Sistem Akademi AJAX Bagian 2

Bagian pertama dari seri Sistem Akademi Ajax dapat dilihat di sini.

Datangnya Johan Cruyff ke Barcelona sebagai seorang manager pada tahun 1988-1996, membawa pengaruh besar di tubuh Barcelona. Penerapan sistem akademi muda Ajax yang diasosiasi Barcelona, merupakan efek dari datangnya Cruyff. Pep Guardiola, Cesc Fabregas, Lionel Messi, Andreas Iniesta, Xavi Hernandez, Gerard Pique, dan Pedro Rodriguez merupakan beberapa dari banyak pemain hasil dari penerapan sistem Ajax di tubuh Akademi muda Barcelona yang dikenal dengan nama La Masia.

Dalam sistem akademi Ajax, para pemain diklasifikasikan menjadi 4 grup, yaitu: grup 8-12 tahun, grup 12-14 tahun, grup 14-16 tahun, dan 16-20 tahun. Tim utama masing-masing grup memiliki 16 pemain yang terdiri dari 2 kiper, 4 pemain berkaki kanan, 4 pemain berkaki kiri, dan 3 pemain central back dan 3  striker. 4 pemain berkaki kanan mengisi posisi bek kanan, sayap kanan, dan wing kanan. Sementara 4 pemain berkaki kiri mengisi posisi bek kiri, sayap kiri, dan wing kiri. Setelah melakukan seleksi yang ketat, pemain muda berumur 7 tahun yang berhasil lolos tahap seleksi berhak memakai jersey Ajax dan masuk ke grup 8-12.

Grup 8-12 tahun memiliki pola latihan dan aktivitas berbeda dengan grup lainnya. Latihan dan aktifitas di buat agar anak-anak belajar sepak bola dengan cara yang menyenangkan. Pelatih koordinasi memberikan 6 aktifitas berbeda kepada pemain-pemain muda di grup 8-12 tahun. Pola latihan fokus ke empat area, yaitu footwork (gerak kaki), balance (keseimbangan), rhythm (ritme), dan penggunaan kaki kanan dan kiri.

Secara keseluruhan, sistem yang diterapkan Ajax fokus ke 8 area yang berbeda. 8 area itu terdiri dari Teknik, Taktik, Know-How (pengetahuan umum), latihan lari dan kekuatan, pembentukan pesonality dan karakter, coaching situation, training, dan pertandingan. Grup 8-12 lebih difokuskan ke arah teknik, para pemain dilatih untuk bisa mengontrol bola menggunakan setiap bagian kaki dan dari segala arah.

Teknik

Target area latihan ini adalah mengajarkan pemain untuk bisa menggunakan kedua kaki di berbagai bagian kaki, dari kaki luar, kaki dalam, hingga kaki bagian tengah. Selain itu, para pemain akan memiliki pass dan shoot yang akurat dan mampu melakukan cross bola dari berbagai arah dan posisi. Pemain pun diajarkan teknik mengambil bola dari lawan, melindungi bola, menyundul bola, melakukan throw-in, dan menendang penalti.

Taktik

Pada sesi ini, pemain diajarkan bagaimana mencari posisi dalam pertandingan, baik memanfaatkan lebar lapangan atau celah kosong. Para pemain pun dilatih untuk bermain dengan posisi yang berbeda.

Know-How

Para pemain tidak hanya dilatih untuk bisa melakukan pass, shoot, atau cross. Akan tetapi mereka juga diajarkan tentang peraturan-peraturan sepakbola, bagaimana menjaga kondisi badan dan juga pentingnya sepatu ketika bermain.

Akademi Ajax tidak banyak menerima pendaftaran pemain dari luar. Mereka lebih cenderung mendapatkan para pemain dengan mengirim scout mereka ke belahan Negara Kincir angin dan negara lainnya. Ajax mengakui bahwa tidak mudah untuk memilih pemain muda yang memiliki talent dan potensi. Perbedaan perkembangan mental dan linkungan menjadi faktor dalam memilih pemain muda Ajax, disamping teknik dan skill. Sejauh ini banyak negara-negara yang mulai mengembangkan sepak bola mereka dengan membangun Youth Academy, misalnya Jerman. Indonesia pun baru-baru ini mengaplikasikan suatu sistem yang diberi nama “Konsep Rekrutmen dan Pelatihan Pemain Usia Muda Tingkat Elite”. Konsep ini dimulai dengan pendirian 3 Akademi pada awal Juli 2012 yang terletak di Padang, Malang, dan Manokrawi. Semoga sistem ini berhasil dan membuahkan bibit-bibit unggul yang membawa persepakbolaan Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*