Soccer Freestylers ain’t Soccer Player

Freestyle soccer sudah ada di tahun 1900-an, namun namanya meraih popularitas di tahun 2000-an bersama dengan icon freestyler seperti Ronaldinho, Ronaldo, Robinho, Edgar Davids, C. Ronaldo, dll. Saya bisa menyebut bidang ini sebagai salah satu cabang turunan dari sepak bola dibandingkan sebuah hobi. Sama halnya dengan sepak bola, bola menjadi objek penting cabang olahraga ini.

Seiring dengan memuncaknya popularitas sepak bola freestyle, kerap kali orang berpikir bahwa freestyler adalah pemain sepak bola. Atau dengan kata lain, freestyler handal itu handal juga dalam bermain sepak bola. Banyak memang icon-icon freestyle sepak bola yang juga adalah pemain sepak bola profesional seperti nama-nama pemain sepak bola profesional beken yang saya sebutkan diatas. Tapi kenyataannya sangat berbeda, jago dalam freestyle belum tentu handal dalam bermain sepak bola bahkan hingga ditawari kontrak oleh sebuah klub untuk menjadi pemain profesional. Setelah melakukan beberapa riset, nama-nama freestyler handal seperti Billy Wingrove dan Jeremy Lynch (yang tergabung dalam Duo the f2), Abbas Farid, Hee Young Woo, John Farnworth tidak memiliki background atau pengalaman bermain dalam sebuah klub sepak bola profesional maupun semi-profesional- kecuali Billy Wingrove dan Hee Young Woo).

Bayangkan saja Barbarians, seorang yang jago dalam bermain sepak takraw ataupun futsal, bisakah langsung kita anggap handal juga dalam bermain sepak bola? Memang ada kemungkinannya, tapi kemungkinan itu tidaklah besar. Pemain sepak bola bisa kita kategorikan menjadi dua, pemain sepak bola yang menjadikan sepak bola sebagai profesi dan pemain sepak bola yang bermain sepakbola hanya karena suka dan hobi. Orang-orang yang masuk ke dalam kategori pertama, benar-benar memusatkan tenaga dan karir mereka untuk bermain sepak bola dan permainan mereka bisa dikatakan jauh diatas rata-rata. Sementara itu, orang-orang yang masuk ke dalam kategori kedua, bermain bola hanya untuk kesenangan, pelepas stres, dan hobi. Disamping itu, kemampuan orang dalam kategori kedua ini biasanya dibawah rata-rata atau tepat di garis rata-rata, teknik seperti menendang bola, mengumpan bola ke teman, heading, dan dribble mereka kuasai namun tak melebihi standar yang diperlukan untuk menjadi pemain sepak bola profesional (katakanlah kemampun mereka sebatas “ok” untuk bermain sepak bola).

Memang perkataan Billy Wingrove bahwa freestyle sepak bola meningkatkan teknik, skill, agilitybalance, koordinasi tubuh, dan kontrol bola itu benar. Tapi semua itu tak cukup untuk menjadikan freestyler seorang good or even better soccer player. Teknik para freestylers memang breath taking dengan kecepatan kaki mereka mengolah bola lincah tanpa kehilangan sentuhan dan kontrol bola. Namun sepak bola adalah hal yang berbeda. Pertama, permainan sepak bola bukanlah permainan individu melainkan permainan bersama. Kedua, teknik freestyle tak banyak bisa digunakan dalam pertandingan nyata karena sepak bola bukanlah ajang individual show off, kerjasama menghasilkan permainan indah dan teknik seperti pass dan shoot dengan accuracy lebih dibutuhkan. Ketiga, untuk bisa menjadi pemain sepak bola dalam kategori pertama (profesional), skill, technique, mental, dan physique harus di miliki, di bina dan melebihi rata-rata orang normal. Freestyler tak bisa menjadi pemain sepak bola profesional karena mereka mengolah bola hanya sebatas suka dan hobi. Disamping itu mereka masih kurang dalam hal seperti fisik, mental, teknik dan skill.

Jadi Freestylers bukanlah Soccer Player, tapi Soccer Player bisa menjadi Freestylers. Jago freestyle belum tentu jago main sepak bola. Bukti nyatanya ya seperti yang sudah disebutkan tadi, Barbarians!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*