4-2 dari Barcelona di laga pertama ajang European Winners Cup, berhasil mengeliminasi Barcelona di laga kedua meski sempat tertinggal satu gol diawal pertandingan, dengan skor akhir 4-1 untuk Metz. Aggregate skor 6-5, Metz berjaya.

1999    Juventus berhasil membawa keuntungan dari away goal dikandang Manchester United diajang Semi Final Champions League. Di laga kedua, dua goal Inzaghi dalam kurun waktu 11 menit, menambah besar kesempatan pasukan Zebra menuju Final, dengan unggul aggregate goal 3-1. Tapi berkat goal Roy Keane, Dwight  Yorke dan Andy Cole, Pasukan Setan Merah berhasil unggul 3-2 dalam pertandingan itu dan mengambil tiket Final dari tangan Juventus.

1999    Manchester United tertinggal 0-1 dari Bayern Munich di Final UEFA Championship League. Pertandingan didominasi oleh Bayern Munich dan skor masih sama sampai menit akhir sebelum injury time. Tapi satu menit seblum injury time, Teddy Sheringham berhasil membombol gawang Bayern Munich, skor berubah menjadi 1-1. Api pasukan Setan Merah belum padam, selang beberapa menit kemudian, Ole Gunnar Solskjaer menerima umpan tendangan sudut Beckham dan melayangkan bola ke gawang Bayern Munich. Dan pertandingan berakhir dengan skor 2-1, Manchester United berhasil membalikan keadaan dimenit-menit akhir dan membawa pulang piala Liga Champion.

2005    Liverpool tertinggal dari AC Milan dengan skor 0-3 di Final UEFA Championship. Skor tak berubah sampai akhir babak pertama yang membuat para supporter berpikir bahwa pertandingan sudah berakhir. Tapi kemudian Liverpool menunjukan mental juaranya, dan berhasil membobol 3 gol ke gawang AC Milan dalam kurun waktu 6 menit. Skor berakhir 3-3 sampai extra-time. Sekali lagi, Liverpool membuktikan dirinya lah yang pantas menjadi Juara dengan memenangkan adu penalti yang berakhir dengan skor 3-2. Jerzy Dudek berhasil memblok dua tendangan penalti, Liverpool dengan kemenangan ini berhasil membawa piala Liga Champion ke-5 nya ke kandang mereka.

Barbarians itulah sedikit dari banyaknya peristiwa-peristiwa yang banyak orang menganggap sebagai sebuah keajaiban atau keberuntungan. Tapi saya tak percaya dan tak mau menerima dengan hal keajaiban atau keburuntungan yang banyak orang sebut. Bola itu bundar, kita tak tahu kemana arah bola akan berputar. Ini juga berlaku untuk hasil pertandingan. Betul dan saya setuju kalau Barbarians bilang Skill, Teknik, dan Fisik merupakan faktor penentu hasil akhir atau kesuksesan sebuah tim. Tapi ada satu faktor penting yang tak banyak orang memahami perannya dalam menentukan keberhasilan sebuah tim, faktor ini adalah mental.

Barbarians mau bukti? lihat bagian awal tulisan ini, peristiwa-peristiwa di atas adalah bukti konkret betapa kuatnya mental sebuah tim atau pemain-pemainnya. Disini kita akan membahas beberapa kunci yang mempengaruhi mental pemain.

Kepercayaan diri

Orang yang mempunyai kepercayaan diri yang rendah, umum dengan kesulitan untuk mengekspresikan diri, lebih suka diam dan tak ingin menjadi bahan perhatian. Maka dari, banyak orang yang tak suka dengan hidupnya karena tertekan dengan kehidupannya yang membosankan, terlalu banyak menyimpan permasalahan atau ide di dalam dirinya tanpa menyalurkan hal itu ke luar. Orang seperti ini susah ditebak, apa yang bisa dia lakukan, apa yang dia inginkan, apa yang cocok baginya, dll. Orang yang mempunyai kepercayaan diri rendah adalah orang yang takut dengan dunia, takut kehilangan, takut dengan sekelilingnya, sehingga potensi dirinya terkubur dalam tak terlihat oleh mata. Terus, apa hubungannya dengan sepakbola? Pemain-pemain bola berlatih setiap hari untuk mempertajam skill, teknik, dan fisik. Pemain-pemain ini pastinya memiliki potensi, dan setiap potensi pemain berbeda-beda. Tapi ketika kepercayaan diri seorang pemain turun, seberapa tingginya potensi seorang pemain, dia akan hanya menjadi beban bagi timnya karena tak bisa memaksimalkan kemampuannya. Ini sering terjadi ketika berhadapan dengan lawan tim yang kuat, atau berhadapan dengan pemain yang memiliki skill dan teknik yang lebih bagus. Bagaimana saya bisa mengalahkan tim sebagus ini? atau bagaimana saya bisa menang dengan pemain A ini yang sudah meraih banyak penghargaan? Pertanyaan seperti ini adalah awal dari runtuhnya kepercayaan diri seseorang, dan ketika dia sudah mulai mempertanyakan dirinya, maka dead end, sudah mati pemain itu. Kepercayaan diri yang rendah hanya akan membawa pemain bola profesional menjadi pemain amatir yang hanya bisa menendang bola tak tahu arah kemana, dan berlari kosong tak tahu tujuan.

Hasil Akhir

Hasil memang penting dan sangat berpengaruh bagi sebuah tim, baik itu untuk pemain maupun managemen tim. Tapi terlalu fokus akan hasil, hanya akan mengarah ke kekhawatiran. “Bagaimana kalau kita kalah? Bagaimana kalau hanya berakhir seri? Bagiamana kalau kita kalah telak? ooo sungguh memalukan.” hal-hal seperti inilah yang akan membawa sebuah tim di ujung kehancuran. Sepakbola adalah permainan bersama bukan permainan individu, dan hasil akhir tak bisa ditentukan hanya dengan komposisi pemain sebuah tim. Kekhawatiran yang disebabkan karena terlalu banyak memikirkan hasil akhir akan membuat pemain banyak melakukan kesalahan. Ini dikarenakan kepala pemain sudah penuh dengan ‘sampah’ yang membuatnya kehilangan fokus dalam bermain. Ingat, hasil akhir yang bagus hanya bisa diraih jika proses bermain sebuah tim memuaskan. Jadi hal yang paling penting disini adalah proses. Proses bagaimana sebuah tim berusaha untuk melakukan yang terbaik demi meraih hasil akhir yang diharapkan. Dan proses ini bukan dilalui dengan memikirkan hasil akhir, tapi dengan berpikir bagaimana saya bisa memaksimalkan kemampuan saya 100% untuk tim ketika bermain.

Takut Gagal

Kita adalah manusia yang lemah, tak sempurna, rawan melakukan kesalahan. Tak ada bedanya juga dengan seorang pemain sepak bola, yang juga manusia. Ketika seorang pemain memiliki ketakutan untuk melakukan kesalahan, didalam dirinya akan muncul keraguan dan keraguan ini lah yang menyebabkan kesalahan yang ditakuti menjadi kenyataan. Seorang pemain harus bermain penuh keyakinan dan determinasi. Tak ada waktu untuk berpikir “kalau kayak gini ntar jadinya kayak gini” atau “tapi ga kayak gini ntar jadinya kayak gini”, pemain lawan sudah bisa mencetak banyak gol ketika anda selesai berpikir. Kita manusia belajar dari kesalahan, kesalahan adalah langkah awal menuju keberhasilan. Pemain sepakbola tak boleh takut dengan kesalahan. Nikmati permainan, layaknya seorang anak kecil yang hanya ingin memuaskan dirinya tanpa memikirkan apa pun, yang penting puas.      

Apakah pemain-pemain Indonesia memiliki permasalahan dengan mental mereka? Silahkan Barbarians sendiri lah yang memutuskan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan tersebut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*